Unduh Aplikasi

Membonsai Mahasiswa

Membonsai Mahasiswa
Tanaman bonsai. Foto: abyspacetion
PENSKORSAN dua mahasiswa di Sekolah Tinggi Kejuruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bina Bangsa, Meulaboh, adalah preseden buruk bagi keterbukaan informasi. Lebih buruk lagi, pemberian sanksi kepada mahasiswa yang kritis merupakan contoh buruk perilaku dunia pendidikan yang cenderung korup.

Sebagai lembaga pendidikan, seharusnya kampus menjadi sarana terdepan bagi mahasiswa untuk belajar berani. Berani menyatakan kebenaran otomatis berani belajar untuk bertindak benar. Ketika mereka mengkritik, sebenarnya perguruan tinggi tengah menumbuhkan keberanian di sanubari mahasiswa untuk bertindak sesuai nilai-nilai kebenaran yang mereka yakini.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Kekritisan dianggap sebagai musuh dan harus diberangus. Lembaga pendidikan malah bersikap antipati terhadap para mahasiswa yang berani mengatakan apa adanya. Dengan sangat sistematis, kekritisan di kalangan mahasiswa dikebiri. Mereka dipaksa untuk menerima tindakan-tindakan yang terkadang tak masuk akal dan pantas untuk dilawan.

Lihat bagaimana mahasiswa dibungkam. Tak boleh memprotes pengajar di kampus yang lebih sering menggelar pertemuan dengan makalah ketimbang berkomunikasi langsung dengan mahasiswanya karena kesibukan di luar kampus. Mereka yang memprotes, akan segera dianggap sebagai orang-orang pembangkang yang berhak dipinggirkan. Syukur-syukur tidak diberikan nilai “D” atau dikeluarkan dari kampus.

Mahasiswa tak perlu bertanya alasan pengutipan uang diktat atau praktik kerja lapangan yang dipatok sesuka hati dosen dengan izin pengurus fakultas atau jurusan. Mereka hanya berkewajiban untuk membayar. Hak mahasiswa untuk bertanya dicabut, bahkan di saat konstitusi negara ini menjamin hak tersebut.

Seharusnya para pendidik di kampus dan para pengelola kampus, entah itu swasta atau negeri, memberikan kesempatan yang luas bagi mahasiswa untuk berani menyampaikan pendapat. Itulah guna perguruan tinggi; mendidik mahasiswa berpikir kritis. Dengan demikian, mereka akan membawa rasa ini ke lingkungan mereka.

Universitas atau perguruan tinggi harusnya memberikan tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan pemikiran mereka. Bahkan jika pemikiran itu dianggap berlawanan dengan kebijakan kampus. Untuk menghadapi mereka, para pengurus kampus harus lebih sabar dan cerdas. Memberikan skors hanya akan menimbulkan kebencian dan dendam. Seperti api dalam sekam, menskors hanya akan mematikan rasa kritis, tidak hanya bagi yang bersangkutan, ini akan berdampak secara psikologis kepada mahasiswa yang lain.

Mahasiswa jangan hanya dianggap sebagai sumber uang yang menghidupi perguruan tinggi. Mereka adalah sumber kekuatan negeri ini di masa mendatang. Kecerdasan di bidang akademik harus juga diimbangi dengan tumbuhnya rasa empati di diri mahasiswa. Jangan biarkan mahasiswa tumbuh bak bonsai; indah tapi kerdil.
Iklan Pemutihan BPKB- Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...