Unduh Aplikasi

Melihat Panen Padi di Pidie Jaya, Tradisional Vs Combine

Melihat Panen Padi di Pidie Jaya, Tradisional Vs Combine
Petani di Pidie Jaya memanen padi pada musim tanam gadu tahun 2021.Foto: AJNN/ 

PIDIE JAYA - Kabupaten Pidie Jaya saat ini memasuki tahap panen padi musim tanam gadu tahun 2021. Di zaman serba canggih ini, petani dimudahkan memanen padi dengan mengunakan teknologi yaitu mobil perontok atau mesin combine.

Meski memanen padi dengan mengunakan mesin combine lebih efektif dan murah. Namun tidak sedikit petani di Pidie Jaya, masih mengunakan cara tradisional saat memanen padi.

Seperti yang terpantau di hamparan sawah Gampong Blang Glong-Meunasah Tutong, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Saat ini, petani disana masih mengunakan cara konvensional saat memanen padi.

"Mobilnya (mesin combine) tidak bisa masuk (memanen), ya kami panen seperti biasa (konvensional)," kata salah seorang petani Kastabuna, saat sedang merapikan tumbukan padi untuk proses tahapan panen selanjutnya, yaitu perontokan, Selasa (6/4).

Sekretaris Dinas Pertanian Pidie Jaya, Rusdi mengatakan, kemungkinan kondisi tanah sawah lembek sehingga mesin combine tidak dapat bekerja untuk memanen padi di hamparan sawah tersebut.

"Mungkin tanahnya lembek, jadi mesin combine tidak bisa bekerja," sebut Rusdi.

Memanen dengan mengunakan jasa mesin combine, petani hanya butuh mengeluarkan biaya Rp 600 ribu per naleh (satu naleh empat hektar), jumlah itu belum termasuk biaya angkut gabah dari sawah saat proses panen dilaksanakan.

Sedangkan memanen dengan tradisional, petani harus mengeluarkan biaya dua kali lipat lebih dibandingkan memanen mengunakan mesin combine.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk memanen tradisional diantaranya untuk pemotong, pengangkut dan perontok. 

Jika memanen dengan mesin combine menelan biaya Rp 600 ribu per naleh dan ditambah biaya angkut, maka memanen dengan cara konvensional bisa menelan biaya Rp 1.3 juta lebih per naleh.

Dengan kalkulasi, biaya potong dan biaya angkut padi ke penumpukan setelah di potong, masing-masing lebih kurang Rp 470.000. Dan ongkos perontok lebih kurang Rp 390.000.

"Dalam satu hektar memanen dengan cara tradisional bisa menelan biaya mencapai Rp 5 juta lebih," sebut Rusdi.

"Memanen dengan cara tradisional, untuk biaya potong dalam satu hektar sekitar 408 kilogram padi, ongkos angkut padi atau dalam bahasa Aceh angkot limbai ke penumpukan, sama dengan ongkos potong, ditambah ongkos perontok sekitar 340 kilogram, total yang dihabiskan sekitar 1.156 kilogram padi dalam satu hektar, dikali Rp 4.700 per kilo, Rp 5.4 juta lebih. Sedangkan mengunakan teknologi yaitu mesin combine, hanya Rp 2.4 juta per hektar," rincinya.

Namun, sambung Rusdi, tidak dipungkiri memanen dengan cara tradisional dapat menampung atau membuka peluang kerja  lebih banyak dibandingkan dengan cara memanen mengunakan mesin combine.

"Tetapi memanen dengan tradisonal mendatangkan rezeki bagi banyak orang yang tidak memiliki sawah yang memang orang-orang tersebut menunggu musim panen padi untuk mendapat penghasilan. Ada plus minus nya juga antara memanen tradisional dan teknologi," pungkasnya.



Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...