Unduh Aplikasi

Mabrur...Mabrur...

Mabrur...Mabrur...
ilustrasi.

PAGI ini, sesudah wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah, para jamaah haji bergerak menuju Mina. Setelah menguras tenaga dan emosi di Afarah, bermalam di Muzdalifah adalah saat-saat jamaah haji beristirahat untuk menuju rangkaian wajib haji di Mina, melontar jumrah.

Melontar jumrah adalah wajib haji. Ini harus dipahami sebagai ketaatan; memenuhi perintah Allah SWT. Jamaah haji yang kurang sehat, misalnya, dapat menggantinya dengan membayar denda (dam) atau mewakilkannya kepada orang lain.

Di Mina, para jamaah akan melontar di tiga tempat: Ula, Wustha, dan Aqabah. 

Semua itu dilaksanakan untuk mencapai predikat mabrur. Walaupun ada sedikit jamaah yang hanya ingin dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”.

Asal kata mabrur adalah birr. Artinya kebaikan. Dalam Bahasa Arab, ada empat jenis kebaikan lain, yakni khair, makruf, ihsan, dan saleh. Semua memiliki makna dan konteks berbeda.

Khair adalah kebaikan yang bersifat anjuran dan universal. Yang dilakukan orang dalam hal khair adalah menganjurkan orang lain melaksanakan khair (kebaikan).

Sedangkan Makruf adalah kebaikan yang menjadi aturan, sehingga diwujudkan, dibakukan, dan ditegaskan dalam bentuk peraturan, regulasi, undang-undang, dan lain-lain. Makruf adalah perintah berbuat kebaikan.

Berbeda dengan ihsan. Ini adalah kata yang berarti kebaikan yang baik dikerjakan, tapi bukan kewajiban. Menolong orang lain membayarkan utang mereka adalah ihsan. Sedangkan saleh adalah kebaikan yang terbukti dapat diterapkan dengan baik. Walau terkadang, berulang kali naik haji tak bisa dianggap sebagai sebuah kesalehan, apalagi di saat orang-orang di sekitarnya masih hidup susah.

Kata-kata inilah yang menjadi dasar seorang muslim dan mukmin. Muslim adalah orang yang perkataan dan perbuatannya membuat orang lain aman. Sementara mukmin adalah orang keberadaannya membuat harta, nyawa, dan kehormatan orang lain terjaga.

Selamat beridul Adha.  

Komentar

Loading...