Unduh Aplikasi

Memek, Gutel Genapkan Warisan Budaya Tak Benda di RI

Memek, Gutel Genapkan Warisan Budaya Tak Benda di RI
Memek, kuliner khas Simeulue. Foto: Viva

JAKARTA - Kementerian Pendidikan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menyerahkan empat sertifikat karya budaya Aceh yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB).

Keempatnya yaitu Sining, Gutel, Silat Pelintau dan Memek. Dua diantaranya yaitu memek dan gutel ialah makanan khas tradisional. Panganan ini, diyakini sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan, dan hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat.

Dengan ditetapkan empat karya budaya ini maka jumlah warisan budaya tak benda Indonesia menjadi 34. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Jamaluddin mengatakan, perlindungan karya budaya lokal ini untuk menyelamatkannya dari kepunahan.

“Ini upaya kita untuk menghindari kepunahan dan klaim budaya dari negara lain,” kata Jamaluddin, Jumat, 11 Oktober 2019.

Panganan gutel sendiri berasal dari Tanah Gayo. Terbuat dari tepung beras, kelapa, gula dan air. Cara membuatnya pun cukup sederhana, hanya mencampur seluruh bahan tersebut, lalu dibentuk lonjong sebesar telur ayam.

Menurut warga Gayo, Gutel ini kerap dijadikan sebagai bekal makanan saat bepergian ke dalam hutan untuk berburu. Kudapan ini begitu mudah di simpan dan tahan hingga beberapa hari.

Dulunya orang Gayo saat belum mengenal kendaraan, melakukan perjalanan yang melintasi hutan, juga dibekali Gutel. Termasuk saat akan berperang gerilya melawan penjajah Belanda dan Jepang.

"Makanan ini sudah ada sejak zaman dulu, bahkan pada zaman perang sudah ada," kata Marni salah seorang pengurus dewan kerajinan nasional daerah Kabupaten Gayo Lues.

Menariknya, Gutel ini dibalut dengan daun pandan sehingga terlihat rapi. Soal rasa, kudapan ini bisa menjadi teman yang pas dengan segelas Kopi.

Marni menyebutkan, yang membuat Gutel ini menarik adalah karena pembuatannya yang di kemul (digumpalkan dengan kekuatan genggaman jari). Sehingga isinya padat.

"Tingkat kelezatan Gutel ini juga terletak pada tingkat kecintaan kita pada si pembuatnya," sebut Marni.

Sedangkan kuliner memek, berasal dari Pulau Simeulue, Aceh. Nama makanan memek sendiri berasal dari mamemek yang berarti mengunyah-ngunyah atau menggigit. Namun saat ini masyarakat di Simeulue lebih populer menyebutnya sebagai memek.

Kuliner memek ini dulunya digunakan oleh para nelayan yang ingin melaut. Karena cara pembuatannya yang mudah, nelayan tersebut hanya membawa bahan bakunya saja, pisang dan beras ketan yang sudah digongseng. Makanan ini digunakan untuk pengganti nasi.

Makanan memek sendiri terbuat dari beras ketan yang digongseng, pisang, santan yang sudah dipanaskan, gula dan garam. Proses pembuatannya butuh waktu sekitar satu jam. Setelah masak, memek dapat disantap dingin atau biasa.

Dua makanan ini memiliki sejarah panjang dalam khazanah kuliner Aceh dan masih terjaga hingga kini. Sehingga, dua makanan tersebut, ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.

Komentar

Loading...