Unduh Aplikasi

Makin Bermanfaat Tanpa UN

Makin Bermanfaat Tanpa UN
Ilustrasi: friends of earth

PENGHAPUSAN Ujian Negara dari agenda pendidikan nasional memicu kontroversi. Satu pihak yang dilakukan secara serentak, sesaui dengan tingkatan pendidikan, ini sebagai langkah mundur.

Sementara pihak lain menilai terobosan di era kepemimpinan Menteri Pendidikan Nabiel Makariem ini sangat berguna untuk mempersiapkan generasi kompetitif. Tentu saja, hanya waktu yang bisa menjawab tanda tanya besar ini.

Tapi setidaknya kita perlu memberikan kesempatan kepada terobosan baru ini. Setelah lebih dua dekade lamanya diselenggarakan, ujian negara--dengan nama yang berbeda-beda--tidak bisa menjadi alat ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia.

Ujian negara ini tidak hanya membebani keuangan negara. Para pelajar, orang tua, pendidik juga terbebani. Apalagi, bagi para politikus dan pejabat di dinas pendidikan, ujian negara, atau ajang kompetisi pelajar, dijadikan alat politik.

Sekolah lantas melupakan tujuan utama mereka untuk mencetak pelajar berkarakter dan mandiri. Yang terjadi di setiap tahun adalah praktik “kecurangan” terorganisir.

Seorang kepala daerah berkepentingan untuk menekan angka ketidaklulusan dalam pelaksanaan ujian. Caranya adalah dengan menekan kepala sekolah. Lalu si kepala sekolah menekan guru untuk mencapai target besar si kepala daerah. Di tengah himpitan politik inilah para pelajar berada.

Mereka dipaksa “melayani” kepentingan yang tak seharusnya mereka tanggung. Saat pendidikan seharusnya menjadi ajang untuk membentuk karakter, keberanian dan rasa mandiri, anak-anak ini malah dipaksa untuk membebek. Bahkan ada yang diajarkan untuk curang karena sang guru memberikan jawaban atas setiap pertanyaan yang seharusnya dijawab sendiri oleh anak-anak ini.

Namun di balik semua kontroversi ini, yang diperlukan untuk membangun generasi andal adalah lingkungan yang kompetitif. Sekolah-sekolah favorit hendaknya tidak memberikan kemudahan bagi anak pejabat untuk sekolah di sana.

Penghapusan ujian negara hanyalah satu langkah kecil dalam memperbaiki dunia pendidikan. Banyak pekerjaan rumah lain yang tak kalah penting. Karena seharusnya, tanpa ujian negara, anak-anak di Indonesia lebih jujur, berani, dan mandiri.

Pendidikan itu seharusnya mengajarkan bahwa orang yang paling baik itu adalah mereka yang berguna bagi orang lain. Bukan paling hebat, paling tinggi jabatannya atau paling banyak hartanya.

Komentar

Loading...