Unduh Aplikasi

Majelis Hakim PN Suka Makmue Tolak Gugatan Warga Terhadap KLHK

Majelis Hakim PN Suka Makmue Tolak Gugatan Warga Terhadap KLHK
Sidang Putusan Gugatan Warga Atas KLHK

NAGAN RAYA - Majelis Pengadilan Negeri Suka Makmue menolak seluruh isi gugatan atau perlawanan (derden verzet) sepuluh warga Desa Pulo Kruet Kecamatan Darul Makmur, Kebupaten Nagan Raya terhadap Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana (KLHK) selaku terlawan satu, PT Kalista Alam selaku terlawan dua dan yayasan HAKA selaku terlawan intervensi atas permohonan penundaan dan pembatalan eksekusi lahan milik PT Kalista Alam seluas seribu hektar.

Selain menolak seluruh isi gugatan tersebut majelis hakim juga menghukum para pelawan untuk membayar denda sebesar Rp 2,080 juta.

Dalam sidang tersebut, ketua majelis Arizal Anwar yang membacakan isi putusan secara bergantian dengan hakim anggota Edo Juliansyah berkesimpulan jika perlawann yang dilayangkan oleh pelawan selaku pihak ketiga dianggap prematur lantaran berdasarkan surat Pengadilan Negeri Meulaboh yang dilayangkan kepada Pengadilan Negeri Suka Makmue tidak memohonkan untuk melakukan eksekusi lahan seluas seribu hektar sebagaimana gugatan yang dilayangkan para pelawan dengan nomor perkara 01/pdt-bth/2019/pnskm

Adapun yang menjadi dasar pertimbangan majelis hakim menolak gugatan tersebut yakni berdasarkan surat Pengadilan Negeri Meulaboh yang memohonkan bantuan delegasi yang dimohonkan dengan nomor 12/PDT.G/2012/PNMBO tanggal 8 Januari 2014 juncto nomor 50/PDT/2-14/PTBNA tanggal 15 Agustus 2014 juncto putusan Mahkamah Agung RI Nomor 651 K/pdt/2015 28 Agustus 2015 juncto Mahkamah Agung RI nomor 1 PK/pdt/2017 tanggal 18 April 2017 tersebut Pengadilan Negeri Meulaboh memohon delegasi untuk dilakukan penjualan dimuka umum atau lelang lahan serta isinya berupa bangunan serta tanaman seluas 5,769 hektar.

Dalam hal ini, kata Arizal, majelis hakim berkesimpulan bahwa tidak ada perintah atau permohonan eksekusi pemulihan terhadap lahan seribu hektar dalam surat bantuan delegasi yang dilayangkan oleh Pengadilan Negeri Meulaboh tersebut.

“Terhadap lahan seribu hektar yang berada di Pulo Kruet berdasarkan surat izin Gubernur nomor 525/BP2T/2011 dengan luas lahan 1,605 hektar berbeda dengan gambar sertifikat Hak Guna Usaha nomor 27 dalam gambar situasi nomo 18 tahun 1998 yang dikeluarkan Kantor Pertanahan Aceh Barat dengan luas 5,769 hektar," katanya.

Selain itu, dalam putusan tersebut majelis hakim juga menjadikan pertimbanganatas esepsi tergugat satu dan tergugat intervensi yang bunyinya sama yakni gugatan yang diajukan oleh pelawan bentuk gugatannya dianggap cacat formal, majelis hakim Pengadilan Negeri Suka Makmue tidak berwenang nemangani perkara A quo, gugatan juga dianggap kabur, para pelawan dalam gugatannya dianggap tidak memiliki legal standing dan error inpesona.

Selain itu penolakan gugatan yang diajukan oleh warga tersebut, berdasarkan sidang pemeriksaan yang dilakukan 29 Juli 2019 lalu dianggap jika lahan warga tersebut berada di luar lahan konsesi milik PT Kalista Alam seluas seribu hektar yang dinyatakan terbakar.

Selain itu pertimbangan yang diambil oleh majelis hakim yakni perkara yang diputus di pengadilan Negeri Meulaboh tersebut merupakan sengketa lingkungan hidup bukan sengketa lahan.

“Terkait dengan putusan tersebut merupakan sengketa kerusakan lingkungan hidup atas lahan yang terbakar di lahan konsesi milik PT Kalista Alam yang merupakan perbuatan melawan hukum, dan pengakuan pelawan tidak ada lahan milik milik mereka yang terbakar,” ujar Arizal sesuai dengan isi putusan yang ia bacakan.

Sidang dihadiri pengacara pelawan yakni Ibek Syarifuddin Rani, dari terlawan satu KLHK, Bagus Wijayadi, sedangkan terlawan dua Kalista Alam hadir pengacaranya Sri Yuni Hartati, Ridho dan Ayi Ramadhani sementara dari tergugat intervensi hadir kuasa hukumnya J Halim Bangun, Nurul Ikhsan, dan M Fahmi. Adapun ketua majelis hakim dipimpin Arizal Anwar,  hakim anggota Edo Juliansyah dan Rosnainah. Sieang tersebut ikut dikawal oleh sejumlah mahasiswa dan juga warga selaku penggugat.

Komentar

Loading...