Unduh Aplikasi

Lima Komoditas Penyumbang Inflasi di Lhokseumawe

Lima Komoditas Penyumbang Inflasi di Lhokseumawe
Ilustrasi. Foto: Net

LHOKSEUMAWE – Sebanyak lima komoditas andil sebagai penyumbang inflasi di Kota Lhokseumawe pada Agustus 2020 lalu. Lima komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi terbesar di Kota Lhokseumawe adalah ikan tongkol (andil: 0,22%), emas perhiasan (0,17%), minyak goreng (0,08%), udang basah (0,05%), dan pisang (0,03%).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Lhokseumawe, Yukon Afrinaldo mengatakan, bulan Agustus 2020 tercatat mengalami inflasi atau peningkatan harga barang dan jasa secara umum sebesar 0,30% (month to month / mtm). Inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan Juli 2020 yang mengalami deflasi sebesar (-)0,35% (mtm).

“Inflasi Kota Lhokseumawe pada bulan Agustus 2020 menjadi yang paling rendah dibandingkan dua kota lainnya yang menjadi perhitungan inflasi di Provinsi Aceh yaitu Kota Banda Aceh sebesar 0,44% (mtm) dan Meulaboh sebesar 0,88% (mtm),” kata Yukon, Jumat (4/9).

Secara keseluruhan, kata Yukon, Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,46% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar (-)0,31% (mtm). Secara nasional, pada bulan Agustus 2020 terjadi deflasi sebesar (-)0,05% (mtm).

Berdasarkan perkembangan tersebut maka inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada Agustus 2020 mencapai 1,03% (year on year/yoy) atau berada di bawah kisaran sasaran inflasi Pemerintah sebesar 3,0% ±1% (yoy).

“Inflasi di Kota Lhokseumawe pada bulan Agustus 2020 terutama bersumber dari peningkatan harga pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil 0,17% dan kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,14%,” ujarnya.

Menurut Yukon, peningkatan harga pada bulan Agustus 2020 terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan ikan laut karena nelayan tidak melaut di sekitar periode Idul Adha dan gelombang laut yang cenderung tinggi, harga emas perhiasan yang meningkat mengikuti harga emas dunia, serta permintaan minyak goreng yang tetap tinggi.

“Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras (andil: -0,15%), jeruk nipis (-0,05%), bawang merah (-0,04%), ikan kembung (-0,03%) dan ikan bandeng (-0,03%),” jelasnya.

Penurunan harga dipengaruhi oleh daging ayam ras yang berlanjut menurun dari bulan sebelumnya seiring pasokan yang bertambah serta pasokan bawang merah yang meningkat dari sentra produksi.

“Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam Forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah untuk pencapaian inflasi yang rendah dan stabil,” imbuhnya.

Komentar

Loading...