Unduh Aplikasi

INTERMESO

Mengapa

Mengapa
Ilustrasi: number one.

COBA ambil selembar kertas putih dan pena. Lantas lukislah pemandangan alam. Maka sudah dapat dipastikan bahwa lukisan itu akan berbentuk sebuah satu atau dua buah gunung, dengan sungai yang berkelok. 

Di sisinya ada sawah dengan pohon kelapa. Beberapa gumpalan awan serta burung yang dibuat menyerupai angka tiga telungkup dengan garis di bagian tengah. Boleh satu atau dua. Tapi yang jelas, jangan lupa gambar matahari, lingkaran dengan garis tegak di seluruh sisi, menyembul di balik awan atau gunung. 

Jika seluruh elemen itu terlukis di atas kertas, sudah dapat dipastikan Anda adalah pendidikan yang di bawah era 2000-an. Saat pelajaran menggambar adalah pelajaran tanpa imajinasi. Tak boleh ada gambar yang lain kalau mau mendapatkan nilai bagus dari guru pelajaran menggambar. 

Imajinasi dalam dunia pendidikan kita adalah hal tabu. Karena yang terjadi di sekolah-sekolah adalah penyeragaman berpikir, bukan mengembangkan keberagaman berpikir. Sering kali tak ruang bagi pelajar yang memiliki imajinasi liar. Padahal pendidikan harusnya membebaskan setiap orang untuk menjadi apa saja tanpa harus meniru. 

Tapi memang sekolah-sekolah kita bukan tempat menciptakan para ahli dan seniman di bidangnya. Mungkin banyak anak-anak yang ahli menjadi tukang, namun mereka akan gelagapan saat dituntut untuk menciptakan hal-hal baru. 

Alhasil, kebudayaan yang timbul pun cenderung ikut-ikutan. Saat telenovela dari Amerika latin bermunculan, hal itu ditiru habis-habisan. Demikian juga drama Korea atau bahkan tayangan humor pun meniru dari luar negeri. 

Kalaupun ada dagelan di televisi, tayangannya lebih banyak berisi penindasan terhadap artis-artis baru yang berwajah pas-pasan. Mereka harus rela ditimpuki dengan benda-benda atau dihina. Lantas, para penonton pun akan tertawa terbahak-bahak menyaksikan adegan itu. 

Di Indonesia memang banyak penyanyi, tapi hanya sedikit musisi. Banyak artis, tapi sedikit pembuat film. Banyak arsitek, tapi sedikit pencipta. Karena dalam pendidikan, kita tidak pernah diajarkan untuk menghargai proses. Mulai dari guru sampai pejabat pendidikan sangat terobsesi dengan hasil meski harus mengorbankan anak didik. 

Di Aceh tak banyak saudagar atau pengusaha. Karena semua berorientasi pada proyek. Yang banyak adalah pedagang. Lantas organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga yang ada tiba-tiba dipenuhi oleh para makelar. 

Pendidikan hanya dibuat untuk mengisi pasar. Orang tua dan guru, misalnya, tak terbiasa meminta waktu untuk mencari jawaban saat anak atau murid menanyakan hal yang baru. Orang tua dan guru lebih suka jika si anak tidak terlalu banyak bertanya. 

Imajinasi itu hadir ketika keingintahuan selalu berdetak di dalam hati dan pikiran. Mereka, kita, akan terus memproses informasi yang diterima dan tak ragu untuk melontarkan kata, “mengapa”. Lantas dari situlah mereka, atau kita, akan mencari jawaban yang tersebar di semesta yang penuh imajinasi ini. 

Idul Fitri - Disdik
Idul Fitri - BPKA
Idul Fitri - ESDM Aceh
Idul Fitri - Disbudpar
Idul Fitri- Gubernur Aceh

Komentar

Loading...