Unduh Aplikasi

Mengenang ‘Cumbok Affair’ di Jembatan Kramat

Mengenang ‘Cumbok Affair’ di Jembatan Kramat
Jembatan Keramat. Foto: Salman

PANJANG  jembatan itu hanya beberapa depa. Enam papan iklan berjejer di kiri kanannya. Belasan jenis kendaraan hilir mudik berkelebat di atasnya saban menit. Di bawah jembatan, air keruh mengalir menuju muara ke depan pendopo bupati Pidie, beberapa waktu lalu.

Dulunya, kata Anna Dhian Asmara, seperti dikutip dari Jurnal Aceh, warga Sigli, jembatan itu kerap disebut jembatan Blok Sawah. Jika dari dalam kota ke arah Masjid Agung, selepas jembatan di sebelah kiri ada kampung bernama Blok Sawah.

Setelah 1970-an, kata dia, namanya berubah menjadi Jembatan Kramat. Hal ini sepertinya mengacu pada dua kampung, Kramat Luar dan Kramat Dalam, yang terletak setelah jembatan jika menuju kota.

Jembatan Kramat menjadi salah pintu masuk menuju jantung Kota Sigli. Jembatan yang bentuknya begitu-begitu saja sejak dulu itu ternyata menyimpan sekelumit kisah masa lalu: “Cumbok Affaire” atau perang Cumbok.

Perang Cumbok adalah puncak perseteruan antara kaum uleebalang atau bangsawan dengan kaum ulama. Cumbok adalah nama kampung di Lamlo, Kecamatan Sakti, pusat pergerakan pasukan uleebalang. Jaraknya sekitar 10 mili dari Sigli.

Ceritanya, pada 2 dan 3 Desember 1945, kaum uleebalang dengan pasukannya yang diberi nama: Cap Tumbak, Cap Bintang dan Cap Sauh, memasuki Sigli. Versi lain menyebutkan, hanya dua pasukan yang masuk, Cap Tumbak dan Cap Sauh. Di dalam kota, pasukan-pasukan ini menduduki tempat-tempat penting dan membuat lubang-lubang pertahanan. Secara umum, pasukan Cumbok ini dipimpin TM Daud, uleebalang Lamlo.

Hasan Saleh dalam bukunya Mengapa Aceh Bergolak menyebutkan salah satu yang diduduki pasukan Cumbok adalah kantor PRI Sigli. Sebuah sedan Pontiac hitam yang digunakan Ketua PRI Tengku Hasan Aly dirampas. Seluruh penjuru kota dijaga ketat.

Pendudukan Sigli berlangsung mudah, karena tidak terduga dan organisasi TKR maupun PRI belum tersusun dengan rapi, sebut Hasan Saleh. TKR adalah Tentara Keselamatan Rakyat. API adalah Angkatan Perang Indonesia. Sejak 1 Desember 1945, API diganti namanya menjadi TKR. API menurut Hasan Saleh di kemudian hari menjadi cibak bakal TNI. API disusun oleh Teuku Nyak Arief, residen Aceh yang diangkat oleh Gubernur Sumatra, Teuku Muhammad Hasan.

Sebelum lahir API, kata Hasan Saleh, telah terbentuk Pemuda Republik Indonesia atau PRI di Pidie. Markas Daerah API berada di Kutaraja dengan Kolonel Syamaun Gaharu sebagai ketuanya. Hasan Saleh kala itu menjabat Wakil Komandan Kompi VII di Lamlo dengan pangkatpembantu letnan. Kompi ini dikomandani Letnan Dua Teuku Abdullah Titeu.

Tujuan pasukan Cumbok masuk kota untuk merebut sisa-sisa senjata Jepang di batalion Sakatai. Di dalam kota juga masih terdapat sisa pasukan Jepang beserta senjata. Sebelumnya, pada 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu. Pada 24 Agustus 1945, Aceh Shinbun, surat kabar resmi pemerintah Jepang di Aceh mengumumkan...”Peperangan Asia Timur Raya sudah berakhir, dan Kemaharajaan Dai Nippon telah bersedia melangsungkan perdamaian dengan Amerikaka, Inggris, Rusia, China”.

Waktu itu, sebagian uleebalang memegang jabatan-jabatan penting, seperti mengawasi Yasin Soko atau gudang persenjataan. Yasin soko merupakan bekas penjara untuk menyimpan senjata Belanda yang dirampas Jepang.

Sementara, tentara resmi pemerintah, API/TKR (penyebutan dalam buku memang demikian-red), juga tidak ingin senjata dikuasai uleebalang. Abdullah Arif, wartawan surat kabar Semangat Merdeka di Kutaraja kala itu, dalam laporannya tentang peristiwa tersebut menuliskan, Jepang punya taktik untuk memperlambat penyerahan senjata yang masih tersisa kepada pemerintah Indonesia.

Di sisi lain, tulis Abdullah Arif, para uleebalang menyangka rakyat bakal merampas senjata itu untuk keperluan sendiri. “Sehingga ulebalang-uleebalang pun hendak mendahului rakyat dan mereka mengharap supaya senjata-senjata itu terserah ke dalam tangannya.”

Syamaun Gaharu, dalam autobiografinya Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal yang ditulis Ramadhan KH dan Hamid Jabbar, menuturkan tentara bentukan uleebalang tersebut mendahului operasi API/TKR.

Syamaun mengatakan tak tahu akan gerakan uleebalang itu. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, pagi-pagi benar tanggal 5 Desember ia berangkat dari Kutaraja ke Sigli. “Sepanjang jalan dari Padangtiji sampai ke pasar (Peukan) Pidie, kelihatan barisan rakyat yang membawa bermacam senjata, berjalan beriringan menuju Sigli,” ujar Syamaun.

Saat pasukan Cumbok menduduki kota, tokoh-tokoh PUSA pun tak tinggal diam. Mereka mengerahkan massanya mengepung kota Sigli. “Rakyat terpecah ke dalam pengaruh dua kelompok yang terpisah,” ujar Syamaun. Menurut Syamaun, permusuhan antara Uleebalang dengan PUSA sudah berakar sejak zaman Belanda. Hal itu berlanjut pada masa pendudukan Jepang akibat politik pecah belah sang penjajah. Baik Belanda maupun Jepang khawatir bila rakyat Aceh bersatu padu. Oleh sebab itu, kata dia, berbagai usaha dilancarkan untuk memecah belah persatuan rakyat.

Saat massa PUSA datang, kata Hasan Saleh, mereka tidak dapat memasuki kota. Hanya ada dua jalan keluar dari kota Sigli: jurusan timur menuju Kembang Tanjong, yang dipisahkan sungai dengan dua jembatan —jembatan pasar ikan (Pante Teungoh) dan jembatan benteng —serta jurusan barat menuju Medan atau Kutaraja. “Kedua jurusan ini telah disumbat massa rakyat,” ujar Hasan Saleh.

Adanya sungai di jurusan timur, kata dia, memberikan keuntungan kepada pihak yang bertahan (Cumbok). Mereka cukup menjaga kedua jembatan itu saja sehingga penjaga yang diperlukan tidak begitu banyak.

Sebaliknya, kata Hasan Saleh, jurusan barat merupakan lapangan terbuka, sehingga merugikan kedua belah pihak. Pertahanan pasukan Cumbok di jurusan timur dipimpin Teuku Hasan Cut, Wedana Sigli, sedangkan di jurusan barat dipusatkan di rumah Teuku Pakeh Sulaeman di Blok Sawah.

Pasukan rakyat yang berada di front timur dipimpin Husin Sab dan Sab Cut. Teungku Hasan Aly, sebagai pemimpin seluruh pasukan republikan (sebutan Hasan Saleh untuk massa PUSA), berada di front barat. “Demikian juga saya. Jumlah pengepung pada masing-masing front ini kira-kira sama banyaknya,” ujarnya.

Ketika massa PUSA mendekati kota, kata Syamaun Gaharu, sebagian menuju jembatan Benteng di dekat pendopo. Sebagian lagi mencoba masuk lewat Jembatan Kramat. Syamaun mengatakan ia menemui beberapa pemimpin PUSA, mencegah mereka masuk kota. Bujukan berhasil. “Cukup lama saya bertukar pikiran dengan beberapa orang pemimpin rakyat. Akhirnya mereka menerima dan bersedia mematuhi petunjuk yang diberikan oleh API/TKR yang berada dalam komando saya,” ujar Syamaun.

Diplomasi beberapa jam itu, kata Syamaun, juga berhasil membujuk Jepang menyerahkan senjata kepada API/TKR. Senjata-senjata tersebut akan diantar ke stasiun Sigli. Selanjutnya diangkut dengan kereta api ke Banda Aceh.

Namun, saat perundingan belum lagi kelar, terdengar bunyi tembakan. “Sambil menghindar dan tiarap, saya pun mengintai ke arah asal tembakan. Ternyata tembakan itu berasal dari arah lubang perlindungan di depan rumah T Pakeh Sulaiman, yang berjarak lebih kurang seratus meter dari tempat perundingan kami,” ujarnya.

Lokasi perundingan dimaksud Syamaun di sekitar Blok Sawah. Karena, para perunding setelah mendengar tembakan yang saling berbalas, mencari tempat berlindung di balik pohon-pohon asam Jawa. Di Blok Sawah, sebagian pohon-pohon tersebut masih ada hingga sekarang.

Ketika peluru-peluru berdesing, ada satu regu API/TKR yang bertugas menjaga jembatan keramat. Sementara di pangkal jembatan di dalam kota, ada pasukan Cumbok. Pasukan Cumbok saat itu, kata Hasan Saleh, terbagi atas dua kelompok. Yang memegang senjata api tiarap di depan, sedangkan yang memegang senjata tradisional berdiri di belakang. Posisi mereka di Blok Sawah, dekat jembatan Kramat.

Sementara massa PUSA sudah merangsek hingga Blok Sawah. “Pasukan rakyat dan pasukan uleebalang hanya berjarak 150 meter,” ujar Hasan Saleh. Kondisi senjata massa PUSA, kata Hasan Saleh, jauh berbeda dengan pasukan Cumbok. “Bagaimana mungkin menyerang suatu pasukan bersenjata api, jika pasukan penyerangnya hanya mempunyai tiga pucuk senjata api: sebuah pistol di tangan Tgk Hasan Aly , sebuah karaben pada Peutua Raden, dan sepucuk lagi karaben butut di tangan saya,” ujar Hasan Saleh.

Baku tembak di Jembatan Kramat hanya berlangsung singkat dan memakan beberapa korban. Setelah itu, Hasan Saleh melihat sebuah sedan Chevrolet warna hijau buatan tahun 1938 keluar dari arah kota melewati jembatan Kramat. Perlahan, Chevrolet berbendera kuning itu bergerak menuju Kutaraja. “Mata saya tiba-tiba beradu pandang dengan mata penumpang yang duduk di belakang. Ia tersenyum sedikit sambil melambaikan tangan. Rupanya, itulah mobil Ketua Markas Daerah API Kolonel Syamaun Gaharu!”

Tak lama, menyusul pula sedan putih berbendera putih berukuran besar. Sedan itu mengangkut Muramoto, Bupati Jepang di Pidie. Muramoto masih tinggal untuk mengatur keberangkatan sisa-sisa orang Jepang ke Medan. Sesampainya di gardu listrik, dekat simpang yang memisahkan jalan ke Sanggeu dan Kutaraja, Muramoto berbalik ke arah Kota Sigli sambil berteriak, "Damai, damai, damai!"

Sigli baru dapat diamankan sepenuhnya di hari ketiga setelah terjadi tembak menembak. Pada 6 Desember, pengepungan Sigli diselesaikan secara damai. Pasukan Cumbok diharuskan kembali ke Lamlo. Semua tawanan dan rampasan dikembalikan. Senjata-senjata Jepang dikuasai API. Rakyat meninggalkan kota dan pulang ke kampungnya masing-masing. Namun, perang Cumbok sesungguhnya baru dimulai berpekan-pekan setelah itu, ketika pasukan-pasukan rakyat dan pemerintah menggempur Lamlo. “Cumbok Affaire” pun berhasil dipadamkan.

| RZ, Salman

Komentar

Loading...