Unduh Aplikasi

INTERMESO

Mengubah Imaji Menjadi Standar

Mengubah Imaji Menjadi Standar
Ilustrasi: united way.

DALAM hidup ini, sering kali kita mengabaikan ihwal standar; panji. Hanya karena kita terlalu sering berkelindan dengan imaji. 

Imaji; sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran; bayangan, bukan hal yang baik. Apalagi sampai larut hingga lupa bahwa kita hidup dalam kenyataan. 

Ini pula yang melatarbelakangi Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan, untuk mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat. Moeldoko, seorang prajurit yang meniti karier hingga puncak, tak mau larut dalam imaji. 

Lantas dengan segala kekuasaannya, Moeldoko merancang sebuah kongres luar biasa. Berbekal orang-orang yang merasa sakit hati dengan klan Susilo Bambang Yudhoyono, Moeldoko berhasil menggelar sebuah pertemuan di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara. 

Mereka yang hadir di Sibolangit adalah orang hebat pada masanya. Ada bekas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, ada anggota DPR. Ada bekas pendiri. Ada pula orang-orang yang mengklaim memiliki suara sah di Partai Demokrat. 

Bagi sebagian orang yang mengikuti perjalanan panjang partai berlogo mirip Mercedes Benz ini, dan anti-SBY, peristiwa di Sibolangit disebut sebagai buah dari perbuatan SBY yang mengudeta Anas Urbaningrum. 

Maka, dengan dorongan iming-iming yang ditawarkan kekuasaan Moeldoko, ratusan orang berkumpul di Sibolangit dan mendaulat bekas orang kepercayaan SBY itu menjadi ketua umum di partai yang dipimpin anak kandung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY. 

Moeldoko paham akan situasi ini. Dengan menjadi ketua umum lewat KLB, dia cukup meminta pertolongan rezim untuk melegalkan kepengurusannya. Sisanya, biar kekuasaan dan uang yang berbicara. 

Namun Moeldoko mungkin salah kalkulasi. Bahwa di negara ini ada banyak elemen yang mempengaruhi. Dalam kalkulasi normal, banyak negara yang menyebut Indonesia telah bangkrut. Namun negara ini punya penduduk yang luar biasa kuat menahan penderitaan. 

Jadi, terserah negara mau buat apa, rakyat akan punya cara untuk bertahan. Standar hidup orang Indonesia jauh tak masuk dalam imaji orang-orang asing. 

Moeldoko juga lupa bahwa hidup ini tak cukup bermodalkan kekuasaan. Hidup ini kudu seimbang. Karena memang tak ada sesuatu yang terjadi tanpa izin yang Maha Kuasa. Karena itulah, Luqman menasehati anaknya untuk tidak “berjalan di muka bumi dengan sombong.” 

Manusia boleh saja berimajinasi. Namun dalam perbuatan harus ada kerendahan hati. Tawaduk. Tidak merasa paling berjasa atau paling berkuasa. Karena ujung-ujungnya, semua orang akan dinilai dari nilai-nilai tawaduk yang tak bisa dilepaskan dari ihsan. 

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...