Unduh Aplikasi

Menggantung Harapan pada Gubernur Nova Iriansyah

Menggantung Harapan pada Gubernur Nova Iriansyah
Foto: Ist

Oleh: Mulyadi Nurdin, Lc, MH

 Ir. H. Nova Iriansyah MT resmi dilantik sebagai Gubernur Aceh menggantikan drh. Irwandi Yusuf, M.Sc pada tanggal 5 November 2020 oleh Menteri Dalam Negeri, Jendral Pol. (Purn) Tito Karnavian di Gedung DPRA.

Lima juta rakyat Aceh menggantung harapan pada sang Gubernur. Misi Aceh Hebat yang disusun sejak tahun 2017 selayaknya dapat dituntaskan dalam sisa kepemimpinan yang kurang dua tahun lagi.

Hal itu pasti tidak mudah, bagai pilot yang mengendalikan pesawat sendirian tanpa co-pilot, Gubernur Nova Iriansyah baru bisa mewujudkan impian rakyat Aceh jika mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Secara subjektif saya yakin, sosok Ir. Nova Iriansyah, MT mampu menuntaskan misi Aceh Hebat, hal itu didukung oleh latar belakang dirinya sebagai dosen Teknik Arsitektur di Universitas Syiah Kuala, yang tentunya memberikan bahan yang cukup baginya dalam planning, organizing, Actuating, and controlling tahapan-tahapan pembangunan.

Pengalaman Saya pribadi yang pernah menfasilitasi Pak Nova Iriansyah selama 10 bulan, ketika masih menjabat sebagai Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Aceh, mendapati dirinya sebagai sosok yang sangat sistematis, tidak peujeut-peujeut, visioner, optimis, akurat, dan terukur.

Optimisme

Membangun Aceh harus didasari dengan optimisme yang tinggi, berbagai dinamika yang terjadi secara politik, ekonomi, dan sosial, harus menjadi bahan untuk memicu kesuksesan di masa yang akan datang.

Menyadari hal itu dalam sambutan perdana setelah dilantik oleh Mendagri, Gubernur Nova men-declare rasa optimisme tersebut.

“Saya percaya bahwa hal ini akan terus menjadi energi positif bagi masyarakat Aceh dalam membangun negeri ini, membangun Aceh, dan membangun Indonesia,” ujarnya setelah menggambarkan kondisi sulit yang pernah dialami rakyat Aceh seperti bencana Tsunami dan lainnya.

 Kolaborasi

Membangun Aceh harus dilakukan secara bersama-sama, dengan kerjasama, dan kolaborasi semua stakeholders yang ada.

Dalam berbagai kesempatan Gubernur Nova Iriansyah selalu menegaskan pentingnya kerjasama dan kolaborasi tersebut, namun dalam perjalanan berbagai dinamika dan pergesekan terjadi, yang tentu saja mengganggu keharmonisan dalam pembangunan. 

Menyadari pentingnya kekompakan dalam membangun Aceh, Gubernur Nova menegaskannya dengan kalimat:

“Saya bertekad untuk menjalankan pemerintahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi aktif semua elemen masyarakat Aceh, baik ulama, tokoh masyarakat, dan terutama sahabat-sahabat saya yang ada di lembaga legislatif, partai politik, Pemerintahan Kabupaten/Kota, dan seluruh aparatur penegak hukum.” Jelas Nova dalam pidato pelantikannya.

Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Gubernur tersebut pastinya mengandung makna mendalam, mengingat berbagai hiruk-pikuk politik yang terjadi belakangan ini sedikit banyak pasti mengganggu proses pembangunan di Aceh.

 Dukungan Semua Pihak 

Stressing tentang pentingnya dukungan berbagai pihak dalam melanjutkan sisa kepemimpinan Gubernur Aceh hingga tahun 2022 diucapkan berulang-ulang oleh Gubernur Nova, sejak mukaddimah hingga penutup pidato, ini sinyal yang paling kuat darinya, bahwa seluruh elemen bangsa harus bersatu dalam mencapai visi misi Aceh Hebat.

“Dengan tulus dan ikhlas saya meminta dukungan sekali lagi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, kepada seluruh ulama, kepada seluruh unsur Forkopimda, partai politik, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan tentunya seluruh elemen masyarakat lainnya, mari kita bahu-membahu menjaga kondusifitas pembangunan untuk mencapai perdamaian berkelanjutan di Aceh,” urai Nova panjang lebar.

Kondisi

Membangun Aceh di tengah pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang sangat berat, malah seluruh dunia merasakan dampak buruk dari pandemi tersebut, Seluruh dunia menantikan kapan Covid-19 berakhir, karena dampaknya sudah dirasakan di semua sektor kehidupan, dipastikan begitu wabah berakhir, semua negara akan berlomba-lomba untuk bangkit kembali.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49%. Itu berarti, Indonesia masuk jurang resesi. Dampak ekonomi tersebut pastinya berpengaruh pada masyarakat Aceh. 

Kemiskinan

Masalah klasik yang belum tuntas di Aceh adalah kemiskinan yang masih tinggi. Sesuai rilis BPS angka kemiskinan di Aceh pada Maret 2020 sebanyak 14,99 persen, yang menempatkan Aceh sebagai Provinsi termiskin kedua di Sumatera. Dibanding tahun sebelumnya peringkat tersebut sudah lebih baik. 

Persoalan selanjutnya adalah pengangguran, menurut data yang ada, jumlah pengangguran di Aceh pada Agustus lalu berjumlah 167 ribu orang, ini merupakan beban berat yang harus dipikul oleh Pemerintah Aceh.

Aksi

Mengingat beratnya beban yang diemban oleh Gubenur Nova, pastinya beliau sudah menyusun rencana aksi dalam menyelesaikan berbagai masalah tersebut.

Diawali dengan perjuangan menghadapi Covid-19, Pemerintah Aceh harus bekerja keras bagaimana mengendalikan dan menghambat penyebaran virus sekaligus mengobati pasien yang menderita sakit.

Begitu Covid-19 terkendali, langkah selanjutnya yang harus dikebut adalah mengembalikan geliat ekonomi, mengejar pertumbuhan ekonomi yang secara global memang terpuruk. Pemulihan ekonomi bisa saja sejalan dengan kebijakan nasional yang telah meluncurkan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Untuk itu diperlukan langkah cepat dan terukur supaya Aceh tidak tertinggal di saat dunia sedang berpacu mengejar ketertinggalan selama Pandemi Covid-19.

Dalam program PEN dijelaskan tujuannya untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya selama pandemi Covid-19, selanjutnya bagaimana Pemerintah Aceh memanfaatkan peluang tersebut yang di dalamnya banyak kemudahan dan stimulus yang ditawarkan Pemerintah.

Semua program pemulihan ekonomi tersebut diharapkan mampu mengurangi angka kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja, sehingga mengurangi angka pengangguran di Aceh.

Secara akademik Gubernur Nova Iriansyah sangat memahami bahwa membangun bangunan bangsa, membutuhkan pondasi dan struktur yang kuat dan terukur, seorang Arsitek  meyakini pada rumus dan teori yang diterapkan dalam pembangunan, dalam Hal ini Gubernur Nova pastinya akan menyusun struktur pemerintahan, sistem dan perangkat kerja yang kuat dan terukur.

Meyakini pentingnya peran aparatur, dalam pidatonya Gubernur Nova mengajak elemen Pemerintah Aceh untuk mencurahkan pikiran, berpikir dan berkreasi dalam membangun Aceh, yang memberi sinyal kuat bahwa semua harus berfungsi dengan baik dan optimal.

“Saya mengajak seluruh elemen pemerintah Aceh, dan masyarakat secara umum, berpikir, berkreasi, memanfaatkan kesempatan dan berbagai kemudahan yang ada untuk Aceh yang lebih baik untuk Aceh yang lebih sejahtera,” imbuhnya.

Kreatif, Inovatif

Membangun Aceh tidak cukup dilakukan dengan cara yang biasa-biasa saja, selama mendampingi Pak Nova Iriansyah antara tahun 2017-2018, saya sering kali mendengar pesan untuk berinovasi, kreatif, serta kolaboratif. 

Hal itu diulang kembali dalam pidatonya saat pelantikan, yang menandakan pesan itu sangat serius dan tidak main-main.

“Kita juga dituntut melakukan inovasi-inovasi baru yang kreatif, bermanfaat, dan substantif, menghasilkan lompatan-lompatan pencapaian visi misi Aceh hebat, dengan 15 program unggulan yang telah tercantum dalam RPJM Aceh 2017-2022,” tegasnya.

Political will dari gubernur Nova Iriansyah sudah jelas dalam membangun Aceh, selanjutnya kita tunggu aksi nyata dari seluruh perangkat yang menjalaninya. Gubernur bukanlah Superman yang bisa bekerja sendiri, tetapi manusia biasa yang diberi amanah sebagai Pemimpin 5 juta rakyat Aceh, dan akan sukses jika didukung oleh seluruh pihak.

Rakyat Aceh masih menaruh harapan pada sang Gubernur. Bagi rakyat awam apapun nama programnya, yang penting hasilnya dapat dilihat dan dirasakan oleh mereka. Sisa waktu yang dimiliki Gubernur Nova Iriansyah tidak banyak, karena periode ini akan berakhir pada bulan Juli 2022, selanjutnya hanya karya nyata yang akan membuat sang pemimpin dikenang sebagai hero oleh generasi bangsa.

Penulis adalah Direktur Intermedia Research Indonesia/ Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Aceh Periode 2017-2018

Komentar

Loading...