Unduh Aplikasi

Memaknai Pembangunan

Memaknai Pembangunan
Rustam Effendi. Foto: Net

Oleh: Rustam Effendi

APA urgensi proses pembangunan bagi sebuah negara atau daerah? Apa kaitannya dengan upaya meraih kesejahteraan rakyat di negara/daerah?

Bagaimana kita memaknai proses pembangunan itu sendiri? Dan, bagaimana pula seharusnya proses pembangunan itu dilakukan?

Pengalaman di banyak negara berkembang, sebuah proses pembangunan lazimnya tidak selalu dapat dilakukan dengan mulus dan maksimal. Salah satu penghambatnya adalah faktor modal yang terbatas. Umumnya, negara-negara berkembang memiliki tabungan (saving) yang minim akibat kesulitan dalam menggali sumber penerimaan domestiknya.

Harapan dari aktivitas ekspor, pun tidak mudah. Negara-negara berkembang sebagian besar ekspornya berupa bahan mentah, hasil pertanian, hasil tambang, dan lainnya yang tidak diolah. Pasar yang dibidik produk-produk mereka cenderung "oligopsonistik". Akibatnya, harga sering tidak stabil, dipermainkan oleh pihak pembeli yang bilangannya dua-tiga orang saja.

Semua ini berimplikasi pada kapasitas mereka dalam mendanai pembangunan. Tabungan yang dimiliki tidak mencukupi untuk keperluan investasi dalam konteks pembiayaan pembangunan. Itu sebabnya, banyak negara yang berinisiatif mencari sumber pembiayaan lain seperti bantuan atau pinjaman LN, hibah, dan lainnya.

Kemampuan pendanaan yang terbatas ini diikuti pula oleh situasi dan perkara lain yang acapkali muncul seperti ombak di laut. Habis dan berbulir satu ombak, muncul deburan ombak yang lain. Tak habis-habisnya. Seakan-akan, pantai selaku si empunya bibir tak pernah reda dari hempasan deburan ombak. Asa demi asa pantai hanya tersentuh sesaat dan setelah itu terlepas lagi di bibirnya. Lama kelamaan si bibir pun makin "dower", hilang keindahannya.

Kembali ke soal pembangunan sebagai tema awal. Kita seperti lupa pada arti hakikinya. Pembangunan dapat dimaknai, "sebagai sebuah proses yang dilakukan secara sistematis dan sengaja demi mencapai perubahan atau kemajuan".

Perubahan yang dimaksud bukan hanya dilihat dari perspektif ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang tinggi, atau kenaikan pendapatan per kapita semata. Tapi juga perubahan dalam dimensi yang lain, umpamanya tertatanya kondisi sosial, kelembagaan yang ada, kemajuan berpikir, cara bertindak, kedisiplinan, kebersamaan, solidaritas sosial, dan lain sebagainya.

Pembangunan tidak ada artinya jika hanya dilihat dari sisi angka-angka. Angka-angka itu akan kehilangan maknanya jika tidak ada perubahan apa-apa dalam pikiran, ucapan, atau tindakan masyarakatnya, termasuk pada tataran elitnya.

Proses pembangunan telah berlangsung bertahun-tahun, tapi rakyat umumnya masih buta huruf. Itu wajar, sebab itu harus diberikan pengajaran dan pendidikan. Rakyatnya masih miskin, dapat dipahami. Karenanya harus terus diberi kepedulian agar nasib mereka beranjak lebih baik.

Rakyatnya suka berkelahi atau tawuran, boleh dimengerti. Itu sebab para tokoh, termasuk ulama dan teungku-teungku ikut berperan membina mereka agar lebih berakhlak. Semua memungkinkan karena ada lembaga, anggaran, regulasi, untuk melakukan upaya-upaya itu. Itulah maknanya proses pembangunan.

Perubahan atau kemajuan akan wujud manakala ada proses pembangunan. Lalu, lewat apakah proses pembangunan itu dilakukan?

Ingatlah, pembangunan itu akan berproses lewat sebuah alat. Alat terpenting itu, "is the project" (Hae, 2004). Dengan kata lain, proyek (baca: kegiatan) merupakan alat (tool) terpenting dalam sebuah proses pembangunan. Tanpa proyek berarti tidak ada pembangunan. Tanpa pembangunan maknanya tidak akan ada perubahan.

Bagaimana masyarakat bisa alami perubahan kehidupannya, terlepas dari keterisolasian, terhubung dengan dunia luar, bebas dari kemiskinan, dan sebagainya, menuju keadaan lebih baik jika tanpa pembangunan? Tentu tidak mungkin.

Sejatinya, proses pembangunan tidak boleh berhenti. Suka atau tidak, menghentikan proses pembangunan sama artinya dengan menistakan upaya meraih kesejahteraan. Menunda perubahan sama halnya dengan nengabaikan urgensi waktu, yang jelas-jelas kita selaku hamba-Nya selalu dalam keadaan merugi ini.

Sebelum terlambat, mari kita semua berpikir jernih dengan mengedepankan hati. Bersikaplah bijak dan jangan emosi. Bertemu, duduk bersama, bicara baik-baik. Hindari sikap memandang remeh pada nasib dan hajat hidup orang banyak yang sedang menanti asa perubahan di ujung sana. Maknai pembangunan dengan semangat perubahan.

Ingat, sebuah NGO di Frankfurt pernah memaparkan temuan penting dari kajian mereka di hadapan kami (2010). Bahwa, hampir di seluruh benua ditemui politik anggaran pemerintah itu selalu melalui sebuah proses komunikasi yang baik, berupa lobi dan negosiasi. Bukan dengan bertengkar atau ribut-ribut. Itu saja !

Penulis adalah pengamat ekonomi dari Unsyiah

Komentar

Loading...