Unduh Aplikasi

Masalah PHK di Rumah Sakit, Wabup Aceh Barat Salahkan Bupati

Masalah PHK di Rumah Sakit, Wabup Aceh Barat Salahkan Bupati
Wakil Bupati Aceh Barat, Banta Puteh Syam. Foto: AJNN.Net/Darmasyah Muda

ACEH BARAT - Manajemen Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSUDCND) Meulaboh resmi melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap ratusan Tenaga Harian Lepas (THL) tenaga kesehatan di rumah sakit itu.

PHK terhadap THL di rumah sakit tersebut berjumlah 272 orang tersebut dilakukan dengan alasan rumah sakit tersebut turun kelas dari B ke C, hingga berdampak pada berkurangnya pendapatan rumah sakit.

Ada yang menarik dari PHK tersebut, yakni salah seorang keluarga dekat Wakil Bupati Aceh Barat, Banta Puteh Syam, ternyata juga menjadi korban dari kebijakan rumah sakit itu.

Padahal, keluarga dekat wakil bupati itu telah mengabdi selama sebelas tahun, bahkan memiliki segudang pengalaman serta sejumlah syarat sebagai tenaga kesehatan, seperti Surat Tanda Regestasi (STR) dan lainnya.

Banta Puteh pun mengaku kaget terhadap PHK yang berimbas kepada keponakannya yang sebenarnya ikut lulus saat tes dilakukan kala itu. Apalagi sebelas tahun mengabdi namun ikut menjadi korban PHK.

"Saya sempat konfirmasi ke direktur, namun direktur mengaku tidak tahu persis alasan keponakannya ikut berimbas. Karena informasi yang sampai ke dia terhadap yang di PHK juga tidak lengkap," kata Banta Puteh.

Menanggapi terkait dengan PHK terhadap para THL itu, Wabup tidak tahu apakah ada hubungan politis atau tidak, dan ia pun tidak mau berasumsi lebih jauh akan hal itu.

Namun, kata Banta, memang ada kesalahan dari awal atas kebijakan yang diambil Bupati Aceh Barat, Ramli MS, yang mengambil keputusan meluluskan semua.

Padahal, kata dia, kala itu untuk transparansi dan merekrut tenaga kesehatan profesional, pemkab setempat telah melakukan tes dengan mendatangkan tenaga dari Universitas Syiah Kuala sebagai panitia seleksi.

"Harusnya saat itu bupati bupati tidak mengambil kebijakan dengan meluluskan semua. Memang saat itu keputusan itu dilakukan karena ada aksi protes tapi kan sudah ditangani keamanan," kata Banta.

Baca: Terkait PHK Tenaga Medis, Ramli SE: Rumah Sakit Tak Hargai Bupati

Sebut Banta, saat itu tim seleksi independen yang didatangkan dari Unsyiah itu sangat profesional lantaran mereka meluluskan awalnya tiga ratus orang.

"Namun agar tenaga medis mencukupi, kami meminta agar diseleksi kembali dan dapat diluluskan sebanyak lima ratus orang dari 1.200 orang," ungkapnya.

Menurutnya melihat besarnya rumah sakit tersebut saat itu tenaga kesehatan berjumlah 500 orang dari THL sudah cukup ditambah dengan para tenaga kesehatan yang sudah Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Terkait dengan penurunan kelas rumah sakit, Banta tidak mau menyalahkan direktur rumah sakit, Furqansyah. Menurutnya Furqan sudah maksimal dalam mengelola manajemen rumah sakit itu.

Ia menilai turunnya kelas rumah sakit itu dan berdampak pada pendapatan hingga PHK terhadap 272 THL disebabkan oleh kesalahan bupati dalam mengambil kebijakan sehingga berdampak pada sistem manajemen.

"Kalau kebijakan tidak tepat, dari langit pun dokter diambil jadi direktur tetap saja hancur," ungkapnya lagi.

Realisasi APBK AJay

Komentar

Loading...