Unduh Aplikasi

Mahasiswa Gelar Demo, Suaidi Yahya Sebut Calon Wali Kota Gagal Provokatornya

Mahasiswa Gelar Demo, Suaidi Yahya Sebut Calon Wali Kota Gagal Provokatornya
Ilustrasi. Foto: Net

LHOKSEUMAWE - Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya menyebutkan Sofyan merupakan provokator yang mempengaruhi mahasiswa untuk melakukan demo terhadap pemerintah.

Ucapan yang dianggap candaan dan disambut tawa oleh peserta itu disampaikan saat Rapat Koordinasi Forkompinda Kota Lhokseumawe, Rabu, sekira pukul 15.00 WIB, lantai III Kantor Wali Kota Lhokseumawe.

“Sofyan hitam provokatornya, calon wali kota gagal dan mempengaruhi mahasiswa serta warga untuk melakukan demo pemerintah,” kata Suaidi, sambil menyindir aksi demo yang dilakukan mahasiswa kala itu.

Menurut Suaidi, demo itu dilakukan mahasiswa karena dipengaruhi oleh Sofyan, sehingga mereka membela pedagang yang membangun lapak liar, dan itu jelas salah. Selain itu, mereka juga melaporkan masalah penertiban pasar itu sampai ke Ombudsman RI dan Komnas HAM.

“Kami akan bertindak tegas melalui Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi untuk menertibkan seluruh pasar. untuk memperlancar tugas itu berjalan dan tanpa hambatan, pihaknya dibantu petugas Satpol-PP bekerjasama dengan Polres Lhokseumawe dan Kodim 0103 Aceh Utara,” ungkapnya.

Menanggapi pernyataan wali kota, Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR) Lhokseumawe meminta Suaidi Yahya, jangan mencari kambing hitam atas ketidak becusannya dalam menyelesaikan permasalahan di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe.

“Suaidi Yahya mengeluarkan statement bahwasanya mahasiswa membela pelanggar penertiban pasar. Dalam hal ini SMUR Lhokseumawe mengatakan bahwa Suaidi Yahya jangan mencari kambing hitam atas ketidakmampuannya dalam mengelola Pasar Inpres Lhokseumawe,” ungkap anggota SMUR Lhokseumawe, Dedi Ismatullah.

Sambungnya, sebelumnya telah terjadi penggusuran yang tidak didahului dengan surat pemberitahuan dan sosialisasi untuk penertiban pasar, ini jelas sudah melanggar administrasi.

Kemudian tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu tentang penggusuran dan relokasi tempat yang baru untuk berjualan, bagaimana bisa wali kota malah membenarkan penggusuran yang dilakukan secara tidak berprikemanusiaan tersebut.

Seharusnya Pemko Lhokseumawe harus lebih dulu memberikan surat edaran tentang adanya penggusuran, lalu kemudian melakukan sosialisasi kepada pedagang dan memberitahukan tentang relokasi tempat yang baru, bukan asal gusur melainkan adanya proses administrasi yang harus dilewati, atau jangan-jangan relokasi tempat itu hanya bualan semu semata.

“Dan juga terkait permasalahan uang retribusi yang tidak masuk dalam kas negara sudah di laporkan ke pihak kepolisian, katanya hal ini sedang diproses oleh pihak kepolisian, namun sampai saat ini belum ada kejelasan, bagaimana ini bisa terjadi? Padahal ini merupakan indikasi korupsi yang sudah sewajarnya diberantas,” cetusnya.

Menurutnya, hal ini justru tercermin sikap premanisme dalam Pemko Lhokseumawe, karena sebelumnya para pedagang pun sudah pernah mendatangi dinas terkait untuk mengeluhkan nasibnya, namun tak ada hasil, maka dari itu para pedagang dan mahasiswa akhirnya melakukan aksi demonstrasi, itu sudah hal yang wajar dalam menyuarakan aspirasi.

“Jadi Suaidi Yahya jangan mencari kambing hitam atas ketidakmampuannya untuk menyelesaikan permasalahan, lalu membenarkan penggusuran yang tidak berprikemanusiaan tersebut sampai mengeluarkan kata kata body shaming,” jelasnya.

Untuk itu, ia meminta wali kota harus mencerminkan perilaku yang baik, jangan ketika sudah mendapatkan surat dari Ombudsman malah kocar kacir mencari tumbal, seharusnya bercermin atas ketidakmampuan tersebut.

Komentar

Loading...