Unduh Aplikasi

Mendorong Investasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Aceh

Mendorong Investasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Aceh
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh, T Munandar. Foto: Ist

BANDA ACEH - Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Teuku Munandar mengunkapkan kalau kinerja perekonomian Aceh menunjukkan perbaikan setiap tahunnya.

Menurutnya perekonomian selama tiga tahun terakhir sejak 2016 s/d 2018, tercatat tumbuh positif masing-masing sebesar 3,29 persen, 4,18 persen, dan 4,61 persen. Kondisi makroekonomi Aceh juga diperkuat dengan inflasi yang stabil, dengan pencapaian tahun 2018 di level 1,84 persen (yoy), atau terendah ketiga di Indonesia.

"Angka kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka juga menunjukkan perbaikan dengan data per semester pertama 2019 masing-masing sebesar 15,32 persen dan 5,53 persen, yang merupakan angka terendah dalam 18 tahun terakhir," kata Teuku Munandar kepada AJNN, Kamis (10/10)

Namun pencapaian positif tersebut tidak serta merta membuat stakeholder di Aceh berpuas diri, karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi Aceh yang inklusif, berkualitas, dan berkesinambungan.

Ia menjelaskan keterbatasan kemampuan pemerintah daerah dan pelaku ekonomi lokal menjadikan keterlibatan pelaku ekonomi dari luar Aceh, bahkan pihak asing diperlukan untuk mengatasi berbagai pekerjaan rumah yang sudah di depan mata.

"Bentuk dukungan dari pelaku ekonomi dari luar Aceh diantaranya melalui inventasi di sektor riil, yang diharapkan akan membantu percepatan pembangunan ekonomi di Aceh," ungkapnya.

Ia menjelaskan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh dan Pusat selama ini cukup baik dalam membangun iklim investasi yang kondusif dan bersahabat. Kebijakan-kebijakan yang pro investasi dikeluarkan, diiringi dengan promosi ke berbagai negara.

"Dukungan Pemerintah Pusat juga terlihat dari diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 2017 mengenai Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe," ujarnya.

Selain itu, kata Teuku Munandar, pembangunan infrastruktur sebagai sarana pendukung investasi di Aceh juga dilakukan melalui beberapa proyek strategis nasional, diantaranya jalan tol Banda Aceh - Medan yang groundbreaking-nya sudah dilakukan oleh Presiden Jokowi tanggal 14 Desember 2018. 
 
Berdasarkan data BPS yang diolah oleh Bank Indonesia dan disajikan dalam buku Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Agustus 2019, selain konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah, investasi menjadi salah satu dari tiga komponen yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran sepanjang triwulan II – 2019.

"Komponen investasi atau PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) tumbuh 5,30 persen(yoy), dan telah memberikan andil sebesar 1,27 persen pada kinerja pertumbuhan ekonomi. Sampai dengan triwulan II-2019, total nilai investasi di Aceh tercatat Rp5,63 triliun, atau lebih baik dibandingkan triwulan II-2018 yang tercatat sebesar Rp494,88 miliar," jelasnya.

Ia menambahkan sumber investasi hingga triwulan II-2019 di Aceh bersumber sebagian besar dari investasi domestik PMDN Rp4,12 triliun (73 persen) sedangkan sisanya dari investasi asing (PMA) sebesar Rp1,51 triliun (27 persen).

Investasi domestik pada triwulan laporan tercatat didominasi oleh sektor listrik, gas, dan air sebesar Rp3,19 triliun atau 77,43 persen. Investasi dalam sektor tersebut diwujudkan dalam bentuk pembangunan pembangkit tenaga listrik.

"Sementara investasi asing tercatat didominasi oleh investasi pada sektor pertambangan (32 persen) dan sektor pertanian (30 persen). Investasi di sektor pertambangan berasal dari pembangunan infrastruktur pabrik batubara, sedangkan sektor pertanian berasal dari investasi di subsektor perkebunan kelapa sawit," kata Munandar.

Selanjutnya, kata Munandar, untuk meningkatkan investasi di Aceh khususnya di sektor riil, diperlukan koordinasi dan kolaborasi seluruh stakeholder, tak terkecuali masyarakat. Aceh merupakan daerah yang memiliki potensi ekonomi di berbagai sektor.

"Dari sektor pertanian, komoditas seperti kopi, nilam, pinang dan kelapa, tumbuh subur di Aceh, bahkan kualitasnya mendapat pengakuan dunia," jelasnya.

Sementara dari sektor perikanan, kekayaan laut Aceh dengan berbagai komoditas yang memiliki potensi di pasar global seperti ikan tuna, lobster, dan rumput laut menjadikan Aceh memiliki daya tarik investasi bagi industri kelautan dan perikanan.

"Masih banyak sektor unggulan dan potensial lainnya di Aceh seperti pariwisata dan pertambangan yang dapat mengundang minat investor untuk berinvestasi di Aceh, sepanjang dapat dikelola dan dipromosikan dengan optimal," jelasnya.

Selain itu, tambah Munandar, dukungan masyarakat dengan menjaga kedamaian dan kerukunan hidup akan membantu aparat keamanan dalam menjaga kondusifitas Aceh, sehingga menciptakan jaminan keamanan investasi bagi investor dan calon investor.

"Semoga dengan berkembangnya investasi sektor riil di Aceh, akan membuka lapangan kerja baru, menciptakan kemandirian ekonomi daerah, melepaskan ketergantungan terhadap APBA, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat," kata Teuku Munandar.

iPustakaAceh

Komentar

Loading...