Unduh Aplikasi

Lupa Hutan Usai Hujan

Lupa Hutan Usai Hujan
Ilustrasi: istockphoto

BUPATI Aceh Besar, Mawardi Ali, melihat langsung betapa buruknya dampak pembalakan kayu serampangan di kawasan Darul Imarah, di Aceh Besar. Tak ada lagi air bersih yang mengisi kolam Mata Ie yang menjadi salah satu penyuplai air bersih.

Tentu Mawardi juga tak asal bicara saat menyebut pembalakan liar berlangsung terus menerus di Seulimum, Jantho, Lamteuba, Lhoong dan Leupung. Sebagai kepala daerah, dia tentu mendapatkan informasi, langsung atau tidak langsung, terkait dengan aksi pencurian kayu yang sangat merusak fungsi hutan sebagai penampung air.

Tapi hendaknya Mawardy berupaya lebih keras untuk melindungi hutan-hutan di Aceh Besar. Upaya perlindungan hutan tidak cukup hanya dengan meminta kepolisian, baik di tingkat daerah maupun provinsi, untuk menindak para pelaku pembalakan.

Mawardy harus juga menggandeng Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda untuk memberantas hal ini. Karena banyak pembalakan liar yang melibatkan oknum Tentara Nasional Indonesia. Mereka tidak hanya membekingi aksi pembalakan di hutan, namun juga membantu penjualannya secara langsung ke masyarakat.

Saat ini, hutan di pesisir selatan dan bagian tengah Aceh Besar menjadi lahan basah. Karena hanya di daerah ini tersisa kayu-kayu berkualitas dengan harga jual yang tinggi. Setiap hari, kayu-kayu ini diangkut dari pinggiran hutan dan dibawa ke panglong-panglong kayu yang tersebar di Aceh Besar dan Banda Aceh.

Memberantas pembalakan liar memang bukan tugas yang mudah. Apalagi ini melibatkan banyak “perut”. Karenanya, perlu pendekatan yang lebih tepat agar para pembalak dan cukong mereka tak lagi menjadi bagian dari perusakan hutan.

Jangan pula kegusaran tentang kerusakan hutan ini hanya muncul di saat kekeringan. Setelah hujan turun, kasus ini pun menghilang. Karena ancaman tidak hanya datang saat kekeringan melanda. Dampak kerusakan hutan juga mengancam saat hujan datang.

Realisasi APBK AJay

Komentar

Loading...