Unduh Aplikasi

Masjid Jami’ Nurul Hasanah Monumen Persaudaraan Aceh-Sulawesi Tengah 

Masjid Jami’ Nurul Hasanah Monumen Persaudaraan Aceh-Sulawesi Tengah 
Gubernur Aceh, Nova Iriansyah didampingi Plt Walikota Palu, Sigit Purnomo saat meresmikan mesjid. Foto: IST

PALU - Minggu (22/11), pukul 07.00 WITA, pesawat yamg membawa Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri. Selanjutnya, dari bandara Gubernur Aceh menuju penginapan untuk beristirahat sebelum menuju ke lokasi peresmian Masjid Jami’ Nurul Hasanah Aceh. 

Mesjid Nurul Hasanah dibangun dari bantuan masyarakat Aceh sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan atas bencana ganda gempa bumi,  tsunami  dan likuifaksi. 

Nova Iriansyah tiba di lokasi peresmian masjid Pada pukul 10.00 WITA, yang didampingi oleh delapan bupati, diantaranya Bupati Aceh Tamiang, Bupati Bener Meriah, Bupati Aceh Tenggara, Bupati Aceh Jaya, Bupati Aceh Barat, Bupati Nagan Raya, Bupati Aceh Selatan dan Bupati Aceh Singkil.

Kedatangan rombongan dari Aceh yang dipimpin Nova Iriansyah disambut upacara adat khas Sulawesi Tengah.

Wakil Gubernur Sulawesih Tengah, Rusli Baco Dg. Palabbi, Plt Wali Kota Palu, Sigit Purnomo yang lebih dikenal Pasha Ungu, serta puluhan tokoh dan ratusan masyarakat Kota Palu, menyambut rombongan dari Aceh itu. 

Masjid Aceh Palu ini dirancang oleh arsitek yang merupakan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Ing Andry Widyowijatnoko. 

AJNN berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan sang arsitek tersebut usai peresmian masjid itu. 

Ing Andrey mengaku penunjukkan dirinya untuk merancang dan membangun kembali Masjid Nurul Hasanah yang rusak parah akibat gempa merupakan amanah yang sangat berat. 

Untuk mewujudkan sebuah “mahakarya” itu, Andry membentuk tim yang terdiri dari anak-anak muda asal Palu, yaitu Imam Prasetyo yang juga jebolan ITB, Rahmat Kosasi, Eko S Danaoutra, Manggala Idul, serta Muhammad Rahmani. 

“Tim inilah yang membantu saya dalam mendesain dan membangun masjid ini, sehingga setiap rupiah yang disumbangkan digunakan semaksimal mungkin untuk keperluan pembangunan masjid,” ungkap Andry.

Menurut Andry, untuk merancang pembangunan masjid ini, ia harus menghitung secara rinci rupiah demi rupiah agar dana sebesar Rp 3,3 miliar yang terkunpul dari sumbangan rakyat Aceh cukup untuk menyelesaikan masjid tersebut. 

Desain Masjid Nurul Hasanah terinspirasi oleh arsitektur tradisional Aceh dan Sulawesi Tengah yang menyatukan pola geometri arsitektur Islam sebagai simbol persahabatan kedua provinsi. 

“Desainnya diinspirasi oleh unsur budaya “Rumah Aceh” dan tambo dan Lobo dari Sulteng, sehingga menghasilkan desain masjid dengan atap gabungan dari bentuk ketiganya,” Ungkap Andry.

Andry lebih lanjut menjelaskan bahwa masjid ini didominasi oleh beton pada bagian bawah dan kayu di bagian atap. 

“Fondasi dan fisik bangunan disiapkan untuk tahan menghadapi guncangan, karenanya kita padukan untuk konstruksi bagian bawah didominasi beton dan atapnya didominasi kayu,” ujar Andry. 

Adapun bentang lebar yaitu 20 x 20 meter diselesaikan dengan struktur lattice yaitu struktur yang terdiri dari tiang-tiang dan balok-balok rapat yang membentuk bidang-bidang jajaran genjang yang dikombinasikan dengan struktur bidang lipat. 

“Struktur bentang lebar seperti ini di desain agar masjid tidak memiliki kolom yang dapat memotong shaf pada bagian tengahnya,” jelas Andry.

Pembangunan masjid ini dirampungkan  hingga 21 bulan, kendala teknis terbesar adalah konstruksi atap yang didirikan dengan cara manual yang hanya menggunakan katrol. Balok-balok struktur atap terbuat dari laminasi papan-papan dengan beban balok terberat mencapai lebih 1 ton dengan panjang 18 meter. 

“Pekerjaan terberat dari masjid ini yaitu bagian atap, kami dirikan secara manual dengan menggunakan katrol yang menghabiskan waktu hingga 11 bulan, untungnya kami sangat terbantu oleh tukang-tukang lokal yang tidak kenal menyerah,” pungkas Andry bersemangat.

Komentar

Loading...