Unduh Aplikasi

Mengubah Sudut Pandang

Mengubah Sudut Pandang
Ilustrasi: vancerains.

PANDEMI Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Tahun ini, kita masih akan dihadapkan dengan sejumlah permasalahan yang pelik untuk menggulirkan roda perekonomian secara simultan. Salah satu penyebabnya adalah minimnya uang yang beredar di masyarakat. Padahal ini penting untuk menopang daya beli yang terus terpukul. 

Karena itu, Pemerintah Aceh harus berani bersikap. Dari sisi politik, misalnya, Pemerintah Aceh harus mendorong agar Pemilihan Kepala Daerah di Aceh dapat berjalan pada 2022. Karena perhelatan politik ini akan mendorong juga perekonomian di tingkat masyarakat. 

Selain alokasi anggaran untuk penyelenggaraan pilkada dari negara, para kandidat yang maju dan berlaga di pilkada juga akan mengeluarkan uang untuk mengongkosi kampanye. Minimal untuk mencetak spanduk dan alat peraga kampanye lainnya. 

Kecenderungan pemerintah untuk membangun juga sepertinya harus direm. Pemerintah bisa mengalokasikan dana di kantong mereka untuk mendorong pertumbuhan sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan. 

Sektor-sektor ini terbukti mampu menopang perekonomian Aceh. Pemerintah harusnya menjamin ketersediaan pupuk dan harga yang layak saat panen. Sementara dalam bidang perikanan, pemerintah harus mendorong tumbuhnya industri kecil yang dapat diandalkan untuk mengolah hasil tangkapan nelayan Aceh yang berlimpah. 

Janji-janji Pemerintah Aceh untuk melengkapi para nelayan dengan teknologi tangkap ikan yang mumpuni harus direalisasikan tahun ini. Sehingga hasil tangkapan nelayan lebih maksimal dan mereka tidak perlu menabrak batas perairan negara lain yang ujung-ujungnya hanya menciptakan masalah. 

Namun untuk mencapai itu, Pemerintah Aceh harus mengubah sudut pandang. Cobalah, sesekali, untuk memosisikan diri sebagai rakyat jelata yang selama ini mengalami kesulitan didera pandemi. Sehingga pemerintah dapat mengambil kebijakan yang lebih terarah dan terukur untuk membawa Aceh keluar dari permasalahan itu.

Jangan saat susah saja mengajak masyarakat dengan berbagai rayuan manis. Giliran yang “enak-enak”, rakyat ditinggalkan. 

Komentar

Loading...