Unduh Aplikasi

Masalah Rumah Ibadah di Singkil Diharapkan Tuntas dengan Musyawarah

Masalah Rumah Ibadah di Singkil Diharapkan Tuntas dengan Musyawarah
Kepala PKUB Kemenag RI H Nifasri saat bertemu Pimpinan Dayah, tokoh agama dan pimpinan Ormas Aceh Singkil, Jumat, 2 Oktober 2020. Foto:Ist

BANDA ACEH - Permasalahan pembangunan rumah ibadah di Kabupaten Aceh Singkil diharapkan dapat diselesaikan secara musyawarah dan mufakat, kearifan lokal serta harus merujuk pada ketentuan dan peraturan yang berlaku. 

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI, Nifasri saat bertemu Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid, dan FKUB, tokoh agama dan masyarakat setempat, Jumat (2/10). 

Saat berkunjung ke daerah berjuluk Sekata Sepakat itu, Nifasri telah melihat langsung kondisi kerukunan umat beragama di sana untuk mencari solusi penyelesaian persoalan pembangunan rumah ibadah dan juga rumah pendeta di Aceh Singkil.

Nifasri menegaskan, persoalan ini harus segera diselesaikan, sehingga tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, apalagi menjelang Pilkada 2022.

"Jangan sampai ini menjadi isu yang dimunculkan jelang Pemilukada. Selesaikan dengan kearifan lokal yaitu dengan musyawarah, kita ikuti aturan yang berlaku," kata Nifasri. 

Dirinya menekankan, FKUB harus menjadi wadah penyelesaian persoalan di Aceh Singkil dan pemerintah daerah menjadi fasilitatornya.

"FKUB harus duduk bersama dengan pemerintah daerah, tokoh agama dan Kemenag. Yang mampu menyelesaikan permasalahan ini tokoh agama, tokoh masyarakat, dan FKUB," ujarnya. 

Nifasri menyampaikan, jika dilihat secara umum, kondisi kerukunan umat beragama di Aceh Singkil terjalin dengan baik. Jika memang ada gejolak, menurutnya, hal itu hanya riak kecil yang disebakan karena miskomunikasi.

"Kerukunan umat beragama di Aceh Singkil terjalin dengan baik. Permasalahan kerukunan umat beragama tidak seperti yang beredar di media sosial. Kita harap ada solusi permanen untuk permasalahan ini," ucapnya. 

Untuk mencegah munculnya riak-riak dan gesekan di masyarakat, kata Nifasri, masyarakat harus mengedepankan moderasi beragama serta menghormati penganut agama lainnya.

"Moderasi beragama artinya cara pandang kita dalam beragama secara moderat, tidak ekstrim, tidak ekstrim kanan atau ekstrim kiri," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Aceh Singkil, Saifuddin menyambut baik kedatangan kepala PKUB Kemena RI untuk melihat kondisi ril kerukunan umat beragama di Aceh Singkil.

"Kankemenag Singkil saat ini terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, FKUB dan tokoh agama untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan rumah pendeta di Danau Paris," tegas Saifuddin. 

Komentar

Loading...