Unduh Aplikasi

Mencegah Lebih Baik dari pada Mengobati

Mencegah Lebih Baik dari pada Mengobati
Ishalyadi

Oleh: Ishalyadi

Kalimat tersebut tentu sangat familiar di setiap benak tenaga kesehatan. Hal itu  tidak hanya berlaku dalam hal  pencegahan penyakit saja. Kalimat tersebut juga sangat cocok untuk kasus yang baru terjadi di Puskesmas Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat. Dimana kepala Puskesmas menjadi bulan-bulanan masa akibat dari penyampaian yang tidak bijak, bahwa ambulan yang dibutuhkan oleh masyarakat yang hendak digunakan untuk mengantar jenazah korban kecelakaan tidak bisa digunakan dengan alasan tidak ada Bahan Bakar Minyak (BBM).

Jika pun benar bahwa BBM tidak tersedia untuk operasional ambulan, maka juga tidak tersedia kata-kata bijak yang sesuai untuk disampaikan kepada masyarakat untuk tidak memacing emosi masyarakat karena masyarakat sedikit banyaknya sudah mengetahui bahwa pelayanan kesehatan adalah 24 jam dan hampir semuanya dibiaya oleh pemerintah.

Maka dari itu dinas kesehatan kabupaten sebagai tempat bernaung semua puskesmas tentunya harus secepatnya menyelesaikan dan meninjau kembali kasus ini. Apakah memang diperbolehkan mobil ambulan dalam keadaan tidak siap siaga.

Penulis tidak bisa membayangkan jika dalam keadaan darurat ada pasien yang sedang kritis dan membutuhkan segara ambulan tersebut. Apalagi yang membutuhkan itu adalah masyarakat miskin. Kita bisa membayangkan betapa hancurnya perasan dan tingginya emosi masyarakat disaat kasus seperti ini terhadi. Padahal penyediaan ambulan yang juga dari pajak rakyat bertujuan untuk membantu dan mempercepat proses dalam hal-hal kemanusiaan dan pelayanan sosial.

Kasus ambulan tidak ada BBM menambah deretan panjang catatan nilai negatif di sektor pelayanan kesehatan khususnya di Aceh Barat yang seharusnya dapat dicegah. Permasalahan ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Dimana ambulan tidak bisa beroperasi karena alasan tertentu. Kasus ini seharusnya juga menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemimpin daerah, wakil rakyat yang ada di komisi Kesehatan dan dinas kesehatan. Peran pimpinan daerah, wakil rakyat tentunya akan sangat berpengaruh dalam mensejahterakan pelayanan publik khusunya di bidang kesehatan.

Dalam kasus ini ada banyak hal yang harus diperbaiki dan menjadi acuan penting untuk menganalisa subtansi dari sebuah permasalahan. Jangan hanya menjadi oretan di koran yang berlalu begitu saja.

Penulis melihat bahwa ada dua kemungkinan terjadi kesalahan sehingga berujung pada pemukulan Kepala Puskesmas. Pertama adalah sistem pelayanan itu sendiri. Dimana sebuah pelayanan harus memiliki sistem yang terintegrasi.  Apakah ada SOP yang mewajibkan bahwa setiap ambulan wajib siap siaga atau tidak. Jika tidak ada, maka sistem itu harus diperbaiki secepatnya. Karena semestinya biaya operasional itu wajib ada.

Permasalahan kedua adalah terletak pada manusia. Yang disebut dengan Human eror. Dimana manusia (pekerja) telah di atur oleh sebuah sistem. Akan tetapi manusia itu tidak mematuhinya. Misalkan di dalam SOP tertera bahwa setiap ambulan harus dirawat secara berskala dan siap siaga, termasuk ketersedian BBM.  Akan tetapi manusianya lalai dan tidak sigap. Sehingga kasus seperti ini terjadi. Jika SOP telah ada dan manuasianya sering silap maka disinilah peran pimpinan dalah hal ini kepala puskesmas yang wajib melakukan pengawasan agar SOP tersebut berjalan sebagai mana mestinya.

Kasus ini juga harus menjadi pengalaman dan pelajaran bagi semua pimpinan Puskesmas maupun sektor pelayanan kesehatan lainnya. Jangan dianggap sebagai hal yang sepele dan sebagai bahan lelucon. Bahwa sektor kesehatan merupakan pekerjaan yang bergerak di bidang kemanusiaan.

Sering sekali permasalahan sosial di bidang kesehatan menjadi area yang subur terjadi konflik antara pemberi pelayanan dengan penerima pelayanan. Masih untung jika hanya luka biasa akibat amukan masa. Jika sampai terjadi hal-hal fatal akibat amukan masa sungguh tak sebanding bukan dengan harga BBM Rp 100 ribu hingga 200 ribu.

Masyarakat juga harus pintar dan bijak dalam menanggapi setiap permasalahan yang hadir dilingkunganya. Bahwa aksi premanisme dan arogansi bukanlah hal yang positif. Masih banyak cara lain yang lebih bijak dalam memberikan protes atas permasalahan pelayanan kesehatan. Seperti melayangkan surat protes ke pimpinan daerah atau kepada wakil rakyat dan lain lain.

Semoga kasus ini menjadi pelajaran dan akan mendewasakan kita semua baik itu para pemberi pelayanan maupun penerima pelayanan. Semoga Allah memberikan kedamaian kepada kedua belah pihak baik itu masyarakat yang melakukan pemukulan maupun korban. Yaitu Kepala Puskesmas itu sendiri. Dan kita berharap agar Allah memberikan kesehatan dan kesembuhan kepada Kepala Puskesmas selaku korban amukan massa.

Penulis adalah mahasiswa Promosi Kesehatan Pascasarjana Universitas Diponegoro, dan penerima beasiswa LPDP

Komentar

Loading...