Unduh Aplikasi

LembAHtari Laporkan Perusakan Hutan ke Polda Aceh

LembAHtari Laporkan Perusakan Hutan ke Polda Aceh
Direktur LembAHtari, Sayed Zainal memperlihatkan tanggul yang dibuat untuk menutupi masuknya air ke hutan bakau. Foto: For AJNN.

ACEH TAMIANG - Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari) melaporkan perusakan dan pengalihan fungsi hutan bakau di kawasan Kampung Kuala Peunaga, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang ke Polda Aceh.

Laporan dilayangkan melalui surat nomor 101/L/LSM -LT/VII/20 yang dikirim langsung ke Polda Aceh, Selasa 7 Juli 2020.

Direktur LembAHtari, Sayed Zainal kepada AJNN mengatakan, laporan perusakan hutan ke Polda dilakukan karena ia menilai pihak KPH Wilayah III tidak serius menangani pencegahan kerusakan hutan di Kabupaten Aceh Tamiang.

Padahal, kata Sayed Zainal, pihak KPH Wilayah III sudah mengetahui ada aktivitas upaya alih fungsi hutan bakau di Kampung Kuala Peunaga. 

"Karena pada tanggal 20 Juni 2020 lalu pihak KPH Wilayah III bersama kami (LembAHtari) telah datang kelokasi dan menemukan satu unit eskavator tanpa tuannya, sehingga dinamo start eskavator disita," kata Sayed.

Baca : Beko Tak Bertuan Ditemukan di Aceh Tamiang, Diduga Sedang Merambah Hutan Produksi

Ironinya, kata Sayed, saat pihaknya dari LembAHtari pada tanggal 2 Juli 2020 kemarin datang kembali ke lokasi ditemukan eskavator, pihaknya melihat eskavator tersebut sudah tidak ada lagi disana.

Dan parahnya lagi, kata Sayed, jangankan dipanggil untuk diminta keterangan tentang temuan perambahan hutan tersebut, diberitahukan tindak lanjut saja tidak ada oleh pihak KPH Wilayah III kepada pihak LembAHtari. Padahal waktu itu sama-sama ada dilapangan.

Menurut Sayed, ketidakseriusan pihak KPH Wilayah III mencegah perambahan hutan juga terlihat dari tidak ada dipasanganya papan peringatan seperti tertulis "dilarang merambah hutan" disekitar lokasi tersebut.

"Menurut saya oknum-oknum yang bertugas di KPH Wilayah III diduga tidak serius menjalankan tugas dalam rangka pencegahan, pemberantasan dan perusakan hutan. Dasar itu saya buat laporan ke Polda," sebut Sayed.

Menurut Sayed, luas hutan bakau yang sudah dirambah sudah sepanjang daerah aliran sungai (DAS) atau sekitar 800 meter lebih, karena di aliran sungai sudah dibuat tanggul untuk menutupi air masuk ke hutan bakau. Progresnya baru sebatas buat tanggul.

"Dengan dibangun tanggul airnya kan jadi kering dihutan bakau, disitulah nantinya dibuat perkebunan, apakah itu ditanami kelapa sawit atau lainnya. Namun tujuannya tetap untuk mengalihkan fungsi hutan bakau," tutur Sayed.

Seharusnya, kata Sayed, pihak KPH Wilayah III membuka kembali tanggul yang sudah dibuat oleh orang tak bertanggung jawab itu, sehingga air bisa masuk kembali ke hutan bakau dan hutannya tetap subur.

"Kita berharap pihak kepolisian dari Polda Aceh mengusut tuntas pengalihan hutan bakau tersebut, sehingga diketahui siapa aktor pelakunya, karena hutan bakau sekitar daerah itu sudah sangat kritis dan dikhawatrikan akan kembali terjadi abrasi didaerah itu," ungkap Sayed Zainal.

Komentar

Loading...