Unduh Aplikasi

Melihat Aceh seperti Mekah

Melihat Aceh seperti Mekah
Ilustrasi: kelas IPS.

ACEH sebagai Serambi Mekah mengalami pergeseran nilai. Jika julukan itu disematkan karena dari Aceh lah para jamaah haji Indonesia memulai perjalanan panjang ke Mekah, Arab Saudi, menggunakan kapal laut, maka julukan itu lebih mendekati sikap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kota Banda Aceh dalam merawat sejarah. 

Saat sebagian orang terkagum-kagum dengan Abraj al-Bait, menara jam setinggi 600 meter di Mekah, Saudi Arabia, banyak orang yang tak memahami bahwa pembangunan hotel mewah lengkap dengan pusat perbelanjaan di halaman Masjidil Haram itu akan menghilangkan ciri khas dan warisan kota suci Mekah. 

Masjid itu hanya sepelemparan batu dari Ka’bah. Jika kita berada di salah satu kamar hotel yang menghadap ke masjid, maka akan sangat jelas terlihat bentuk Ka’bah. Ini merupakan salah satu hotel yang paling diincar oleh pengusaha travel untuk ditawarkan kepada para jamaah haji yang rela membayar jutaan rupiah untuk satu malam menginap, terutama menjelang puncak pelaksanaan haji. 

Di Mekah, tak ada lagi tempat untuk para jamaah haji bermodal pas-pasan. Jamaah umrah atau haji reguler harus rela menginap di tempat yang jaraknya berkilo-kilo meter dari Masjidil Haram. Hampir seluruh kawasan di sekitar masjid berubah menjadi tempat-tempat komersil yang dikembangkan dengan investasi hingga triliunan rupiah. 

Mekah adalah sesuatu yang asing. Hanya Ka’bah lah yang menjadi tanda, seperti titik merah di Google Maps, yang menunjukkan bahwa itu adalah kota kelahiran Nabi Muhammad saw dan kota paling bersejarah dalam perjalanan umat manusia. 

Rumah Khadijah ra diratakan dengan tanah untuk dibangun toilet umum. Di atas tapak rumah Abu Bakar ra berdiri Hotel Hilton dan sejumlah pusat jajanan untuk kalangan berduit. Perjalanan haji yang seharusnya menjadi ritual sederhana, sesuai dengan nilai-nilai Islam, berganti dengan etalase yang mengundang hedonisme. 

Penghancuran situs-situs sejarah ini dilakukan oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang menganggap situs-situs tersisa dari jejak Rasulullah Muhammad saw akan memicu penciptaan berhala oleh para peziarah.  Padahal yang mereka kejar adalah pendapatan dari pariwisata yang berjumlah lebih dari Rp 100 triliun per tahun. Alasan ini cukup untuk mengubah wajah Mekah menjadi kota asing dengan bangunan menjulang.  

Hal seperti ini juga tengah terjadi di Banda Aceh dan Aceh secara keseluruhan. Memang tak sebanding menyamakan nilai sejarah Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabat, dengan makam atau situs-situs sejarah warisan Kerajaan Aceh Darussalam. Yang dapat kita samakan adalah ketiadaan hasrat pemerintah untuk menjaga kawasan-kawasan bersejarah yang seharusnya menjadi warisan peradaban. 

Salah satu yang paling terang benderang dari upaya ini adalah rencana tindak lanjut pembangunan  Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande. Pemerintah sebenarnya bisa melakukan langkah-langkah perlindungan terhadap situs makam kuno peninggalan kerajaan dengan mengalihkan pembangunan di lokasi lain. 

Kawasan Gampong Pande adalah situs penting yang seharusnya dipugar dan dipulihkan sebagai salah satu warisan sejarah. Seharusnya pemerintah kota dan Pemerintah Aceh mendorong riset yang lebih intensif untuk menemukan kembali jejak sejarah tersebut, terutama setelah ditemukannya koin-koin emas di lokasi itu pada 2013.

Namun urusan proyek kotoran lebih menarik menarik ketimbang memelihara jejak sejarah. Saat lokasi makam dan situs-situs sejarah yang tersisa menjadi tempat penampungan limbah, tentu akan semakin sulit bagi siapapun di masa depan untuk menggali manfaat, menambah kekayaan dan khasanah budaya bangsa, dari situs yang tersisa di Gampong Pande.

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...