Unduh Aplikasi

Lembaga Dunia Berdagang Manusia

Lembaga Dunia Berdagang Manusia
Ilustrasi: LawSpring.

ACEH sepertinya menjadi cara tepat bagi para pengungsi asal Rohingya untuk mencari kehidupan baru. Bahkan kuat dugaan bahwa kedatangan para pengungsi Rohingya ke Aceh adalah cara untuk memuluskan proses perpindahan mereka dari Cox’s Bazar, Bangladesh ke negara-negara lain, terutama Malaysia. 

Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Iza Fadri, memastikan bahwa gelombang manusia perahu yang akan datang ke Aceh belum akan berakhir. Mengingat kondisi di penampungan itu sangat sempit. Sebagian besar mereka berusaha mencari kehidupan yang layak. Salah satu cara adalah menggunakan perahu menuju Aceh. 

Dari Aceh, mereka menyebar. Saat ini, tercatat lima imigran Rohingya kabur dari Balai Latihan Kerja (BLK) Meunasah Mee. Bahkan aparat Kodim 0103 Aceh Utara berhasil menangkap seorang wanita Rohingya yang bekerja sebagai tukang gosok pakaian di Medan. Perempuan ini bertugas untuk mengambil perempuan Rohingya yang ada di kamp penampungan yang disediakan oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe. 

Dalam kondisi ini, Komisi Internasioan untuk Pengungsi (UNHCR) juga seperti lepas tangan. Sebagai pengungsi, mereka tidak berstatus tahanan. Namun status ini malah dimanfaatkan sebagian mereka untuk kabur. Apalagi, akses komunikasi dengan rekan mereka di luar kamp, bahkan hingga keluar negeri, tidak terbatas. 

UNHCR yang menjadi penanggung jawab masalah ini malah tidak bertindak. Hingga saat ini tidak jelas tindakan mereka dalam menangani warga negara asing ini. Seharusnya, dengan dana besar yang mereka terima sebagai lembaga Persatuan Bangsa-Bangsa, UNHCR bertindak cepat dalam mengatasi kaburnya para pengungsi Rohingya dari kamp penampungan. 

Bagi masyarakat Aceh, penderitaan orang-orang yang menjadi korban konflik di Myanmar, adalah tanggung jawab moral untuk membantu. Tak heran jika masyarakat menolong manusia perahu yang bergerak dari Cox’s Bazar, Bangladesh, itu saat terapung-apung di perairan Aceh. Menjadi korban konflik adalah penderitaan. Penderitaan itulah yang juga dirasakan oleh masyarakat Aceh. 

Namun hal ini hendaknya tidak dimanfaatkan oleh UNHCR untuk cuci tangan. Membiarkan para pengungsi ini hilang, satu per satu, adalah cara yang teramat buruk dalam menangani para pengungsi. Karena bukan tidak mungkin mereka menjadi korban perdagangan manusia dan menyeret kehidupan mereka ke dalam kondisi yang lebih memprihatinkan, menjadi budak, menjadi korban penjualan organ tubuh atau bahkan pelacur. 

Dan saat hal ini terjadi, dan UNHCR tidak bekerja serius memastikan keberadaan para pengungsi Rohingya di Aceh, lembaga boleh dicap sebagai lembaga yang melegalkan perdagangan manusia. 

Komentar

Loading...