Unduh Aplikasi

INTERMESO

Mazhab Nabi Muhammad

Mazhab Nabi Muhammad
Ilustrasi: querjoe

SAAT menyaksikan sebuah cuplikan berita tentang dua orang oknum anggota kepolisian yang menyebabkan kebutaan salah satu mata Novel Baswedan, penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi, aku merasa sangat kecewa.

Seperti yang ditebak sebelumnya, para pelaku kejahatan itu hanyalah orang-orang suruhan. Dan polisi, seperti biasa, keukeh mempertahankan argumen bahwa dua penyiram air keras ke wajah Novel adalah anggota kepolisian yang kecewa. Tak terlihat upaya mengungkapkan kejahatan ini hingga ke aktor intelektualnya.

“Negara kita ini sudah KTT, Bang. Kacau Tingkat Tinggi,” kataku kepada Bang Awee dan Bang Rambo saat kami kongkow di sebuah warung kopi, kemarin malam.

Pengungkapan pelaku kejahatan terhadap Novel menjadi melengkapi bab-bab sebelumnya dalam buku “Buaya Versus Cicak”. Mulai dari upaya oknum jenderal bintang tiga di kepolisian yang mengintimidasi KPK, hingga revisi Undang-Undang KPK. Mulai dari serangan terhadap Novel hingga penunjukan bekas deputi bermasalah sebagai pemimpin baru lembaga antirasuah itu.

“Kau jangan terlalu khawatir. Negara kita ini negara ajaib. Dan para penduduknya adalah bangsa mutan yang bisa berubah dalam sekejap menjadi apa saja yang dia kehendaki,” kata Bang Awee. “Seorang artis dalam sekejap bisa menjadi ustaz, demikian juga sebaliknya. Tidak ada bangsa yang seperti ini di muka bumi kecuali bangsa kita.”

Lihat saja betapa mudahnya seorang pemimpin negara mengubah aturan main. Menjalankan agenda sendiri tanpa memikirkan dampaknya terhadap masa depan negara. Tak peduli apakah sebuah keputusan itu baik atau salah. Sepanjang ada lingkaran yang membuat pembenaran, semua bisa dilakukan.

Bahkan dalam urusan bermazhab pun, kata Bang Awee, kita terus diobok-obok. Padahal jauh sebelum Aceh ini dipimpin oleh seorang gubernur, atau Indonesia ini dipimpin mahluk bernama presiden, bermacam-macam mazhab berkembang sesuai dengan keyakinan masing-masing. Tidak ada pembatasan karena memang mazhab itu bukan sesuatu yang mutlak.

“Aku sebenarnya tak mempermasalahkan keputusan para pemimpin di Aceh ini untuk memberikan ruang lebih besar kepada salah satu mazhab," kataku kepada Bang Awee. "Asalkan, mereka bisa menjelaskan secara gamblang kepada masyarakat satu pertanyaan ini: mazhab Nabi Muhammad itu apa? Syafii, Hambali, Maliki, atau Hanafi?”

Komentar

Loading...