Unduh Aplikasi

Marniati Tak Percaya kepada Penyelenggara Pemilu Kota Banda Aceh

Marniati Tak Percaya kepada Penyelenggara Pemilu Kota Banda Aceh
Bakal calon Wali Kota Banda Aceh Marniati

BANDA ACEH – Bakal calon Wali Kota Banda Aceh Marniati mengaku tidak mempercayai kerja-kerja penyelenggaran pemilu baik Komisi Independen Pemilihan (KIP) dan Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Kota Banda Aceh.

Menurutnya alasan mengajukan gugatan kepada panwaslih karena didasarkan beberapa bukti yang kuat. Namun sayangnya panwaslih menolak gugatan tersebut, sehingga Marniati bersama pengacaranya akan melaporkan KIP dan Panwaslih Kota Banda Aceh ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP RI).

Baca: Panwaslih Tolak Gugatan Marniati dan Adnan Beuransyah

“Banyak bukti yang kami termukan, misalnya data KTP dari KIP terlambat diserahkan ke PPS sehingga tidak bisa dilakukan verifikasi, apakah ada upaya sengaja atau kelalaian KIP, semua Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang hadir membenarkan kejadian tersebut,” kata Marniati kepada AJNN, Kamis (10/11).

Bahkan, kata Rektor Universitas Ubudiyah Indonesia itu, KIP malah melemparkan kesalahan kepada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang terlambat menyerahkan data ke PPS.

“Ada bukti dan saksi bahwa ada PPS yang tidak bisa melayani verifikasi karena sedang di luar kota. Kemudian PPS tidak melayani verifikasi di jam kerja karena berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sehingga kami kehilangan banyak waktu,” ungkapnya.

Kemudian, jelas Marniati, dalam Undang-undang Pilkada masa verifikasi yang diatur minimsl 14 hari setelah data diterima oleh PPS. Sementara KIP hanya memberikan waktu tujuh hari dan dikurangi dengan kesalahan-kesalahan KIP dan PPK, sehingga tersisa empat hari efektif untuk mengumpulkan 4.200 orang.

“Ini namanya pekerjaan yang tidak masuk akal. Sedangkan di kabupaten lainya pasangan Independen rata-rata tidak bermasalah dengan KIP,” jelasnya.

Untuk itu, dirinya memilih mengalah untuk maju kedepan, dan mempercayai kedua pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang telah ditetapkan oleh KIP merupakan putra dan putri terbaik Aceh.

“Siapa pun yang menang mareka mampu membawa perubahan pada kota ini. Dan saya siap mendukung dan memberi masukan dan ide - ide dari program kerja saya jika diperlukan, untuk kemajuan Kota Banda Aceh,” kata Marniati.

Komentar

Loading...