Unduh Aplikasi

Menantang Erick Thohir Menghitung Keringat

Menantang Erick Thohir Menghitung Keringat
Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin, Erick Thohir. Foto: Bisnis

Oleh: Prasetyo Aji Nugraha

Pernyataan Erick Thohir yang meminta Presiden Jokowi memilih menteri yang berkeringat sepertinya perlu di kaji dalam dalam karena sangat multi tafsir. Semoga yang di maksud berkeringat adalah mereka yang berkeringat untuk Jokowi bukan untuk yang calon Presiden yang lain.

Oke deh..... pertama, mari kita periksa siapa yang berkeringat untuk kemenangan Jokowi. Kedua, mulai kapan tetes keringat itu di hitung? Apakah mulai dari Jokowi menjadi Wali Kota Solo? Atau sejak Jokowi maju menjadi Gubernur? Atau mungkin sejak Pilpres 2014? Atau jangan jangan Erick cuma menghitung tetes keringat itu sejak TKN di bentuk?

Kalau sejak Walikota dan terus menerus berkeringat tanpa henti hingga Gubernur, Pilpres 2014 dan Pilpres 2019 maka tetes keringat terbanyak yang mengalir tidak bisa di pungkiri adalah keringat dari PDI Perjuangan. Jika itu ukurannya maka sudah seharusnya semua Menteri ya dari PDI Perjuangan.

Keringat ke dua terbanyak itu kira kira milik sekitar 4 atau 5 organisasi relawan yang berjuang sejak Jokowi dari Solo masuk Jakarta. Dengan demikian maka menteri 2019 - 2023 perlu juga yang dari unsur Relawan.

Belum cukup? Indonesia ini negara besar maka keringat yang lain pun harus di hitung dengan tepat dan akurat. Kalau begitu kita tambah. Pertama PDI Perjuangan, Kedua Relawan dari 2012 dan setia hingga 2019 lalu ketiga Partai Partai yang ikut mendukung Jokowi jadi Gubernur, Pilpres 2014 dan tetap setia di Piplres 2019. Nah partai mana saja itu silahkan googling.

Karena Republik ini penuh masalah yang kompleks maka selain 3 unsur di atas maka kita perlu juga mengakomodir yang non partai dan non Relawan yaitu dari Profesional. Ayo kita cari siapa Profesional yang setia berjuang untuk Jokowi dari 2012 hingga 2019 ? Setuju? Kalau setuju kita persempit ruang pencarian sang Profesional paling berkeringat melalui komposisi TKN.

Di TKN ada 3 orang yang paling berkeringat karena berada di puncak pengambil keputusan. Mereka berkeringat bukan saja karena bekerja tapi juga sering keringat dingin saat mengambil keputusan, lalu keringat lagi waktu ngejar donatur, trus keringatan lagi saat di cuekin istri karena jarang pulang dll. Siapa ke tiga orang itu? Pertama Ketua TKN yaitu Erick Thohir. Kedua Sekretaris TKN yaitu Mas Hasto Kristianto. Ketiga Bendahara TKN yaitu Wahyu Sakti Trenggono.

Dari tiga nama itu maka yang berkompetisi keringat saat sesungguhnya tinggal Erick Thohir dan Wahyu Sakti Trenggono. Kenapa tinggal dua? Karena Sekretaris TKN dalam hal ini termasuk dalam unsur Partai yaitu PDI Perjuangan.

Singkat cerita, jika Erick Thohir setia pada kata katanya maka dia harus mencoret nama nya sendiri dari listing calon Menteri. Kenapa demikian? Karena keringat Erick Thohir baru menetes sejak tanggal 7 September 2018 dan tetesannya berhenti pada tanggal 26 Juli 2019, sekitar 10 bulan.

Sementara Wahyu Sakti Trenggono berkeringat basah kuyup memperjuangkan Jokowi mulai dari tim 11 untuk memboyong Jokowi dari Solo ke Jakarta lalu tim transisi 2014 bahkan juga harus berkeringat karena lebih memilih Jokowi dan meninggalkan jabatan Bendahara Umum PAN di tahun 2014. Kebayang gak gimana keringatannya saat memutuskan tinggalkan Partai dan menjadi profesional non partisan hanya untuk mendukung Jokowi

Semoga Erick Thohir punya kalkulator yang akurat untuk menghitung tetes demi tetes keringat tidak hanya menghitung pengeluaran untuk Republika dan Alif TV yang menjadi pelopor TV umat Islam seperti klaim Erick Thohir di depan Menkoinfo Tiffatul Sembiring 2010 lalu. Semoga Erick Thohir konsiten dengan kata katanya memilih yang berkeringat dan paling berkeringat untuk duduk di kabinet.

Mungkin karena hitungan keringat itu juga yang membuat Erick Thohir dengan tegas gagah berani sekitar satu bulan lalu pernah menyatakan akan menolak menjadi Menteri. Awalnya Heroik tapi kemudian mengendur sendiri dengan pernyataan berikut “saya cukup di KEIN saja” dan berubah lagi minggu lalu ketika Erick menyatakan “Kalau di KSP saya bersedia”.

Hmmmm dalam 1 bulan ada 3 pernyataan yang berubah ubah, semoga minggu depan tidak berubah lagi dengan pernyataan “Karena Bapak Presiden yang minta maka saya tak kuasa menolak jabatan Menteri BUMN” Wkwkwkwk apakah Jokowi akan menjadi kambing hitam dan bumper dari ambisinya? Kita lihat pengumuman kabinet sebentar lagi.

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Nanyang Technological University

Komentar

Loading...