Menakar Kualitas Pendidikan Indonesia di Tengah Kualitas Pendidikan Dunia

Menakar Kualitas Pendidikan Indonesia di Tengah Kualitas Pendidikan Dunia
Tenaga Ahli Disdik Aceh, Maharadi. Foto: Dokumen pribadi.

Oleh: Maharadi

Jika setiap guru sains, sejarah, geografi, dan guru budaya di indonesia mau berlangganan majalah-majalah seperti National Geographic, Smithsonian, Discover dan Historia, atau berlangganan Channel TED Talks dan The School of Life. Maka setiap guru dengan mudah terhubung langsung dengan ilmu-ilmu Up To Date melalui Akun Facebook ataupun Instagram mereka.

Cukup hanya menekan tombol “like” pada fanpage dan tombol “ikuti” pada majalah ataupun kanal berita yang diinginkan dan setiap informasi terbaru akan secara otomatis muncul di beranda media sosial, sehingga materi yang disampaikan guru secara e-learning maupun blended learning tidak hanya terbatas pada apa yang tertera dalam kurikulum ataupun silabus, tetapi dari hari ke hari di-upgrade sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. 

Secara aktual, guru-guru dihadapkan pada situasi distrupsi yang terus bergerak dan semakin kompleks. Era 4.0 tidak hanya tentang kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan, melainkan juga peralihan realitas real ke realitas virtual dalam konstruksi masyarakat yang semakin cepat.

Guru-guru harus menyesuaikan diri dengan model masyarakat interaktif yang serba teknologi. Guru di era sekarang harus memiliki keterampilan dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. 

Tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum pendidikan atau silabus yang ada, justru kurikulum pendidikan haruslah memiliki relevansinya dengan tantangan zaman di era sekarang. 

Era yang mana persaingan semua ruang lingkup menjadi ukuran atas kemampuan penguasaan Iptek. Demikian juga dampak yang muncul terhadap dunia pendidikan. Mampukah sistem pendidikan kita menjawab semua tantangan itu?

Teknologi dimanfaatkan sebagai sumber informasi cepat. Kemajuan teknologi sekaligus juga menciptakan daya bersaing SDM yang makin ketat. Guru-guru dituntut harus memiliki kualifikasi profesional secara akademik dengan kompetensi-kompetensi yang memumpuni. 

Tugas guru bukan lagi sebagai penceramah di kelas, bukan juga tukang suruh agar siswa-siswi menjadi penghafal pelajaran yang handal. Ia adalah fasilitator juga motivator bagi para siswa-siswi agar pengetahuan yang dipelajari bisa diserap, dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupan yang nyata di masyarakat.

Namun, jika kita melihat kualitas pendidikan indonesia melalui hasil laporan tes yang dilakukan oleh Organization For Economic Coorperation And Development atau (OECD) dan Program for International Student Assessment (PISA) pada 2018 silam. Indonesia ada pada rangking 72 dari 78 negara, alias 10 peringkat terbawah dari hampir 80 negara. sedangkan negara tetangga seperti Singapura ada pada urutan pertama. 

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia diikuti dengan tata kekola manajeman dan kinerja yang lemah, akses pendidikan yang tidak merata pada semua tingkat pendidikan, juga sistem regulasi dan birokrasi yang belum good governance, bahkan KPK melaporkan temuan korupsi sangat tinggi di sektor pendidikan. 

Baca Selanjutnya...
Halaman 12
Topik Terkait:

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini