Unduh Aplikasi

Masyarakat Palestina rayakan kematian Ariel Sharon yang dimakamkan hari ini

Mantan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon yang meninggal Sabtu (11/1/2014) akan dimakamkan Senin (13/1/2014) hari ini. Sharon akan dimakamkan di kawasan peternakannya di Israel selatan setelah upacara peringatan hari sebelumnya di parlemen, kata radio militer.

Menurut laporan itu, peti mati Sharon ditempatkan di parlemen Jerusalem, Minggu (12/1), untuk memungkinkan masyarakat melakukan penghormatan terakhir mereka.

Proses Senin akan dimulai dengan sebuah upacara di Yerusalem Knesset, atau parlemen, pada pukul 07.30 GMT, kata laporan itu.

Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden akan memimpin delegasi Amerika Serikat ke layanan memorial, dan para pemimpin dunia lainnya diharapkan untuk hadir.

Pemakaman akan dimulai sekitar pukul 12.00 GMT di peternakan Sharon di gurun Negevgurun di Israel selatan.

Sharon, 85 tahun meninggal di rumah sakit di dekat Tel Aviv Sabtu setelah delapan tahun koma.

***

Adel Makki berlari ke jalanan di kamp pengungsi Palestina Shatila di Beirut, Lebanon, Sabtu (11/1/2013). Dia kemudian membagikan permen kepada orang yang dikenalnya setelah mendengar mantan PM Israel Ariel Sharon meninggal dunia.

"Saya sangat lega saat mengetahui Saron meninggal dunia. Saya kira masa-masa dia di dalam kondisi koma adalah hukuman Tuhan atas kejahatan yang sudah diperbuatnya," kata Makki yang baru berusia 19 tahun itu.

Pernyataan Makki itu terkait peristiwa pembantaian di Sabra dan Shatila yang terletak di sisi selatan kota Beirut. Selama tiga hari dimulai pada 16 September 1982 ratusan orang pria, wanita dan anak-anak dibantai di kedua kamp pengungsi itu.

Setidaknya 500 orang hilang tanpa jejak, salah seorangnya adalah paman Adel Makki. Tak heran remaja itu menyimpan kebencian begitu besar terhadap Ariel Sharon.

Tiga bulan sebelum pembantaian itu, militer Israel menginvasi Lebanon. Milisi sekutu Israel di Lebanon, Phalangist kemudian yang melakukan pembantaian sementara pasukan Israel mengepung kedua kamp pengungsi itu.

Ariel Sharon, yang saat itu menjabat menteri pertahanan Israel, dipaksa mengundurkan diri setelah komisi penyelidikan Israel menetapkan Sharon secara tak langsung bertanggung jawab atas pembantaian itu.

"Saya menerima permen yang dibagikan karena lega si pembunuh sudah meninggal. Dia membunuh ratusan orang. Kini kami lega," kata Ahmad Khodr al-Gosh, bocah berusia 10 tahun.

Kabar kematian Sharon itu serta merta disambut keceriaan dan jalan-jalan sempit di kamp pengungsi Shatila seketika berubah menjadi ajang pesta.

Para penghuni keluar dari gubuk-gubuk mereka merayakan meninggalkan Ariel Sharon yang meninggal dunia dalam usia 85 tahun di sebuah rumah sakit di dekat Tel Aviv setelah delapan tahun koma.

"Anda ingin tahu perasaan saya? Saya ingin menyanyi dan menari. Itulah yang saya rasakan," kata Umm Ali, perempuan berusia 65 tahun yang kehilangan saudaranya Mohammad dalam pembantaian 32 tahun lalu itu.

"Saya ingin menikamnya sampai mati. Dia seharusnya lebih menderita lagi," tambah Umm Ali.

Sebagian besar penghuni Sabra dan Shatila sebenarnya menginginkan Ariel Sharon diajukan ke pengadilan atas kejahatannya.

"Tentu saja saya senang dia meninggal dunia. Tapi sebenarnya saya ingin melihat dia diadili di hadapan dunia sebelum Tuhan mengadilinya," kata Mirvat al-Amine, seorang pemilik toko.

| SOLO POS| KOMPAS

Komentar

Loading...