Unduh Aplikasi

Menguji Konsistensi Dakwah Muhammadiyah

Menguji Konsistensi Dakwah Muhammadiyah
Logo Muhammadiyah
DI usia yang sangat muda, Kiai Haji Ahmad Dahlan meninggalkan kampung halaman menuju Mekah. Di kota suci ini, dia belajar tentang pembaharuan Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah.

Hanya lima tahun di sana. Dia kembali ke kampung halamannya pada 1888. 14 tahun kemudian, dia kembali ke Mekah dan berguru kepada Syeh Ahmad Khatib. Nama ini juga menjadi guru pendiri Nahdlotul Ulama Kiai Haji Hasyim Asyari. Saat kembali ke Yogyakarta, pada 1912, dia mendirikan Muhammadiyah.

Ahmad Dahlan juga pernah masuk ke Boedi Oetomo. Organisasi yang melahirkan banyak tokoh nasional. Keilmuan dan keberadaannya di Boedi Oetomo sangat berkesan bagi anggota organisasi itu. Sehingga beberapa orang menyarankan Ahmad Dahlan untuk membangun sendiri sistem pendidikan yang rapi, berbeda dengan sejumlah pesantren tradisional yang terpaksa ditutup saat pimpinannya meninggal dunia.

Langkah ini ditindaklanjuti Ahmad Dahlan dengan mendirikan sebuah organisasi bernama Muhammadiyah, tepat pada 18 November 1912. Organisasi ini bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi inilah Ahmad Dahlan memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam. Bahkan Madrasah Muhammadiyah tercatat sebagai sekolah resmi pertama yang dikelola oleh pribumi dengan menerapkan sistem modern, saat itu.

Ahmad Dahlan mengajarkan Alquran dengan terjemahan dan tafsir. Alasannya untuk menghindarkan masyarakat dari ketidakpahaman terhadap isi ketimbang melagukan ayat-ayat suci tersebut. Di sekolahnya, Ahmad Dahlan juga mengajarkan ilmu pengetahuan modern dan Bahasa Belanda.

Sejumlah pembaharuan itu dianggap menyimpang dari kebiasaan masyarakat setempat. Akibatnya, Kiai Ahmad Dahlan kerap diteror. Diancam bunuh atau rumahnya dilempari kotoran binatang. Bahkan dia disebut kiai palsu saat berdakwah di Banyuwangi, Jawa Timur.

Hal yang sama, kurang lebih, dirasakan oleh kader-kader Muhammadiyah di Bireuen, saat ini. Ketika rencana mereka mendirikan masjid ditolak oleh masyarakat dengan alasan yang kurang lebih sama; bukan ahlu sunnah wal jamaah.

Sebagai seorang Muhammadiyah, harusnya tantangan ini dijadikan alat untuk berdakwah ala Muhammadiyah. Penolakan terhadap pembangunan masjid ini harus disikapi dengan cerdas. Mungkin dengan tidak langsung membangun masjid megah. Ini adalah saat yang tepat bagi kader Muhammadiyah untuk mencari metode pembaharuan, ala Ahmad Dahlan, agar masyarakat di Bireuen dapat menerima keberadaan organisasi ini tanpa sak wasangka.

Perjuangan Muhammadiyah berangkat dari pendidikan. Bahkan "Sang Pencerah" tak sekali pun menulis kitab atau buku-buku agama. Karena progresivitas dakwah Muhammadiyah tak terbendung oleh halaman-halaman dalam buku dan kitab, apalagi hanya sebatas bangunan masjid.
Iklan Pemutihan BPKB- Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...