Unduh Aplikasi

Mahasiswa Aceh Utara di Cina Ingin Segera Keluar dari Zona Merah

Mahasiswa Aceh Utara di Cina Ingin Segera Keluar dari Zona Merah
Alfi Rian. Foto: For AJNN

LHOKSEUMAWE - Penyebaran virus corona di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina terus menelan korban jiwa. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mendalam pada diri mahasiswa yang saat ini masih terjebak di kota itu.

Mahasiswa asal Krueng Manee, Kabupaten Aceh Utara, Alfi Rian kepada AJNN menceritakan, sejauh ini mereka masih terjebak di asrama tempat mereka tinggal. Sementara kondisi mahasiswa yang masih melanjutkan kuliah pascasarjana di negara Cina itu dapat dilihat dari dua sisi.

"Terkait wabah virus membuat kami mahasiswa disini semakin was-was, karena belum ada upaya untuk mengeluarkan kami dari zona merah ini,” kata mahasiswa pascasarjana di Wuhan University of Technology (WUT), Minggu (26/1).

Terkait dengan bertahan hidup, sambung Alfi, saat ini mereka masih hidup di ruangan asrama. Jika logistik sudah habis, mereka keluar dari asrama untuk membeli makanan di market kampus, namun jadwal bukanya dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB.

“Kaami mengurangi keluar asrama, karena korban kasus ini makin tinggi, sudah menelan 2000 orang dan meninggal 50 lebih hingga siang tadi,” ujar Alfi.

Dua hari yang lalu, kata Alfi, Dinas Sosial Provinsi Aceh sudah menghubungi mereka dan menanyakan kondisi di Wuhan. Setelah itu, hari ini Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah juga ada menghubungi langsung.

"Tadi pak Nova juga ada menghubungi, katanya kami mahasiswa yang masih di Wuhan, akan terus ditangani dan diawasi oleh Pemerintah Aceh. Kami juga mendapatkan kabar kalau sudah dibuka dua posko,” jelas Alfi.

Baca: Mahasiswa Tunggu Kepastian KBRI untuk Pemindahan Sementara dari Provinsi Hube

Ia juga menyebutkan, saat dihubungi oleh Plt Gubernur, juga mengatakan akan mencari cara dan solusi terkait keberadaan mahasiswa di sana. Namun, sembari menunggu hal itu, Pemerintah Aceh akan membantu logistic terlebih dulu.

“Tadi Plt Gubernur juga ada mengirimkan uang Rp50 juta, dan uang itu sudah kami bagi rata untuk mahasiswa yang masih bertahan di Wuhan, guna membeli kebutuhan logistic,” ujarnya.

Pemerintah Aceh, sambung Alfi, juga sudah membuat grup WhatsApp, agar mudah mengetahui kondisi mahasiswa Aceh di Wuhan, dan memudahkan jalin komunikasi.

"Selama virus corona merebak, kami disini air minum harus beli yang kemasan, tidak diizinkan lagi menggunakan keran dan air galon untuk dikonsumsi. Bahkan, air galon yang sempat kami beli langsung ditarik kembali,” ucapnya.

Dirinya mengaku, semua mahasiswa disana saat ini sangat khawatir, namun tetap berusaha tenang. Karena, semua pihak sedang berkoordinasi untuk mencari solusi yang bagus untuk mereka.

"Sejauh ini, kami juga selalu melakukan komunikasi dengan keluarga di Aceh. Dan menyebutkan kalau kami masih sehat dan jangan terlalu panik. Selain itu kami juga meminta keluarga agar jangan membaca media yang beritanya terlalu ekstrim," sebutnya.

Alfi dan mahasiswa lainnya sangat berharap, agar semua upaya Pemerintah untuk mengeluarkan mereka dari Wuhan dapat segera terwujud. Jika hal tersebut juga masih berlangsung lama, mereka membutuhkan support dari segi logistik dari Pemerintah Aceh.

"Saat ini logistik Alhamdulillah masih mencukupi hingga beberapa hari ke depan,” tuturnya.

Komentar

Loading...