Unduh Aplikasi

Menelusuri prahara giok 20 ton di rimba Beutong

NAGA RAYA - Sepeda motor yang saya tumpangi melaju kencang, Kendaraan nomor polisi BL 4072 NJ ini, membelah kota Meulaboh menuju Nagan Raya. Meskipun menancap gas 80-100/km, kendaraan ini mampu melintasi tanjakan gunungan Beutong Krueng Isep yang berbatuan tajam dan berdebu, sehingga saya bersama awak media televisi swasta nasional, berhasil menaklukkan lalulintas terjal menuju tempat bongkahan giok Aceh seberat lebihkurang 20 ton.

Untuk menuju kesana, kami mengendera sepedamotor 1,5 jam dari Meulaboh, Aceh Barat. Usai melintasi gunung Beutong Krueng Isep yang terjal, berdebu dan bebatuan tajam, tibalah kami di pos penjagaan ring satu. Ditempat penjagaan ini kami sempat diinterogasi aparat keamanan yang bersenjata laras panjang. Disini juga terlihat ada keramaian masyarakat yang rehat sejenak. Mereka lalu lalang pulang dan pergi menyaksikan dan menjadi kuli angkut bongkahan giok Aceh yang kontroversi itu.

Dari pengamanan ring satu, kami kembali berpetualangan masuk hutan belantara berjalan kaki. Meski ditaksir jarak 2-3 kilometer yang memakan waktu hampir satu jam, namun cukup membakar adrenali, karena melintasi Alue Talo bertanjakan batu licin. Riak air jernih di Alue ini pun, membuat para petualang minyisihkan waktunya sesaat untuk mandi dan mencari jejak batu untuk dijadikan souvenir cincin.

Karena Alue Talo di rimba Krueng Isep ini berkelok, maka pejalan kaki mencari jalan pintas. Untuk bisa menyaksikan bongkahan giok Aceh itu, pengunjung mendaki bukit terjal berbahaya. Dikatakan bahaya karena bukit tersebut beralaskan tali urit dengan pegangan akar kayu seadanya, sehingga jika terpeleset maka bebatuan besar yang menanti di bawah telaga sana.

Sukses menantang maut dan sampailah dipuncak. Kemudian rasa lelah tersembuhkan dengan melihat langsung bongkahan giok Aceh yang diduga 20 ton. Bongkahan benda keras berharga mahal itu terletak dipinggir Alue Talo diapit dengan perbukitan tinggi. Disana juga terlihat beberapa tenda penjagaan, TNI, Polisi, Polisi Hutan dan Satpol PP.

Amatan Wartawam, bongkahan giok Aceh sebesar mobil Avanza itu, berwarna hijau, hitam dan berkulit kuning. Batu tersebut mulai dibelah dengan menggunakan chainsaw, diketok dengan martil atau di pahat, sehingga disekelilingnya bertaburan serpihan giok yang mubazir tak termamfaatkan. Sementara, serpihan super dan besar, kemudian dimasuk karung goni ditimbang dan kemudian diangkut warga dengan upah Rp 10ribu/kilogram.

Proses pembelahan dan pengangkutan semuanya dikomandoi kepala dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Nagan Raya, Samsul Kamal ST. ''Sudah bebera hari kami belah giok ini untuk dibawa ke Suka Makmue. Alhamdulillah, sudah 4 ton berhasil kami belah,'' katanya kepada wartawan ditengah teriakan bunyi chansaw belahan batu,beberapa hari yang lalu.

Menurut Samsul Kamal, batu giok ini disita pihaknya karena rawan terjadi konflik antar warga. Selain itu, pemilik batu tidak mengindahkan moratorium atau larangan mencari batu giok karena merusak hutan lindung, tanah longsor dan lainnya. Begitupun, dia tidak bisa memutuskan apakah pemilik batu giok ini memperoleh haknya atau tidak karena ini wewenang bupati Nagan Raya, DPRK, Kajari Suka Makmue, TNI dan Polisi yang tertuang dalam forum komunikasi pimpinan daerah Nagan Raya, Nomor: 02/Forkopinda/2015.

"Pegangan lainnya adalah Peraturan bupati (Perbub) Nagan Raya tentang batu setengah permata," ujarnya.

Sang pemilik yang menemukan giok 20 ton, Agusnawan alias Siyong (23), mengaku kecewa karena giok miliknya bersama kerabat saudaranya disita pemerintah. Padahal, anak almarhum Muhammad Musa asal Kulam Jerneh Beutong ini, mencari giok dengan niat membangun rumah bagi ibundanya, Sakiah yang sudah menjanda. Kemudian sisanya akan dimamfaatkan untuk melanjutkan pendidikan.

Selama enam bulan pencarian keluar-masuk hutan belantara, Siyong bersama Banta Raden, Safrizal, Usman, Kubit, Saiful dan Yah Usman (Tu), akhirnya menemukan bongkahan batu sebesar mobil Avanza ini. Karena baru tamat SMK Pertambangan, Siyong mengetahui tentang kualitas batu. Kemudian memukulnya dengan benda dan disenter, ternyata batu itu diduganya batu anggur, indocrase, bio solar dan neon dengan kualitas tinggi.

Setelah dipastikan baik dan berkualitas, mereka mencari akal untuk proses pembelahannya untuk dibawa pulang. ''Baru 150 kilogram dibelah, kemudian masyarakat kampung datang dan meminta bagiannya, maka kacau balaulah sehingga Pemda Nagan Raya turun tangan. Dan harapan kami pupus sudah,'' kata Safrizal yang juga ikut menemukan batu.

Cerita mistis di balik penemuan giok

Aroma Ghaib adalah suatu hal yang sangat kental dipercayai oleh kebanyakan Para Penambang Giok. Banyak cerita masyarakat, dibalik pesona batu yang menjadi incaran mereka, tak pelak pasti ada ‘penjaganya’. Penjaga yang dimaksud, sering di kait-kaitkan dengan penghuni suci yang sering disebut Aulia. “ Dan kadang juga ada batu yang dijaga makhluk halus( Jin), cerita M. Tayep,52 tahun, salah seorang pencari batu warga setempat -Desa Krueng Isep.

Cerita Mistis di tempat pertambangan giok, memang telah menjadi trending topic dikalangan para penambang. Kebanyakan penambang, mempunyai cerita tersendiri disaat mereka belum dan ketika berada dilokasi pencarian batu.” Batu ini, barusan saya dapatkan, entah kenapa hati saya seperti ada yang membisik untuk menggali ditempat itu, ujar Agus Fikar, 32 tahun kepada wartawan yang tengah memperhatikan kegiatan pertambangan tradisional tersebut. Lain Agus Fikar, lain pula cerita Mustafa,50 tahun. Sebelum dia berangkat ke hutan mencari batu, pihaknya sering bernazar dalam hati, bila mendapatkan jenis batu yang bernilai jual tinggi, ia akan kenduri potong kambing di lokasi penemuan batu tersebut. “ Kenduri biar tidak diganggu penghuni hutan ini, cetus Mustafa, serius.

Tradisi kenduri syukuran atau Peulheh Kaoi ( Lepas Nazar) dilokasi tempat Giok ditemukan, bagi para pencari batu, bukanlah sesuatu hal yang berlebihan. Malah Sering doa-doa tahlilan kelompok pemburu giok, menggema disetiap sudut perawan rimba yang menurut cerita pernah menjadi lintasan singgahan kelompok Gerilyawan Cut Nyak Dhien itu. Perihal kenduri, meskipun ada sebagian masyarakat yang tidak selalu mengait-ngaitkan dengan nuansa ghaib. Namun, ada juga masyarakat yang hanya sekedar untuk syukuran biasa. “ Sebagai hamba yang diberikan rizki alam, kita wajib membagi kesenangan dengan orang lain,” kata Abdul Latief, 59 tahun,

Tak terkecuali, nuansa gaib dibalik penemuan bongkahan 20 ton giok fenomenal itu pun, tak luput dari misteri. Menurut Safrizal, salah seorang anggota kelompok Penemu bongkahan giok fenomenal itu, setelah bongkahan batu giok ini ditemukan, dirinya bermimpi bahwa giok ini milik seorang putri yang dinampakkan wujudnya untuk diberikan kepada anak yatim fakir yang melarat kehidupannya.

Itu sebabnya, dia berharap Pemkab Nagan Raya diminta untuk mempedulikan Siyong selaku pemilik yang menemukan bongkahan giok ini. Selain Siyong, dia dan kawan-kawan lain yang menemukan batu tersebut juga berharap memperoleh manfaat dari hasil kerja keras mereka.

Dia juga mengaku bahwa giok 20 ton ini telah ditemukan pihaknya, sebulan lalu, sebelum larangan pemerintah diterapkan. Namun, saat itu pihaknya menjaga karena kuatir dijarah orang lain.

Niat baik dan ketulusan hati anak yatim ini membuahkan hasil. Namun, keinginan untuk membahagiakan orang tuanya dan bersekolah kembali terganjal setelah rezeki giok yang dimilikinya disita pemerintah.Kini, siswa tamatan SMK jurusan pertambangan itu, mengalami trauma berat bersama ibundanya, Sakiah (53) yang masih koma di rumah sakitdi Aceh Barat Daya.

Ketika ditanya, apakah mereka tahu tentang larangan pencarian giok, masyarakat berpendidikan rendah dan berekonomi pas-pasan itu, mengaku tidak mengetahuinya. Mereka dan ratusan masyarakat lainnya yang masih aktif mencari batu mengaku sama sekali tidak disosialisasikan tentang Perbub dan keputusan Forkopinda oleh pejabat terkait.

Padahal jauh-jauh hari akademisi kampus Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pelita Nusantara Nagan Raya, Banta Diman S.SosI,M.Si telah mengingatkan pihak terkait untuk melakukan sosialisasi tentang peraturan bupati kepada masyarakat setempat. Tujuannya, agar warga memahaminya dengan baik sehingga tidak merasa dirugikan.

Kontroversi

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Nagan Raya, Wahidin meminta pemerintah untuk memberikan hak pada pemilik giok itu. Wahidin menilai, sikap tersebut telah merugikan ekonomi masyarakatnya. Parahnya lagi, cara distamben membelah batu dengan diketok pakai martil dan di pahat, dinilainya sangat merugikan pemilik batu, karena banyak yang hancur tak bisa termamfaatkan.

Begitu juga dengan alasan pemerintah terkait kerusakan hutan. ''Mana mungkin hutan rusak sementara giok disortir dengan disenter atau diketok dari jutaan batu yang ada. Dan giok umumnya diperoleh di Alue (parit) dan sungai,'' ujarnya, Rabu lalu.

Wahidin juga berharap pemerintah Nagan Raya harus segera melahirkan undang-undang agar adanya kepastian hukum bagi masyarakat terhadap pajak sebagai pendapatan asli daerah.

Hal yang sama disampaikan Rahmat Hidayat SH. Praktisi hukum ini menilai tindakan pemerintah Nagan Raya yang menyita 20 ton giok milik warganya, dituding diskriminatif dan sewenang-wenang.
''Ini diskriminasi dan sewenang-wenang. Masyarakat dilarang ambil batu giok dengan alasan rusak hutan lindung. Sementara, pemerintah sendiri yang ambil giok untuk dibelah, dicincang dan dibawa pulang. Apa tidak merusak alam,'' katanya.

Menurut Rahmat, pemerintah Nagan Raya menerbitkan moratorium tentang larangan pencarian giok, sementara pemerintah sendiri sebagai pelaku penambangan giok dikawasan hutan lindung.

Dia heran dengan sikap pemerintah yang melakukan penyitaan giok 20 ton milik masyarakat, karena hingga kini belum ada regulasi yang jelas terhadap batu itu. Untuk itu, dia meminta pemerintah untuk mengembalikan giok tersebut kepada masyarakat karena perbub dan keputusan pimpinan daerah Nagan Raya dinilainya, lemah.

Jenis giok Aceh Batu giok lazimnya berasal dari Tiongkok. Di bumi Indonesia juga memiliki jenis batu permata ini. Misalnya di Aceh, batu giok atau nephrite jade telah lama dikenal warga, seperti giok jenis indocrase, neon, solar, bio solar, belimbing, madu, lavender, bada besi, spotlet dan lainnya.

Keanekaragaman giok Aceh tersebut dapat ditemukan terutama di daerah Beutong, Nagan Raya, di sungai lumut, Aceh Tengah dan Gayo Lues, di Panga, Aceh Jaya, di Tangse, Pidie dan di Pantee Ceureumen, Aceh Barat.

Giok Aceh memiliki keindahan tersendiri bagi masyarakat seni dan pencintanya. Dia juga memiliki ragam warna, merah, hijau, hitam dan putih. Meski tingkat kekerasan hanya pada level 6-6,5 skala Mohs, namun giok Aceh membutuhkan waktu dan tidak gampang untuk mengkilatnya karena didalam benda keras itu mengandung serat filamen.

Ketua Gabungan Pencinta Batu Alam Aceh (Gapba), Nasrul Sufi SSos,MM kepada wartawan mengatakan, batu giok Aceh di Beutong, Nagan Raya dan sekitarnya, memiliki kualitas dunia. Hal tersebut terbukti ketika kontes batu tingkat asia fasifik di Jakarta tahun lalu, giok Aceh berhasil meraih peringkat satu, dua, tiga, empat dan lima, sehingga giok Aceh semakin gencar diburu warga.

Kata Nasrul, giok Aceh yang paling diburu di pasar lokal, nasional dan internasional adalah, indocrase, spotlet, nephrite, anggur, solar dan lainnya. Selain itu, Aceh juga memiliki batu akik, seperti sulaiman

MUKHLIS

Komentar

Loading...