Unduh Aplikasi

Malu Punya Premium Terbatas

Malu Punya Premium Terbatas
Ilustrasi: black enterprise

FENOMENA kendaraan menggunakan bahan bakar premium harusnya tidak dipandang sederhana. Apalagi hanya dianggap sebagai kampanye untuk meningkatkan citra pemerintah dan perusahaan pemegang “monopoli” distribusi bahan bakar minyak.

Premium adalah bahan bakar terendah yang dijual di stasiun-stasiun pengisian bahan bakar di Indonesia. Hal inilah yang membuat bahan bakar ini menjadi primadona dan alasan utama orang rela mengantre lama untuk mendapatkan bahan bakar ini di tangki kendaraan mereka.

Hal ini disebabkan karena tak setiap saat premium tersedia di stasiun pengisian bahan bakar. Jika kondisi sebaliknya, tentu tak para pemilik kendaraan tak perlu repot mengantre.

Padahal untuk mengisi BBM, para pemilik kendaraan juga harus “membakar” premium yang ada di tangki kendaraan mereka. Persis seperti saat terjadi kemacetan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tak semua pemilik kendaraan memiliki uang lebih untuk membeli BBM dengan kualitas lebih baik, seperti yang diklaim oleh perusahaan penyalur BBM, meski harus mengorbankan kendaraan mereka karena menggunakan BBM berkualitas rendah.

Kendaraan bermotor juga bukan barang mewah. Banyak orang terpaksa membeli kendaraan karena mereka tak punya alternatif angkutan yang lebih baik.

Dan yang lebih parah lagi, banyak pemilik kendaraan yang meyakini bahwa kualitas BBM yang lebih mahal tak lebih baik dari kualitas minyak yang mereka perjuangkan berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar.

Pertamina tak perlu menangkal ketidakmampuan mereka memasok premium dengan kampanye yang terkesan “menyalahkan” konsumen "bermobil mewah. Terminologi kendaraan mewah juga masih samar. Jumlah mereka pun, kalau dihitung-hitung, tak banyak.

Manajemen Pertamina harusnya memahami bahwa, di mana-mana, secara alamiah, orang akan mencari harga termurah. Meski mereka harus mengantre panjang. Tak peduli dia beruang atau berpenghasilan pas-pasan.

Yang harus dilakukan Pertamina adalah memastikan pasokan bahan bakar, jenis apa saja, tersedia kapan saja dibutuhkan oleh masyarakat. Pertamina hanya perlu mengedukasi pengguna bahan bakar dengan cara-cara yang elegan.

Perkara dampak akibat penggunaan bahan bakar tidak tepat biarlah menjadi urusan pribadi, masing-masing, pemilik kendaraan. Toh saat rusak, mereka sendiri yang merasakan akibatnya.

Realisasi APBK AJay

Komentar

Loading...