Unduh Aplikasi

Mengenang M. Yunan Djihad, "Tangis Tanpa Air Mata"

Mengenang M. Yunan Djihad, "Tangis Tanpa Air Mata"
Yunan M. Djihad (pakai peci hitam). Foto: Win Ruhdi Bathin.

Oleh Fauzan Azima

“Mate edet osop merdeka” demikian kesan saya ketika mendengar Ama Jihad atau bernama lengkap Yunan M. Djihad wafat pada Kamis, 2 April 2020 di Banten.

Ama Jihad salah seorang yang mempunyai konstruksi filsafat keilmuan yang kuat. Dari filosofi Gayo, kemudian belajar praktis dari nenek moyang, lalu diperkuat dengan pendapat profesor-profesor yang ahli di bidangnya dan akhirnya memang terbukti secara science.

Dalam hukum adat Gayo tentang tata kelola hutan misalnya, menurut Ama Jihad, menebang pohon dedalu, panguh dan ramung akan dikenakan sanksi adat dengan keharusan menanam kembali beberapa jenis pohon yang sama karena fungsinya menjaga air. Untuk bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan beliau belajar ke IPB bahwa apa yang telah ditetapkan nenek moyang sebagai hukum adat telah memenuhi standar keilmuan.

Sayangnya ada beberapa intelektual licik yang tidak mengakui. Padahal telah mengambil ilmu dari Ama Jihad. Bahkan dalam catatan kakipun tidak disebutkan namanya. Kita tahu dalam tradisi dan etika keilmuan ada yang disebut silsilah ilmu. Seorang murid tidak boleh menafikan gurunya dalam ilmunya, meskipun di tengah jalan sang murid menemukan hal baru yang mematahkan ilmu gurunya. 

Sikap seperti itu merupakan karakter buruk yang harus diputus agar generasi akan datang lebih jujur mengenai sumber ilmu. Bagi Ama Jihad sendiri beliau tidak peduli apakah ilmu yang diberikan membuat orang populer atau kemudian “mengkhianatinya” tidak masalah baginya. Beliau terus menaburkan ilmu di mana dan kapanpun. Bahkan derajat ilmu tertinggi pun tetap beliau sampaikan. Orang-orang tua menyebutnya “enti jemur arapni kurik.”

Tidak saja intelektual, tokoh pun ada yang berlaku demikian. Pura-pura tidak mendengar ilmu Ama Jihad, tapi pada tempat lain mereka berpidato dengan “ilmu nusuh” dari Ama Jihad. 

Mengapa intelektual dan tokoh itu malu menyebut bahwa sumber ilmunya adalah Ama Jihad? Jawaban konkretnya karena beliau miskin.

Lima belas tahun terakhir hidup Ama Jihad penuh duka. Akses ekonominya ditutup dan karakternya dibunuh. Di zaman manusia mengagungkan harta dan jabatan, justru di zaman itu beliau papa dan tidak lagi berpengaruh. Tidak jarang di rumah beliau tidak ada beras untuk dimasak, tetapi jangan harap beliau mau mengemis. Apalagi menipu dengan menjual cerita untuk bisa makan.

Semua orang tahu kondisinya sangat memprihatinkan; tinggal di Kampung One-One dengan ukuran rumah 4x4 meter yang terbuat dari papan-papan sisa. Sungguh tidak layak huni. Di manakah orang kaya yang dermawan? Di mana para pejabat simpati kepadanya? 

Tidak jarang harus pindah ke kebunnya di Dedamar, Bintang hanya karena malu meminta. Kita membiarkannya dalam kesengsaraan. Begitukah kita menghormati “kitab berjalan” khazanah Gayo?

Jelas ini bukan zaman Ama Jihad! Seharusnya beliau hidup di era sebelum ini. Di mana orang masih menjunjung tinggi kejujuran sebagai prinsif hidupnya dan kesuksesan ditentukan oleh kebersihan hati yang berpusat pada kejujuran.

Benar, tidak ada manusia yang sempurna. Sahabat Nabi-pun hanya memiliki satu sifat yang dominan. Sifat benar disematkan pada sahabat Abu Bakar, sifat “tabligh” disandang oleh sahabat Umar Bin Khatab, sifat amanah milik sahabat Usman Bin Affan dan sifat cerdik menjadi mahkota sahabat Ali Bin Abi Thalib.

Ama Jihad tentu jauh di bawah kesempurnaan para sahabat Nabi, tetapi pengetahuannya tentang sejarah dan Adat Gayo nyaris tanpa cela. Patut beliau disebut guru bagi orang yang akan mengembalikan Adat Gayo kepada rel yang sebenarnya.

Setelah “kepergian” Ama Jihad semakin berkurang orang-orang tua yang mengetahui detail sejarah dan adat Gayo. Bagi dirinya sudah sampai janji, tapi bagi kita yang masih hidup adalah tangis tanpa air mata kehilangan guru yang mengajarkan tuntunan wujud alam (adat). Kita akan semakin jauh dari mandiri dan berdaulat dalam bidang adat.

(Mendale, 3 April 2020)

Penulis adalah mantan Panglima GAM Wilayah Linge

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...