Unduh Aplikasi

Mengaudit Bangunan Seumur Jagung

Mengaudit Bangunan Seumur Jagung
Ilustrasi: Left Right.

PT Amar Jaya Pratama Group, selaku rekanan proyek pengendalian banjir Krueng Buloh, Aceh Utara, menyampaikan komitmen untuk memperbaiki tebing sungai yang ambruk. Dan memang seharusnya hal itu mereka lakukan sebagai bentuk tanggung jawab. 

Proyek itu baru saja selesai dikerjakan. Proses serah terima kepada Dinas Pengairan Aceh belum lebih dua bulan. Manajemen perusahaan itu berkilah bahwa kondisi beton dan curah hujan yang tinggi membuat bangunan pengendali banjir ambruk. 

Tentu saja pelaksana berhak menyampaikan alasan apapun. Namun publik juga berhak untuk mempertanyakan kelayakan bangunan tersebut. Termasuk dari sisi rekayasa konstruksi. Karena itu, proyek-proyek seperti ini memerlukan keberadaan seorang insinyur konstruksi, bukan sekadar manajer konstruksi. 

Untuk mengungkapkan hal itu, pihak Inspektorat Aceh harus melakukan audit secara menyeluruh kondisi dan kualitas infrastruktur. Hal ini penting untuk menjamin bahwa konstruksi itu tidak ambruk di sisi lain saat sisi yang rusak saat ini selesai diperbaiki. 

Inspektorat perlu memastikan bahwa bangunan ini berumur panjang sehingga uang daerah yang dihabiskan untuk membangunnya tidak mubazir. Berkacalah pada pembangunan Jalan Banda Aceh Calang, yang dibangun dengan uang sumbangan dari USAID. 

Syahdan, pengawas proyek memerintahkan pembongkaran ratusan meter aspal, di timur dan barat, saat menemukan sebuah titik lubang. Dan hasilnya, tak mengecewakan. Bahkan jalan itu menjadi salah satu jalan terbaik yang pernah dibangun di Aceh bahkan di Indonesia. 

Inspektorat juga jangan ragu untuk melakukan audit. Mumpung masih dalam masa pemeliharaan. Jangan sampai setelah masa pemeliharaan berakhir, kerusakan kembali terjadi. Jika ditemukan sisi bangunan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, Inspektorat diminta untuk tidak ragu membongkar bagian-bagian tersebut dan memerintahkan pelaksana untuk membangun kembali sesuai dengan rencana. 

Sudah cukup banyak uang Aceh yang terbuang sia-sia. Tidak hanya karena kontraktor dan pejabat yang curang, namun juga karena pengawasan yang lemah. Kalau terus dibiarkan, tentu tidak ada bangunan yang berusia panjang di Aceh. 

Cukup sudah uang yang ada hanya habis untuk menambal kerusakan-kerusakan tersebut di saat rakyat membutuhkan uang itu untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Kita tak boleh terus menerus menyalahkan alam atas kerusakan infrastruktur di Aceh. 

Komentar

Loading...