Unduh Aplikasi

Menanti Tali Asih untuk Indah Magfirah

Menanti Tali Asih untuk Indah Magfirah
Indah Maghfirah dan Siti, Ibunya. Foto: Rusman
NAGAN RAYA - Nasib Indah Magfirah tak seindah namanya. Saat bocah seumurannya menikmati indahnya masa bermain, dia hanya bisa berbaring. Kaki dan tulang belakangnya terlalu lemah untuk menopang berat badannya. Sepanjang hari, sejak tiga tahun lalu, dia melakukan segalanya di atas tempat tidur.

Indah adalah anak pertama Zulkifli (33) dan Siti Babon (30). Mereka menetap di rumah sederhana di Jalan Listrik, Nomor 26, Dusun Kemangan Gampong Simpang Peut, Kecamatan Kuala, Nagan Raya. Segalanya normal bagi Indah hingga dia terjatuh saat bermain dengan teman-temannya. Saat itu umurnya tujuh tahun.

Sejak saat itu, kondisi kesehatannya terus memburuk. Siti mengaku tak memiliki harta untuk dijual demi memulihkan kondisi anaknya. Di awal-awal kecelakaan itu, Indah pernah diobati hingga ke Rumah Sakit Zainoel Abidin. “Awalnya di Rumah Sakit Nagan Raya. Setelah itu, dua malam di Meulaboh, kemudian sampai ke Banda Aceh.”

Di Zainoel Abidin, kata Siti, dokter tak menemukan keanehan di tubuh Indah. Namun di Rumah Sakit Cut Nyak Din, Meulaboh, dokter mengatakan syaraf Indah bermasalah. Sayang, tak ada tindak lanjut untuk mengobati Indah. Terakhir kali Indah mengecap perobatan medis pada 2015. Sisanya, Indah hanya diobati secara tradisional.

Kini, kondisi gadis cilik ini sangat mengenaskan. Nyaris tanpa daya. Tubuhnya ringkih. Indah bahkan tak bisa berbicara dan makan secara normal. Untuk memasukkan makan ke perut, Siti harus menggunakan selang. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi untuk menyembuhkan Indah.

Sebagai buruh tani, Siti dan suaminya mengaku hanya berharap pertolongan Allah lewat para dermawan yang bersedia membantu kesembuhan Indah. “Semua yang kami punya habis,” ungkap Siti.

Komentar

Loading...