Unduh Aplikasi

Mapesa Tata Ulang Situs Bersejarah yang Tidak Diperhatikan Pemerintah

Mapesa Tata Ulang Situs Bersejarah yang Tidak Diperhatikan Pemerintah
Pengurus Mapesa Aceh (pakai topi) bersama Pemerhati Sejarah dan Budaya Aceh, Tarmizi A Hamid saat menata ulang nisan kuno di Pango Raya Banda Aceh. Foto: Ist

BANDA ACEH - Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) Aceh terus menata ulang situs bersejarah di daerah serambi makkah yang kurang mendapat perhatian pemerintah.

Kemarin, Mapesa membersihkan dan menata kembali situs bersejarah di kawasan Pango Raya Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh, yakni sejumlah batu nisan yang diyakini merupakan peninggalan abad ke 17 dan 18 masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Ketua Mapesa Aceh, Mizwar Mahdi mengatakan, kegiatan meuseraya (gotong royong) ke tempat situs peninggalan bersejarah yang ada di Aceh itu rutin dilaksanakan setiap pekan.

Namun, karena ruang gerak Mapesa terbatas dengan berbagai kekurangan, maka kegiatan meuseraya itu lebih banyak dilaksanakan di Banda Aceh dan Aceh Besar.

"Lazimnya kita membersihkan dan menata ulang komplek pemakaman yang kondisinya sangat memprihatinkan, dan memang tidak mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah serta masyarakat sekitar," kata Mizwar Mahdi usai menata ulang nisan di Pango Raya, Minggu (30/8).

Kata Mizwar, penataan situs-situs bersejarah di Pango Raya ini dilakukan dengan mengikuti kaedah-kaedah dalam arkeologi, lazimnya nisan-nisan yang telah jatuh itu di tata kembali pada posisi aslinya, bukan pemindahan atau pergeseran nisan.

"Jadi situs komplek makam ini pertama kali kita temukan pada awal 2012. Setelah delapan tahun, baru hari ini kita lakukan penataannya. Namun kondisinya masih sama seperti awal penemuan kita delapan tahun lalu," ujarnya.

Mizwar menjelaskan, secara tipe dan modelnya, batu nisan di Pango Raya itu berasal dari abad ke 17 dan 18. Karena mereka juga tidak menemukan inskripsi (ukiran nama) yang tertulis pada nisan tersebut.

"Kalau kita lihat secara komplek pemakaman ini adalah makam orang-orang istana. Kemudian letak komplek makam ini di lokasi inti dari bekas Kerajaan Meukuta Alam yang kemudian bergabung dengan Aceh Darussalam," ucapnya.

Kemudian, lanjut Mizwar, di sebelah barat makam itu juga ada komplek makam Hamidul Muluk, yakni seorang penasehat Sultan. Disisi utara makam Hamidul Muluk terdapat lagi makam perdana menteri Srihudahna yang meninggal pada 1560 Masehi.

Lalu, didepan itu terdapat Makam Syeh Muhammad dan Tun Mahmud, pada sisi utara ada komplek pemakaman Kesultanan Aceh Darussalam yaitu Sultan Syamsu Syah.

Sultan Syamsu Syah merupakan itu ayah dari Sultan Ali Mughayat Syah yakni Sultan pertama Aceh Darussalam atau pelopor berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam.

"Jadi secara keletakan dan kita lihat gundukan komplek makam ini setinggi 2 meter lebih dengan luas yang sungguh lumayan, ini memang lokasi pemakaman yang disiapkan untuk para tokoh yang ikut berperan mensyiarkan islam atau dalam kemajuan Kesultanan Aceh Darussalam," jelas Mizwar.

Untuk itu, Mapesa Aceh meminta kepada pemilik tanah di komplek makam ini senantiasa menjaga dan dilestarikannya.

"Karena keterbatasan, dan kita hanya memiliki tenaga serta pikiran untuk menyelamatkan situs ini. Maka selebihnya tugas pemerintah," pungkas Mizwar.

Hal senada juga diutarakan Pemerhati Sejarah dan Budaya Aceh, Tarmizi Abdul Hamid menegaskan bahwa situs-situs bersejarah itu sangat penting diselamatkan, sebagai bukti bahwa Aceh mempunyai artefak khazanah budaya yang tak ternilai untuk kepentingan penelitian dan pengkajian benda-benda sejarah oleh generasi Aceh di masa mendatang.

“Bahwasanya Aceh ini mempunyai peradaban sangat penting, dalam menunjang perjalanan sejarah yang begitu kaya, ini contoh konkrit yang telah dilakukan anak cucunya," tutup pria yang akrab disapa Cek Midi itu.

 

Komentar

Loading...