Unduh Aplikasi

Mahasiswa Demo Polres Aceh Barat Desak Kasus Salah Suntik Diusut Tuntas

Mahasiswa Demo Polres Aceh Barat Desak Kasus Salah Suntik Diusut Tuntas
Unjuk rasa mahasiswa di Polres Aceh Barat

ACEH BARAT - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) Aceh Barat berunjuk rasa di Markas Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat. Dalam aksi mahasiswa mendesak Kepolisian setempat mengusut tuntas kasus dugaan salah suntik.

Menurut mahasiswa yang tergabung dalam SMUR itu, pengusutan kasus dugaan salah suntik yang menjerat EW (29) dan DA (23) selaku tenaga honorer di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSUCND) Meulaboh mencedrai keadilan, karena hanya menyeret dua tenaga honorer tersebut.

Koordinator aksi, Masykur Nyak Dijurong mengatakan dari hasil penelusuran yang dilakukan mereka selama ini, Polisi hanya mengusut kasus yang menimpa Alfareza (11) warga Pante Ceurmen, Kabupaten Aceh Barat sedangkan yang menimpa Asrul Amilin (15) warga Desa Pasi Teubee, Kecamatan Teuno Aceh Jaya tidak diusut.

Baca: Kasus Salah Suntik di Aceh Barat, Elemen Sipil: Ada Fakta Yang Ditutupi

"Dalam kasus ini sebenarnya ada pihak lain yang harusnya jadi tersangka, dia seorang dokter yang masih praktik dirumah sakit itu. Tapi nggak dipanggil dan diperiksa," kata Masykur kepada wartawan, (24/7) usai aksi unjuk rasa.

Dikatakan Masykur, dokter yang diduga terlibat itu selama bertugas di RSUCND Meulaboh, sama seperti dua tenaga honorer yang kini berstatus tersangka. Dokter itu juga belum memiliki Sertifikat Tanda Regrestasi (STR) yang menjadi syarat standar dalam pelayanan kesehatan.

Saat ditanya siapa dokter yang dimaksud, Masykur mengatakan Polisi yang berhak membongkar siapa dokter tersebut, untuk mengetahui siapa dokter itu kata dia maka Polisi harus serius mengusut kasus yang telah dilimpahkan ke pengadilan dua hari lalu itu.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan para mahasiswa tersebut berlangsung lebih dari satu jam. Dalam aksi itu mahasiswa meminta Kepala Polres Aceh Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi Raden Bobby Aria Prakasa, untuk keluar menjumpai mereka dan menjelaskan ke publik terkait kasus tersebut secara langsung.

Dalam aksi itu, para mahasiswa menolak untuk melakukan pertemuan di dalam ruangan, meski Kapolres mengajak bertemu dalam Kantor Polres setempat.

Kecewa dengan Kapolres yang tidak menjumpai mereka, akhirnya para mahasiswa itu membubarkan diri, dan mengancam akan membawa massa dengan jumlah lebih banyak.

Iklan Kriyad

Komentar

Loading...