Unduh Aplikasi

Lidah Hitam Suaidi Putih

Lidah Hitam Suaidi Putih
Ilustrasi: cliptart

SEBAGAI pejabat publik, Suaidi Yahya harus bisa menahan diri. Terutama untuk tidak mengumpat orang karena warna kulit. Mungkin kulit Suaidi lebih putih karena tidak perlu berpanas-panasan seperti banyak warga Lhokseumawe.

Sebagai pejabat publik, seorang wali kota, Suaidi juga tak perlu melontarkan tuduhan kepada orang lain serampangan. Dia harus mempertimbangkan bahwa efek setiap kata yang diucapkan itu bisa membakar emosi dan memperkeruh suasana.

Suaidi menyebut Sofyan sebagai provokator yang mempengaruhi mahasiswa untuk berdemonstrasi terhadap pemerintah. Ucapan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Forkompinda Kota Lhokseumawe, Rabu lalu. Dia juga menyebut Sofyan sebagai calon wali kota gagal.

Suaidi mengabaikan fakta kecurangan yang selama ini terjadi di Pasar Kota Lhokseumawe. Dia malah menyebut "Sofyan Hitam" mempengaruhi mahasiswa dan warga untuk membela pedagang yang membangun lapak liar.

Sebagai seorang pemimpin, Suaidi perlu memahami bahwa demonstrasi menentang itu berawal dari langkah pemerintah kota menggusur pedagang tanpa pemberitahuan. Apalagi selama ini, para pedagang membayar sejumlah retribusi kepada aparat pemerintah.

Para pedagang dan mahasiswa pernah menanyakan kepastian nasib mereka. Namun pemerintah, lagi-lagi, abai. Menganggap remeh urusan “periuk” ini dan memutuskan untuk menggusur alih-alih bermusyawarah. Dia juga dinilai mencari kambing hitam atas kegagalan mengurusi pasar kota itu.

Tentu langkah ini akan terus mendapat perlawanan. Siapapun yang memimpin, sepanjang dilakukan dengan cara tak adil, akan mendapatkan perlawanan. Itu yang dijanjikan oleh mahasiswa, warga dan pedagang, kepada Suaidi. 

Komentar

Loading...