Unduh Aplikasi

Mengadopsi Sejarah

Mengadopsi Sejarah
Ilustrasi: city school

KEMARIN sore, di depan kantor media ini, IA, seorang bocah kelas lima sekolah dasar, bertanya pada ayahnya, “kapan Aceh berperang dengan Indonesia?” Sang ayah mungkin tak pernah menyangka akan muncul pertanyaan itu mulut anaknya.

Namun pertanyaan sederhana itu, dalam kehidupan saat ini, akan sangat sulit dijelaskan. Terutama di saat tak ada upaya bersama dari para pelaku sejarah untuk mencatatkan sejarah, apa adanya, tentang kejadian kelam di Aceh saat itu.

Karena saat ini, kita, sebagai bangsa, telah sampai pada puncak segala masalah. Di warung-warung kopi, di media massa, apalagi di media sosial, sebagian besar percakapan berisi kebencian, dendam dan permusuhan.

Masing-masing pihak bertengkar dengan menyodorkan kebenarannya sendiri. Masing-masing pihak, baik yang tampak maupun tak tampak, berupaya menjadikan kebenaran atau kesalahan sebagai subjek.

Saat ini, kita dihadapkan pada kesenangan untuk menuding siapa yang salah. Kalau kita mendukung satu pihak, maka kita akan berada pada kebenaran yang hakiki. Kalau kita berada di seberang, maka kita akan berada pada kesalahan yang hakiki. Padahal tak ada yang benar-benar benar dan tak ada yang selamanya salah.

Dan agen-agen untuk masing-masing faksi pun berkeliaran menyebarkan polemik. Memperkeruh air yang menghilangkan kedewasaan dalam berpikir.

Panggung-panggung untuk mengalahkan yang lemah bermunculan. Mereka yang berpotensi merusak kemenangan akan diberangus, dikebiri atau dibungkam. Bangsa ini menjadi lebih terbiasa untuk menginjak-injak bangsa sendiri. Sepanjang bisa diinjak, mengapa harus diselamatkan.

Lantas, IA dan ribuan anak-anak di Aceh akan mengalami kebingungan di masa mendatang. Hal ini terjadi karena di saat mereka seharusnya diajarkan untuk bertanya “apa yang salah?” malah dipaksa untuk menjawab “siapa yang salah?”

Aceh tak bisa dibangun dengan beragam kebohongan. Pondasi itu hanya meninggalkan bangunan perdamaian yang rapuh. Aceh juga tak bisa dibangun dengan kesombongan, kesombongan karena mengingkari sejarah sendiri dan kecenderungan untuk mengadopsi sejarah lain.

Hari ini, setelah 15 tahun kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia ditandatangani, letupan-letupan persoalan itu masih saja diajukan dalam pertanyaan yang sama. Padahal, seharusnya kita, yang mengalami buruknya peperangan, mengajarkan pada IA dan anak-anak Aceh lain, “apa hebatnya mengalahkan bangsa sendiri?”

Komentar

Loading...