Unduh Aplikasi

Main Larang Jelang Meugang

Main Larang Jelang Meugang
Ilustrasi: Icon repo

PEMERINTAH Kota Lhokseumawe jangan gegabah. Larang menjual daging meugang di kota itu hendaknya dikaji lebih jauh dampaknya sebelum diterapkan secara luas.

Alasannya tentu saja mencegah penyebaran virus corona. Pasar tradisional, tempat menjual daging sapi atau kambing menjelang Ramadan, dianggap rawan menjadi tempat penyebaran virus.

Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya mengusulkan agar penjualan dilokalisasi di setiap gampong. Dia berharap, langkah ini dapat mengurangi penumpukan orang di satu titik yang mungkin menjadi media penyebaran covid-19.

Larang ini tentu membuat para pedagang semakin terjepit. Tokoh Adat dan Budaya Aceh, Syamsuddin alias Ayah Panton, menyebut larangan ini akan semakin “mencekik leher” rakyat yang sedang morat-marit.

Memang seharusnya pemerintah, tidak hanya di Lhokseumawe, tidak gegabah membuat pelarangan. Terutama hal-hal yang menyangkut kebutuhan masyarakat luas. Apalagi, di saat yang sama, pemerintah seperti tak punya solusi yang membantu masyarakat keluar dari kesulitan ekonomi yang semakin menjadi saat pandemi corona.

Pemerintah seharusnya membantu masyarakat dengan menyediakan tempat-tempat mencuci tangan lengkap dengan sabun dan cairan disinfektan. Agar masyarakat tidak berdesak-desakan saat membeli, pemerintah pun perlu menyediakan lapak yang lebih luas dan memastikan setiap pengunjung pasar mengenakan masker.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan selain melarang aktivitas perekonomian masyarakat. Pemerintah seharusnya lebih peka terhadap kesulitan masyarakat dan tidak memaksakan aturan yang sering kali timbul akibat kepanikan.

Pemerintah dan aparat negara, di seluruh level pemerintahan, juga harus menggunakan nalar yang sehat saat berhadapan dengan urusan penting dalam masyarakat.

Jangan pakai jurus “mentang-mentang” dan “main paksa”. Masyarakat yang susah butuh solusi, bukan bermacam aturan yang dibuat hanya untuk menjalankan protokoler semata.

Komentar

Loading...