Unduh Aplikasi

Memanen Konflik di Leuser

Memanen Konflik di Leuser
Hutan Leuser. Foto: leuserantara
HUTAN lebat yang menutupi Taman Nasional Gunung Leuser menyembunyikan banyak permasalahan. Hingga saat ini, Pemerintah Pusat seolah-olah tak menganggap eksistensi masyarakat di kawasan itu. Bahkan saat ini, lima orang petani di kaki Leuser dipaksa mendekam sebagai tahanan Kepolisian Daerah Aceh buntut dari aksi mereka di kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser.

Ini adalah buntut surat Menteri Kehutanan untuk membersihkan kawasan Gunung Leuser dari penjarahan. Inci demi inci, kawasan lindung ini dirambah dan berubah menjadi areal perkebunan kakao yang dikelola masyarakat setempat. Pemerintah beranggapan, kawasan ini harus steril dari aktivitas masyarakat.

Melihat potensi bencana banjir dan longsor di Aceh dalam kurun waktu lima tahun terakhir, langkah pemerintah ini adalah terobosan yang akan mengembalikan fungsi hutan sebagai kawasan penangkap air dan paru-paru dunia. Belum lagi ditambah dengan konflik antara manusia dan hewan yang durasinya kian meningkat. Ini tak lain akibat habitat satwa yang semakin sempit.

Keinginan pemerintah untuk mengembalikan fungsi dan kawasan hutan harus dilakukan dengan cara-cara yang persuasif, sehingga tak menimbulkan kerugian harta benda apalagi sampai mengorbankan nyawa. Pemerintah pun tak bisa serta merta menggunakan kekuatan negara untuk mengusir masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat juga hendaknya tidak memaksakan kehendak untuk tetap menempati lahan itu. Magnet harga kakao yang terus melambung jangan dijadikan dalih untuk bertahan lebih lama di kawasan terlarang itu.

Sikap keras kepala hanya akan menimbulkan kemudaratan yang lebih besar. Pemerintah dan masyarakat harus mencari jalan keluar, agar Leuser benar-benar terjaga keutuhannya. Tidak cukup hanya dengan ratusan pasal dan aturan. Perlu ada solusi bijak yang dapat diterima semua pihak.

Komentar

Loading...