Unduh Aplikasi

Membajak Demokrat di Tanjakan Elektabiitas

Membajak Demokrat di Tanjakan Elektabiitas
Kautsar Muhammad Yus. Foto: Ist

Oleh: Kautsar

Saya masih semester III IAIN Ar-Raniry ketika PDI menggelar kongres IV pada Mei 1996 di Medan. Disaat itu Pak Harto sebagai presiden yang meminjam tangan Soerjadi dan beberapa pengurus yang memiliki hak suara dalam kongres mendongkel Megawati secara paksa sebagai Ketua Umum PDI dan menggantikannya dengan Soerjadi. 

Saat itu semua aparatur kekuasaan dari tingkat kabupaten sampai dengan pusat terlibat dalam menggalang supaya tidak memilih Megawati dalam kongres Medan. 

Di Aceh sayup-sayup saya dengar dari Abu di rumah kalau Kodim, Korem dan Direktorat Sosial Politik (Ditsospol) kabupaten maupun provinsi bekerja menggalang suara untuk Soerjadi. 

Ketua PDI tingkat kabupaten dan provinsi dipanggil khusus oleh ABRI (nama institusi TNI zaman Orde Baru) dan Ditsospol ditiap tingkatan. Mereka diberi “wejangan” supaya menolak Megawati sebagai Ketua Umum. 

Tidak hanya “wejangan”, mereka juga diberi uang transportasi dan akomodasi oleh Ditsospol setempat untuk hadir ke Kongres Medan. 

PDI Aceh mendukung Soerjadi bukan Megawati. 

Saat itu partisipasi politik saya masih ke PPP (Partai Persatuan Pembangunan) sebagai partai tempat orang tua saya aktif bergiat. Meski begitu dengan kejadian kongres Medan membuat saya yang PPP ini merasa simpati dengan Megawati dan PDI yang saya anggap berani berdiri melawan kehendak kekuasaan orde baru. Saat itu tak ramai yang berani memilih jalan ini. 

Gelombang dukungan kepada Megawati mengalir dari banyak komponen di luar PDI. Mereka bukan menjadi bagian dari PDI dan Megawati tetapi bersolidaritas terhadap demokrasi. 

Muncul banyak aliansi dan koalisi ektra parlementer melawan kesewenang-wenangan kekuasaan yang memakai tangan negara untuk mengatur paksa kemerdekaan partai politik. Hanya lantaran Pak Harto tak mau ditandingi oleh seorang Megawati. 

Puncak perlawanannya adalah semua komponen anti orde baru berkumpul di kantor PDI jalan Diponegoro mempertahankan kantor itu dari upaya perebutan paksa yang dilakukan kelompok Soerjadi yang dibeking aparat dan preman. 

Kejadian itu dikenal dengan nama peristiwa 27 Juli 1996. 

Apa yang terjadi kemudian? Megawati kalah. Pemilu 1997 PDI dibawah pimpinan Soerjadi mengalami kemerosotan suara. Tahun 1998 paska jatuhnya Soeharto, Megawati mendirikan PDIP (menambah kata Perjuangan diujungnya). Pemilu tahun 1999 PDIP menjadi partai pemenang Pemilu. 

Saya membayangkan situasi yang sama dengan apa yang pernah terjadi atas PDI dulu kini terjadi atas Partai Demokrat sekarang. 

Solidaritas dukunganpun datang dari banyak kalangan. Surya Paloh, pimpinan Partai Nasdem juga mengirim ucapan dukungan kepada Partai Demokrat. Kami menilai dukungan tersebut sebagai bagian dari keberpihakannya kepada demokrasi. 

Pemerintah gusar dengan popularitas Partai Demokrat dan AHY yang menurut survei berbagai lembaga menyatakan terus mengalami kenaikan signifikan. Polanya terus beranjak naik lantaran ia bersama PKS memilih menjadi Partai yang berada diluar kekuasaan. 

Semakin tidak populernya kekuasaan, maka semakin naik pula popularitas partai yang berada diluar kekuasaan. Itu sudah hukum alam politik elektoral. 

Sementara waktu sampai ke Pemilu 2024 masih tiga tahun lagi. Dalam waktu tiga tahun besar kemungkinan popularitas AHY dan Partai Demokrat bisa melambung lagi. Banyak orang menganggap hal inilah alasan terjadinya pembajakan Partai Demokrat. 

Apapun alasannya negara sebagai pemilik keadilan perlu meletakkan asas keadilan dalam dalam menyikapi situasi politik terkini terkait Partai Demokrat sehingga tidak menjadi preseden buruk demokrasi yang terus berulang di Indonesia.

Penulis adalah Sekretaris Departemen Politik & Pemerintahan DPP Partai Demokrat

Idul Fitri - Disdik
Idul Fitri - BPKA
Idul Fitri - ESDM Aceh
Idul Fitri - Disbudpar
Idul Fitri- Gubernur Aceh

Komentar

Loading...