Unduh Aplikasi

Masalah Lembu di Aceh Jaya Sampai Kiamat Tak akan Tamat

Masalah Lembu di Aceh Jaya Sampai Kiamat Tak akan Tamat
Sapi bebas berkeliaran di jalan nasional lintas Banda Aceh - Meulaboh, tepatnya di Kuala Meurisi, Calang, Aceh Jaya.

Oleh:  Suar Sri Herdi

"Persoalan lembu sampai kiamat tak akan tamat" merupakan ungkapan yang patut disematkan untuk Aceh Jaya saat ini.

Pasalnya, persoalan lembu berkeliaran di Aceh Jaya yang menyebabkan banyak kecelakaan lalu lintas seperti dibiarkan begitu saja, tanpa ada rasa tanggungjawab dari pihak berwenang.

Padahal, dalam Qanun Aceh Jaya nomor 5 Tahun 2013 tentang penertiban hewan ternak juga sudah sangat cukup menjadi dasar untuk menertibkan atau memberi sanksi terhadap pemilik ternak yang membandel.

Namun lagi-lagi upaya penertiban terhalang dengan alasan tidak adanya anggaran untuk karantina hewan ternak milik masyarakat yang bebas berkeliaran di jalan nasional.

Semestinya, Qanun nomor 5 tahun 2013 tentang penertiban hewan ternak menjadi prioritas pemkab Aceh Jaya untuk menganggarkan biaya operasional baik itu biaya kebutuhan untuk pembuatan kandang atau perawatan selama masa karantina berlangsung, apalagi Qanun nomor 5 tersebut sudah lahir sejak tahun 2013 silam.

Disinilah terlihat keseriusan Pemkab Aceh Jaya dalam menjawab keresahan masyarakat yang selama ini dihantui oleh hewan ternak yang bebas berkeliaran terutama bagi pengguna jalan barat selatan yang melintasi wilayah Aceh Jaya.

Apalagi, persoalan lembu di Aceh Jaya bukan lagi hal baru, dan juga sudah beberapa kali disorot media bahkan Gubernur Aceh pun sudah memerintahkan untuk segera menyelesaikan persoalan lembu di jalan raya pada saat melantik pasangan Drs. T. Irfan TB - Tgk Yusri Sofyan sebagai bupati dan wakil bupati periode 2017-2022. Namun nyatanya hingga hari ini masih terus dibiarkan.

Karena, hanya dengan upaya pemberian sanksi seperti yang tertulis dalam Qanun nomor 5 tahun 2013 tentang penertiban hewan BAB VI Sanksi pasal 9 poin 8 yang menjelaskan jika hewan ternak yang ditangkap hingga batas waktu tidak diambil oleh pemiliknya maka hewan ternak tersebut akan dilelang ke umum.

Namun jika diambil lagi oleh pemiliknya, maka wajib membayar biaya pemeliharaan sebesar Rp. 75 ribu per hari dan per ekor untuk hewan kerbau atau sapi. Sementara untuk kambing sebesar Rp. 40 ribu per hari dan per ekornya.

Jadi, jika hanya menunggu kesadaran masyarakat pemilik hewan ternak untuk tidak melepaskan di jalanan atau di tempat umum lainnya maka jangan harap persoalan lembu ini akan tamat di Aceh Jaya.

Komentar

Loading...