Unduh Aplikasi

Mengungkap Dugaan Rekening Basah di Bank Aceh Syariah

Mengungkap Dugaan Rekening Basah di Bank Aceh Syariah
Foto: Net

BANDA ACEH - Jumat (11/9) sekitar pukul 11.00 WIB, Kantor AJNN kedatangan tamu seorang pria kurus tinggi. Ia adalah Yusrizal, tamu yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Dengan memakai baju kaos dan celana jeans dengan menjinjing tas kecil, tamu tersebut mengungkapkan adanya dugaan pencucian uang di Bank Aceh Syariah.

Yusrizal merupakan abang kandung Rizki, seorang pelayanan kantor cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara.

Seperti dikutip di RMOLAceh.id, Rizki diminta bantuan untuk membuka rekening di Bank Aceh dan menerima transfer sejumlah uang ke rekening tersebut. Permintaan itu keluar dari mulut Deddy Nofendy, Kepala Kantor Cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara.

Namun karena status Rizki sebagai pegawai di Bank Aceh, mereka memutuskan untuk pembukaan rekening atas nama ibu kandung Rizki, Yusnamurti.

Alasan Rizki bersedia memenuhi permintaan itu karena permintaan itu atas dasar membantu meningkatkan pendapatan perusahaan. Perintah itu membuatnya merasa berguna sebagai pesuruh di kantor itu.

Setelah membuka tabungan itu, Rizki terperangah melihat jumlah yang masuk ke Ibunya, Yusnamurti. Dia juga tak pernah menyangka “memiliki” uang sebesar itu dalam tabungan ibunya.

“Jumlahnya 1,9 miliar (rupiah),” kata Rizki, di sebuah warung kecil di kawasan Amaliun, Medan, Sumatera Utara, Ahad dua pekan lalu, seperti dilansir di RMOLAceh.id

Rekening itu dibuka pada 28 Juni 2019. Namun, Rizki mengaku tak pernah menerima buku rekening dan kartu ATM.

Di hari yang sama, juga di kantor cabang Bank Aceh yang sama, rekening itu menampung uang sebesar Rp 1,9 miliar. Empat hari kemudian, rekening itu menerima uang bagi hasil dari penyimpanan itu sebesar lebih dari Rp 500 ribu.

Sebulan kemudian, rekening Yusnamurti kembali mendapatkan setoran dari bagi hasil sebesar Rp 5,2 juta. Jumlah bagi hasil yang masuk ke rekening Yusnamurti, dari bagi hasil, di Agustus berkurang menjadi Rp 4,8 juta.

Pada 11 September 2019, Yusnamurti mengalihkan uang sebesar Rp 1,9 miliar, ke sebuah rekening di bank milik Badan Usaha Milik Negara. Usai dana besar itu beralih, bagi hasil di rekening Yusnamurti menyusut menjadi Rp 1,6 juta pada akhir September dan Rp 35 ribu di bulan berikut.

Buku tabungan itu baru diterimanya beberapa bulan lalu. Dia lantas mencetak rekening koran tabungan ibunya. Rizki baru menyadari bahwa uang yang pernah melintas di tabungannya berjumlah fantastis. Rizki mengaku hanya menerima Rp 2 juta dari dana bagi hasil uang di rekening ibunya itu.

Masih dikutip dari RMOLAceh.id, Humas Bank Aceh, Riza, mengatakan setiap nasabah yang menabung dalam jumlah besar harus mengisi formulir khusus. Di sini, tertulis asal sumber uang yang akan ditabungkan.

“Kalau soal rekening basah, itu kami tidak tahu. Mungkin saja pemilik rekening menerima warisan,” kata Riza, Senin, 24 Agustus 2020.

Pernyataan Humas Bank Aceh itu membuat Yusrizal geram. Ia tak menyangka kalau bank milik Pemerintah Aceh itu malah menyudutkan keluarganya.

Bahkan, gara-gara pernyataan itu membuat nama keluarganya tercemar. Seharusnya Bank Aceh harus menjelaskan ke publik permasalahan itu, bukan malah menyudutkan keluarganya yang tidak tahu apa-apa dari mana sumber uang yang cukup besar itu.

"Saya minta Bank Aceh Syariah harus mengusut tuntas masalah ini, bukan malah menyudutkan keluarga kami dengan menyebut itu uang warisan," tegas Yusrizal kepada AJNN.

Untuk mencari tahu siapa pemilik uang yang sangat besar itu, Yusrizal langsung berangkat ke Banda Aceh untuk bertemu dengan pimpinan Bank Aceh Syariah.

Rabu (9/9), Yusrizal akhirnya berhasil bertemu dengan pimpinan bank tersebut. Pertemuan berlangsung di Kantor Pusat Bank Aceh Syariah di Bathoh. Yusrizal mengaku bertemu dengan Direktur Operasional Bank Aceh Syariah, Lazuardi dan Ketua SKAI, Samsul.

Namun ia sangat kecewa dengan pernyataan pimpinan bank itu. Dimana meminta dirinya untuk bersabar karena sedang mengumpulkan data.

“Saya datang untuk mempertanyakan masalah ini, tapi pihak bank bukan membuat saya tenang, malah mereka meminta kami untuk sabar karena sedang dikumpulkan data. Pertanyaan saya data apa yang dikumpul, tinggal buka server, pasti semua ada disitu,” kata Yusrizal.

Selain itu, ia menilai pihak Bank Aceh Syariah tidak fokus untuk mengungkap siapa pemilik uang yang jumlahnya sangat besar itu. Malah pihak bank lebih fokus ingin mencari tahu siapa oknum yang membocorkan data tersebut keluar.

“Mereka (Bank Aceh Syariah) lebih fokus menyelesaikan masalah internal, bukan mencari tahu siapa pemilik uang itu, makanya saya bilang jawaban mereka tidak menenangkan untuk kami, makanya saya minta kasus ini harus diungkap, jangan orang tua saya yang menjadi korban,” tegasnya.

Yusrizal juga mengungkapkan ketika kasus ini mencuat ke publik, petugas bank tersebut sempat datang ke rumah untuk bertemu dengan ibunya. Dimana pihak bank meminta ibunya untuk menandatangani satu surat yang tidak ada pertinggal untuk keluarganya.

“Kebetulan saya tidak ada di rumah, ibu saya mana paham masalah itu, umur saja sudah tua, anehnya tidak ada pertinggal untuk kami surat yang diteken ibu saya itu, saya juga mempertanyakan surat yang diteken ibu saya itu,” ungkapnya.

Menurutnya kalau kasus tersebut merupakan kasus besar yang harus diungkap oleh pihak bank. Ia merasa tidak tenang dengan kejadian itu, dimana pihak bank harus berhasil mencari tahu siapa pemilik uang tersebut, sehingga keluarganya bisa tenang.

“Kalau itu uang transaksi narkoba seperti apa, atau uang korupsi, bisa-bisa orang tua saya yang menjadi korban. Makanya saya minta ini harus diungkap. Jangan hanya fokus siapa yang bocorkan data, tapi ungkap dari mana uang itu,” tegas Yusrizal.

Kemudian, ia juga meminta kepada pimpinan Bank Aceh Syariah untuk mengungkap siapa aktor yang mendesain sehingga kejadian seperti ini bisa terjadi. Pasalnya kejadian ini akan menjadi catatan buruk bagi bank tersebut.

“Semua harus terbuka lebar, siapa aktor utamanya, kemudian siapa pemilik uang itu, dan kemana uang itu ditranfer selanjutnya. Saya tegaskan bahwa itu bukan uang warisan, orang tua saya tidak memiliki uang sebesar itu,” kata Yusrizal, seraya mengaku kalau memang uang warisan dirinya pasti mengetahuinya.

Sementara itu, Direktur Operasional Bank Aceh Syariah, Lazuardi yang dikonfirmasi AJNN terkait pertemuan dengan Yusrizal. Namun hingga berita ini diunggah, Lazuardi tak kunjung membalas pesan singkat yang dikirimkan via WhatsApp.

Komentar

Loading...