INTERMEZO

Lupa

Lupa
Ilustrasi: LP

TIBA-tiba saja kita terbangun dalam keadaan lupa. Tak ada ingatan tentang bagaimana negara ini harus berjalan. Tak teringat janji-janji yang diucapkan para pemimpin tentang kesejahteraa, rumah duafa, pemberantasan penangguran. Semua seperti tak pernah terucap.

Syukur sekali Allah memberikan nikmat lupa. Sehingga kita juga tak terlalu bersemangat untuk menagih janji-janji itu karena tak tahu harus menuntut pada siapa. Tak perlu marah atau membenci hanya karena terus disuguhi omong kosong kesejahteraan. 

Di tengah ketidakmampuan kita untuk mengingat, maka sudah selayaknya konstitusi juga diubah atau dihapus. Toh konstitusi itu juga tidak ada harganya. Kita mungkin pernah punya konstitusi, tapi dalam kehidupan bernegara, keberadaannya seperti ketiadaannya. Konon lagi sekadar Undang-Undang Pemerintah Aceh.

Lantas, untuk urusan ini, para penguasa cukup duduk bersama menentukan masa jabatan. Presiden, gubernur, bupati dan wali kota, tidak perlu repot-repot dipilih lewat pemilihan umum. Cukup rembuk bersama di antara mereka untuk menentukan siapa yang berkuasa dalam satu periode. 

Kalau memang dirasa cocok, maka masa kekuasaan itu dapat diperpanjang. Lagi pula negara kita menganut Pancasila yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Jadi, tidak perlu pembatasan dua periode. Tiga, empat atau lima periode juga tidak masalah. 

Pembatasan-pembatasan jabatan, pemisahan kekuasaan antara eksekutif dan legislatif, atau aturan-aturan lain yang seakan-akan fair juga harus segera dihilangkan. Penyelenggara kekuasaan cukup menanyakan apa rencana rakyat lewat survei massal lewat sms atau panggilan telepon, setiap hari. 

Baca Selanjutnya...
Halaman 12
Editor:

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini