Unduh Aplikasi

INTERMESO

Mengubah Cinta Menjadi Benci

Mengubah Cinta Menjadi Benci
Ilustrasi: Uplift connect.

DI setiap hari besar yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka, entah itu Milad GAM atau peringatan Damai Helsinki, selalu saja terbit tindakan imbauan. Ada pelarangan bendera, ada yang melarang konvoi, atau apapun keramaian sebagai bentuk pengingat. 

Padahal, dipimpin oleh banyak sekali orang-orang yang dulu berjuang atas nama GAM. Mulai ditingkat pemerintahan hingga ke level legislatif, di semua tingkatan pemerintahan. 

Namun bagi sejumlah orang, GAM boleh ada, tapi tidak simbol-simbolnya. Padahal, kalau mau jujur, seharusnya hal-hal itu tak perlu dicegah secara berlebihan. 

Dulu, jika ditanyakan kepada seluruh masyarakat Aceh, mungkin referendum pada 1999 akan memutuskan Aceh keluar dari Indonesia. Lepas dari Indonesia, saat itu, adalah sebuah keharusan. 

Tapi itu bukan atas kebencian terhadap negara ini. Karena apapun ceritanya, banyak orang Aceh yang menikmati hidup di kota-kota besar di Indonesia, mulai Medan, Sumatera Utara, hingga ke kota-kota di Sulawesi bahkan Papua. Konon lagi Jakarta. 

Keinginan lepas dari Indonesia hanya karena ketidakadilan. Padahal, keadilan itu dijamin dalam Pancasila. Namun seperti hal lain, keadilan itu tak lebih sekadar pelengkap. Persis lampu tanda lalu lintas yang tak pernah dipatuhi pengguna jalan. 

Hingga saat ini, masih banyak bekas kombatan dan korban konflik yang tak merasakan keadilan. Karena itu, setiap tahun, masyarakat menggelar sejumlah kegiatan, entah itu doa atau diskusi, pada peringatan Hari Damai atau Milad GAM. 

Ini adalah cara sebagian masyarakat untuk mengingatkan para pemimpin bahwa masih banyak urusan di Aceh, setelah perjanjian damai itu diteken, yang belum dituntaskan. Kasus pelanggaran HAM dan hak-hak lain yang belum terpenuhi, harus dituntaskan. 

Peringatan itu tak perlu ditakuti. Dan mereka yang memperingatinya tak perlu ditakut-takuti. Menakut-nakuti itu bukan zamannya lagi. Semua orang punya hak untuk mengekspresikan diri mereka dan menyuarakan tuntutan mereka, sepanjang negara masih beroperasi dari pajak yang mereka bayar. 

Harusnya negara tak perlu berlebihan dalam menanggapi hal ini. Biarkan saja. Memperingati Hari Damai atau Milad GAM, dengan segala atributnya, bukanlah sebuah upaya untuk melepaskan diri dari Indonesia.

Negara juga harus memahami bahwa orang di Aceh tidak bodoh-bodoh amat untuk mengetahui dan mematuhi butir-butir kesepakatan damai. Bersikap takut, apalagi menakut-nakuti, hanya mengubah cinta menjadi benci. 

Komentar

Loading...