Unduh Aplikasi

INTERMESO

Mazhab Maskeriyah

Mazhab Maskeriyah
Ilustrasi: pixabay.

ACEH benar-benar babak belur dihajar covid-19. Di awal, Aceh sepertinya perkasa. Saat lonjakan di daerah lain terjadi, Aceh santuy. Tidak ada transmisi lokal. Kasus-kasus yang tercatat berasal dari klaster luar. Klaster Temboro, klaster Medan, atau klaster Jakarta, tak ada yang lokal.

Namun kini kondisi terbalik. Fasilitas kesehatan nyaris ambruk. Bahkan pusat penelitian sampel covid-19 sempat ditutup. Pemerintah beralasan karena ada petugas di laboratorium itu tertular covid-19. Namun banyak pula yang meyakini bahwa laboratorium itu ditutup karena kehabisan bahan untuk memeriksakan sampel tes usap PCR.

Di awal, banyak yang meremehkan keberadaan virus ini. Berteori bahwa virus ini sebenarnya tidak ada. Hanya dibesar-besarkan untuk mengganggu struktur perekonomian dunia. Mereka menyebutnya perang antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina. 

Di awal-awal pandemi, kita sibuk dengan masker. Pemerintah pusat, yang memonopoli informasi tentang pengendalian covid-19, mengatakan bahwa masker yang direkomendasikan agar tidak tertular covid-19 adalah masker medis.

Masker kain diragukan kemampuannya. Alhasil, terjadi lonjakan harga masker medis sekali pakai. Karena tak mampu mengendalikan harga masker medis, pemerintah buru-buru meralat dengan menyatakan masker kain layak untuk digunakan.

Uang pun digelontorkan untuk masker. Ada pemerintah daerah yang menggelontorkan banyak uang untuk membuat masker kain untuk dibagikan kepada masyarakat. Alasannya pun dibuat kerakyatrakyatan; dengan membuat masker sendiri, maka banyak usaha kecil yang tertolong. Entah siapa yang tertolong dari program ini, yang jelas, seperti juga alat rapid tes, kampanye atas nama masker ini pun melenggang, tak perlu diaudit.

Ada juga pemerintah daerah yang menggodok aturan tentang wajib memakai masker. Namun hingga saat ini, implementasinya masih tersimpan di awan. Belum dibumikan. Alasannya menunggu masukan dari daerah-daerah lain.

Hari ini, jumlah penyebaran covid-19 yang terdata hampir menyentuh angka 2.000, tak terlihat upaya cek massal untuk mengetahui seberapa parah penyebaran yang terjadi. Karena berdasarkan perkiraan para ahli, yang berada di luar pemerintahan, tingkat penularan di Aceh sangat tinggi.

Jika melihat cara kita beraksi terhadap covid-19 tidaklah mengherankan. Namun sayang, lagi-lagi “mazhab maskeriyah” yang dikedepankan. Padahal masker sama sekali bukan alat efektif untuk melindungi diri dari covid-19. Namun jika alasannya untuk menghabiskan uang, cara itu memang paling mudah. Apalagi ditambah dengan mencetak stiker di kendaraan dinas, mencetak spanduk dan selebaran.

Pemerintah mengabaikan perlunya memperbanyak alat-alat PCR agar petugas medis dan fasilitas kesehatan tak kelimpungan menghadapi lonjakan jumlah pasien di satu tempat. Bahkan jika perlu, pemerintah memperbanyak alat yang bisa mendeteksi keberadaan virus itu di tubuh dalam hitungan jam sehingga mereka yang diduga tertular dapat segera menjalani isolasi mandiri dan tidak menularkan virus kepada orang lain.

Sayang, para pengambil kebijakan lebih suka mengenakan masker untuk menutupi telinga. Sehingga suara-suara kritis yang berharap ada perubahan dalam perilaku menghadapi penyebaran corona ini tak terdengar, meski disampaikan saat berhadap-hadapan. Kritikan itu hanya jadi suara anjing menggonggong, yang mengiringi perjalanan kafilah ke seluruh daerah.

Komentar

Loading...