Unduh Aplikasi

Memerdekakan Sikundo

Memerdekakan Sikundo
Jembatan gantung di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceuremen, Kabupaten Aceh Barat. Keberadaan jembatan gantung itu semakin mempermudah akses bagi warga Sikundo. Dulu warga mengandalkan jembatan kabel sebagai akses ke desa. Selain jembatan, pemerintah membangun rumah dan jaringan listrik.

Puluhan tahun warga Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, terisolir. Hidup tanpa listrik, jalan rusak berat, dan saban hari bertaruh nyawa di jembatan kabel.

Namun, kini perlahan mereka mulai keluar dari ketertinggalan, listrik sudah menyala, jembatan gantung telah dibangun, dan rumah komunitas adat hampir rampung. Inilah saatnya memerdekakan Sikundo.

Menjelang sore, Kamis, 19 September 2019 lalu, Nurullah (35) terlihat sedang mengayam tikar di beranda rumahnya, di Desa Sikundo. Anaknya yang bungsu, Ahmad Fuadi (1,8 tahun) tidur nyenyak di sebelahnya.

Sejak ada listrik Nurullah sudah bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, seperti menanak nasi dan mengayam tikar. “Sudah ada listrik, sudah enak,” kata ibu empat anak ini.

Kini Nurullah tidak lagi memasak nasi menggunakan kayu bakar, namun sudah menggunakan alat penanak nasi listrik. Sambil menunggu nasi matang, dia bisa bermain dengan anak dan membersihkan rumah.

Karena sudah ada listrik pula, Nurullah menyulap beranda rumah menjadi kedai kopi. Sebuah pesawat televisi yang dibeli dua bulan lalu diletakkan di sudut. “Kalau malam warga ngumpul di sini, nonton TV sambil minum kopi,” kata Nurullah.

Tanggal 18 Mei 2019 menjadi hari paling bersejarah bagi Desa Sikundo. Saat usia negara ini 74 tahun, itulah pertama kali listrik menyala di desa terpencil itu. Wajar saja bila warga menyambut bahagia. Kini malam-malam di Sikundo bukan lagi kegelapan. Rumah-rumah warga telah diterangi lampu.

Kepala Desa Sikundo Muhammad Jauhari mengatakan penantian panjang kehadiran listrik menjadi kenyataan. Bagi Jauhari listrik adalah gerbang untuk keluar dari ketertinggalan. “Kenapa saya bilang begitu. Sekarang kami bisa nonton berita di TV, kami sudah update informasi,” kata Jauhari.

Pembangunan listrik ke Sikundo merupakan program Pemerintah Aceh bekerja sama dengan PT PLN Persero (Tbk) Wilayah Aceh. PLN membangun jaringan sedangkan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh membantu pemasangan meteran ke rumah-rumah warga. Juamlahnya 39 rumah. Setiap rumah mendapatkan meteren kapasitas 2 ampere. “Semua gratis, kami tinggal pakai saja,” ujar Jauhari.

Jaringan listrik dan jembatan gantung kini sudah bisa dinikmati oleh warga Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceuremen, Kabupaten Aceh Barat. Desa ini terletak jauh di pedalaman, bertahun-tahun terisolir kini akses kian mudah. Selain listrik, jembatan, pemerintah juga membangun rumah komunitas adat terpencil

Kepala Dinas ESDM Aceh Mahdinur mengatakan, pemasangan jaringan listrik ke Sikundo bagian dari 15 program unggulan Pemprov Aceh, yakni Aceh Energi. Mahdinur mengatakan pemerintah berkomitmen memeratakan energi listrik bagi warga hingga daerah pelosok, seperti Sikundo dan Simpang Jernih, Aceh Timur.

Tahun ini ada 5.000 rumah yang dipasangi meteran kapasitas 2 ampere oleh Dinas ESDM Aceh. “Saat ini sudah 99 persen daerah di Aceh teraliri listrik. Tahun 2020 target kami sudah 100 persen,” ujar Mahdinur.

Jembatan gantung

Desa Sikundo, desa terpencil di Aceh Barat. Letaknya di pegunungan dan hutan belantara. Sikundo berbatasan dengan Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Tengah. Jarak dari Kota Meulaboh sekitar 80 kilometer, sedangkan dari ibu kota kecamatan 25 kilometer.

Akses ke Sikundo sulit. Setelah melewati Desa Jambak, desa terakhir yang teraspal masih harus menempuh 6 kilometer lagi dengan medan yang sulit. Jalan tanah, berbatu, dan menanjak. Beberapa titik jalan nyaris putus karena abrasi sungai. Untuk mencapai ke desa itu harus melewati empat jembatan kabel.

Jumlah penduduk Sikundo 43 keluarga atau 194 jiwa. Mereka hidup dari hasil bertani seperti menanam padi, cabai, pinang, kemiri, jengkol, dan durian. Hasil panen dijual ke ibu kota kecamatan diangkut melalui sungai menggunakan ban dalam mobil.

Jauhari menuturkan, desa itu telah didiami penduduk sejak masa perjuangan Cut Nyak Dhien rentang waktu tahun 1880 – 1901. Disebut-sebut nama Sikundo ditabalkan oleh Cut Nyak Dhien karena daerah itu menjadi tempat persembunyian pasukan saat dikejar tentara Belanda. Sikundo berasal dari kata kundo (kendur/reda).

Pada 1990 hingga 1998 kawasan Sikundo dikuasai perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) PT Raja Garuda Mas. Pada saat itu, sebuah perusahaan lain melakukan pertambangan emas di sana.

Namun, pada masa konflik Aceh, perusahaan itu angkat kaki. Sikundo dianggap daerah merah oleh tentara. Banyak anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang lari ke sana. Kontak senjata kerap terjadi. Warga Sikundo merasa tidak aman lagi. Pada tahun 2000 mereka direlokasi ke Pante Ceuremen.

Setelah perdamaian tahun 2005 warga kembali ke Sikundo. Mereka ingin membangun kembali kampung yang pernah ditinggalkan. “Kami lahir di sini, ini tanah nenek moyang. Kami ingin hidup dan mati di sini,” kata Jauhari.

Kala itu akses ke Sikundo sangat ekstrem. Warga berjalan kaki menyusuri sungai. Mereka menyeberang sungai dan menaiki tujuh jembatan tali baja. Kondisi itu berlangsung hingga 2015.

Jauhari menambahkan tahun 2015 Sikundo mulai mendapatkan dana desa. Warga menyepakati dana desa dari 2015 sampai 2017 difokuskan untuk pembangunan jalan sepanjang 3,5 kilometer. Mereka sepakat memindahkan aliran sungai sehingga tidak perlu lagi meniti jembatan kabel. Paling tidak kini telah bisa dilewati dengan sepeda motor.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya dana desa, kami mulai bisa membangun,” kata Jauhari.

Harapan untuk berkembang kian besar. Sebuah jembatan gantung menuju Sikundo telah rampung dibangun. Jembatan gantung ini dibangun pada 2017 dan sejak 12 Februari 2019 telah bisa digunakan warga. Jembatan ini terbentang sepanjang 90 meter lebar 2,30 meter. Jembatan ini dapat dilalui kendaraan roda empat. Sekaligus menggantikan jembatan seutas baja yang mereka gunakan bertahun-tahun. Pembangunan jembatan dibiaya dana dari kabupaten dan provinsi, totalnya Rp 2,7 miliar.

“Sekarang sudah bisa bawa cabai dengan honda (sepeda motor). Walaupun jalannya masih belum bagus semua,” kata Jauhari.

Rumah KAT

Pada Januari 2019, Desa Sikundo sempat viral di lini masa media sosial. Dalam foto dan video yang beredar itu beberapa siswa terlihat sedang meniti seutas baja. Saat itu, jembatan gantung sedang dalam proses pembangunan.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah merespon cepat. Nova memerintahkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh dan Kepala Dinas Sosial Aceh turun Sikundo. Nova menginginkan Sikundo harus dibangun segera melibatkan lintas sektor. Pada Februari 2019, jembatan gantung di Sikundo rampung.

Pada 15 Juli 2019 Nova turun langsung ke Sikundo. Nova menjadi Gubernur Aceh pertama yang mengunjungi Sikundo. Nova meletakkan batu pertama pembangunan rumah komunitas adat terpencil (KAT) dan meresmikan jaringan listrik.

"Setelah adanya KAT, hadirnya MCK, listrik, maka nanti akan disusul dengan aksesibilitas yang juga akan kita perbaiki," kata Nova.

Pekerja sedang merampungkan pembangunan rumah komunitas adat terpencil di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceuremen, Kabupaten Aceh Barat. Pembangunan rumah tersebut dibiayai oleh Kementerian Sosial RI. Selain pembangunan rumah, pemerintah juga membangun jembatan dan jaringan listrik ke desa terpencil itu.

Jumlah rumah KAT yang dibangun 39 unit. Rumah ini tipe 24 dengan kontruksi semi permanen. Pembangunan dibiayai oleh Kementerian Sosial RI. Sedangkan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) dibangun dengan dana sosial dari PT Mifa Bersaudara, sebuah perusahaan tambang batubara di Aceh Barat.

Nova menuturkan, pembangunan Sikundo harus dilakukan bersama-sama antara Pemkab Aceh Barat, Pemprov Aceh, dan Pemerintah Pusat. Sebab, masih banyak infrastruktur yang harus dibangun. “Rehabilitasi jalan sangat mendesak agar akses ke sini lebih mudah,” ujar Nova.

Jailani (40) warga penerima rumah KAT ditemui AJNN pada 19 September 2019 di Sikundo menyampaikan terima kasih atas bantuan rumah yang dia peroleh. Saat ini progres pembangunan rumah KAT mencapai 50 persen.

Butuh intervensi lebih

Dengan menggunakan dana desa, sebuah polindes telah dibangun di desa itu. Kepala Desa, Jauhari mengatakan pada akhir tahun ditargetkan polindes sudah operasional. Namun, kendala utama belum ada tenaga medis yang akan mengelola polindes.

“Yang penting bangunannya kita siapkan dulu. Saya sudah mengirimkan surat kepada bupati meminta dikirimkan petugas medis ke sini. Paling tidak seminggu dua kali bisa melayani warga,” ujar Jauhari.

Persoalan lain yang sangat mendesak harus ditangani, kata Jauhari, mengaktifkan kembali sekolah dasar di Sikundo. Bangunan sekolah dasar berada di seberang sungai sementara tidak ada jembatan menuju ke sana.

“Dulu ada jembatan kayu milik perusahaan HPH, tapi sudah hanyut dibawa banjir. Kami berharap dibangun jembatan gantung khusus penyeberangan orang agar sekolah kembali aktif,” kata Jauhari.

Baru-baru ini Jauhari mendapat kabar gembira dari Pemkab Aceh Barat, jembatan akan segera dibangun sehingga pada tahun ajaran 2020 sekolah itu sudah aktif kembali. Bagi Jauhari, pendidikan adalah gerbang menuju kemerdekaan

iPustakaAceh

Komentar

Loading...