Unduh Aplikasi

INTERMESO

Memaknai Idul Fitri

Memaknai Idul Fitri
Ilustrasi: financial tribune

PADA pelaksanaan salat Idul Fitri, Jumat lalu, Si Ngoh terlihat sangat sederhana. Dia hanya mengenakan sarung tua yang biasa dipakainya. Pakaiannya pun hanya baju koko putih yang dia beli tahun lalu, sehari menjelang Idul Fitri.

Seusai salat Ied, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku, Bang Awee, Bang Rambo, selalu datang ke rumahnya. Menikmati lontong buatan istrinya. Namun sama saja, tak banyak yang berubah. Gorden yang menghiasi jendela masih barang lama. Kursi tua yang mulai tak enak diduduki, masih menghiasi ruang tamu yang cat dindingnya mulai terlihat kusam.

Sambil menuang kopi, Si Ngoh berujar bahwa yang terpenting itu adalah derajat keimanan dan ketakwaan yang semakin baik seusai Ramadan berakhir. Baju baru mungkin sudah menjadi tradisi. “Tapi alangkah lebih baik jika baju baru juga ditandai dengan peningkatan derajat ketakwaan.”

Si Ngoh adalah tipikal orang tua yang tidak macam-macam. Meski anaknya banyak yang menjadi pejabat, Si Ngoh tak lantas sombong dan menjadikan anak sebagai alat untuk mendapatkan kekayaan. Ke mana-mana dia masih naik sepeda ontel butut. Dia merasa tak punya hak untuk mengklaim keberhasilan anak-anaknya. Baginya, anak-anak dapat menyelesaikan sekolah dan tidak menjadi masalah di masyarakat sudah cukup.

“Aku takut, nanti kalau minta macam-macam, anakku malah korupsi,” kata Si Ngoh saat ditanya mengapa tidak meminta naik haji atau mobil pengganti sepeda butut.

Si Ngoh juga bukan tipikal orang yang sibuk berdoa pada Sya’ban agar Allah SWT memanjangkan umur agar dapat sampai ke Ramadan. Namun saat Ramadan tiba, doa itu sepertinya terlupa. Berganti dengan aktivitas mengumpulkan uang atau datang dari satu kantor-kantor untuk mendapatkan proyek meski dengan cara tak sportif.

Si Ngoh, yang kurus dan berkulit hitam, selalu berpesan agar kami, tetangganya, menahan lapar dari kemajuan global dan segala simbol modernitas. Dua hal ini, kata Si Ngoh, sering kali menjebak manusia sehingga lupa bersyukur dan menghargai kesederhanaan hidup.

“Bulan Ramadan itu harusnya dimaknai sebagai hakekat diri. Dan memaafkan itu harusnya dilakukan setiap hari. Harusnya setiap saat kita bisa memaafkan orang-orang di sekitar kita dan memaafkan diri kita sendiri. Karena sesungguhnya yang punya kuasa itu hanya Allah. Kita tidak punya apa-apa, jadi untuk apa marah. Apalagi angkuh,” kata Si Ngoh.

Komentar

Loading...