Unduh Aplikasi

Mengubur Sejarah

Mengubur Sejarah
Menggali bunker peninggalan Jepang yang dikubur untuk pembangunan jalan di Lhokseumawe. Foto: Safrizal

ACEH memiliki banyak situs bersejarah. Berabad-abad kebudayaan bercampur dan meninggalkan jejak yang panjang. Dalam era modern ini, peninggalan-peninggalan itu adalah “harta karun” yang dapat mendatangkan devisa negara.

Caranya tentu saja dengan mengemas peninggalan tersebut menjadi paket wisata. Menawarkan perjalanan wisata terintegrasi dengan penginapan dan kunjungan ke lokasi wisata lain. Atau dengan memberikan insentif kepada pemerintah desa mengelola situs-situs bersejarah dengan tetap memberikan pendampingan dan ide-ide baru untuk memperbarui pelayanan kepariwisataan.

Sayang, hal ini tidak banyak dilakukan. Bahkan di saat pemerintah di kabupaten dan kota memiliki kewenangan penuh untuk memanfaatkan peninggalan-peninggalan, kekayaan dan aset bersejarah malah diabaikan. Teronggok tak berarti. 

Satu dari sekian banyak pemandangan menyedihkan pengelolaan cagar budaya itu terjadi di Lhokseumawe. Saat Dinas Pekerjaan Umum menanam sebuah bunker peninggalan Jepang untuk pembangunan jalan lingkar. Alih-alih menjadikan bunker tersebut sebagai magnet wisata, benda bersejarah itu malah dikubur seperti sampah.

Untung saja ada sejumlah warga yang menolak dan menuntut agar bunker itu dinaikkan kembali ke permukaan. Seperti sedia kala. Saat ini , ada enam bunker tersisa di kawasan Lhokseumawe, dan seluruhnya dalam kondisi mengenaskan. Dan kondisi ini terjadi di hampir seluruh daerah di Aceh.

Cagar budaya merupakan warisan penting yang bernilai. Benda itu merupakan sumber sejarah yang akan menginspirasi generasi kini dan mendatang. Bahkan menurut data asosiasi biro perjalanan Asia-Pasifik, alasan sekitar 50 persen wisatawan berkunjung Indonesia adalah untuk menyaksikan langsung adat istiadat dan peninggalan bersejarah.

Dalam dunia pendidikan, benda-benda itu juga dapat dijadikan sarana penelitian. Dia menjadi “catatan” perjalanan bangsa. Bunker Jepang itu adalah sejarah. Dia merefleksikan keunikan dan kekayaan sejarah Aceh. Melestarikan cagar budaya artinya memelihara barang publik dan menggunakannya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Para peneliti di kampus-kampus, para ahli, organisasi nirlaba, masyarakat adat dan elemen lainnya tak boleh diam menyaksikan kerusakan cagar budaya ini. Para pemangku kepentingan ini harus mau mendorong pemerintah daerah untuk lebih peduli terhadap aset bersejarah. Berpikir kreatif dengan memanfaatkan seluruh material yang ada, bukan hanya mengharap rezeki jatuh dari langit, dengan cuma-cuma.

IKLAN HPI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...